Tafsir Surah Al-Hujurat Ayat 12; Menjauhi Prasangka Buruk Terhadap Sesama

0
27

BincangSyriah.Com – Surah Al-Hujurat Ayat 12 mengandung makna tentang larangan memanggil seseorang dengan panggilan yang buruk. Sebab, panggilan tersebut bisa jadi tidak memiliki dasar yang benar.

Oleh sebab itu, Qur’an Surat Al-Hujurat Ayat 12 menyatakan sebagai berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

ayyuhallażīna āmanujtanibụ kaṡīram minaẓ-ẓanni inna ba’ḍaẓ-ẓanni iṡmuw wa lā tajassasụ wa lā yagtab ba’ḍukum ba’ḍā, a yuḥibbu aḥadukum ay ya`kula laḥma akhīhi maitan fa karihtumụh, wattaqullāh, innallāha tawwābur raḥīm

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari dugaan, sesungguhnya sebagian dugaan adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain serta jangan sebagian kamu menggunjing sebagian lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka kamu telah jijik kepadanya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Hujurat Ayat 12)

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an (2017) mencatat bahwa maksud mejauhi prasangka buruk dalam Surat Al-Hujurat Ayat 12 adalah bentuk prasangka buruk terhadap manusia yang tidak memiliki indikator memadai sebab sesungguhnya sebagian dari dugaan tersebut adalah dosa.

Tak jarang sebuah prasangka buruk akan mengundang upaya untuk mencari tahu, maka Surah Al-Hujurat Ayat 12 ini menyatakan “dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” yang justru ditutupi oleh pelakunya dan jangan membicarakan aib satu sama lain.

Bentuk konkret dari menjauhi prasangka terhadap sesama dalam ayat ini adalah menghindari pergunjingan sebab dalam ayat ini telah dinyatakan bahwa bergujing sama halnya dengan memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal dunia.

Baca Juga :  Maksud Hadis Jagalah Allah, Allah Akan Menjagamu

Quraish Shihab melanjutkan catatannya, dalam ayat ini telah dijelaskan bahwa sebagian dugaan adalah dosa. Dugaan yang dimaksud yakni dugaan yang tidak berdasar. Dugaan yang tidak berdasar tersebut biasanya mengakibatkan dosa dan dugaan buruk terhadap sesame.

Dalam Surah Al-Hujurat ayat 12 juga tercantum makna tentang pelarangan melakukan dugaan buruk tanpa dasar sebab akan menjerumuskan seseorang ke dalam dosa. Apabila seorang manusia menghindari prasangka buruk, maka hidupnya akan menjadi tenang.

Ayat ini mengukuhkan prinsip bahwa tersangka atau orang yang mendapatkan dugaan buruk atau prasangka buruk dari orang lain belum dinyatakan bersalah sebelum terbukti kebenaran tentang dugaan yang dihadapkan kepadanya.

Rasulullah Saw. bersabda: “Jika kamu menduga (yakni terlintas dalam benak kamu sesuatu yang buruk terhadap orang lain) maka jangan lanjutkan dugaanmu dengan melangkah lebih jauh.” (H.R. ath-Thabarani).

Dari ayat 11 dan 12 Surah Al-Hujurat menguraikan tentang penekanan ishlah pada persaudaraan antara sesama Muslim dan mengandung makna agar menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan kesalahpahaman.

Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Seorang Muslim adalah yang menyelamatkan kaum Muslimin dari lidah dan tangannya.” Qurasih Shihab menerangkan bahwa maksud dari menyelamatkan lidah dan tangan adalah selalu menghindarkan orang lain dari gangguan yang ditimbulkan oleh ucapan dan perbuatan.

Langkah pertama yang dilakukan bukanlah memberi sesuatu yang bermanfaat terlebih dahulu akan tetapi yang lebih penting justru menghindari terjadinya sesuatu yang negatif terhadap orang lain.

Menurut Quraish Shihab, inilah yang dinamakan sebagai as-salam as-salbi atau damai pasif. Setelah itu, barulah kita bisa meningkat ke as-salam al-ijabi atau damai positif yakni dengan memberi sesuatu. Damai positif tersebut akan meningkat dan mencapai puncaknya dengan ihsan.

Damai pasif adalah batasan antara keharmonisan atau kedekatan dan perpisahan serta batas rahmat dan siksaan. Sebagai seorang Muslim, kita mesti menyandang sifat damai dan memberi manfaat pada sesama serta tidak saling mencelakakan.[] (Baca: Tafsir Surah al-Hujurat: 11; Kezaliman terhadap Orang Lain Awalnya dari Sifat Merendahkan)

Baca Juga :  Agar Hijrah Tetap Istiqamah Menurut Quraish Shihab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here