Tafsir Surah al-Hujurat: 11; Kezaliman terhadap Orang Lain Awalnya dari Sifat Merendahkan

0
272

BincangSyariah.Com – Persaudaraan nilainya jauh lebih penting dari kepentingan itu sendiri. Perbedaan suku, agama, budaya, politik, dan lain sebagainya jangan sampai meniadakan rasa persaudaraan. Persaudaraan sebangsa atau setanah air dapat mencover beberapa perbedaan tersebut. Merah-putih menjadi pemersatu keberagamaan. Sungguh amat terpuji ungkapan “cinta tanah air merupakan bagian dari iman.”

Rasa persaudaraan ini bisa tetap solid ketika semua elemen masyarakat dan pemerintah bersinergi merawat dan menjaganya. Persaudaraan ini merupakan penopang persatuan dari berbagai macam suku, ras, agama, golongan, politik, dan lain sebagainya. Bahu-membahu menjaga keutuhan NKRI lewat saling menghargai perbedaan yang ada.

Menjahui sifat saling cemooh, saling klaim lebih baik, saling mencari-cari kesalahan orang lain harus diusahakan. Karena terkadang masalah yang besar timbul dari perkara kecil seperti halnya saling cemooh antar ormas atau golongan. Hal ini sudah diperingatkan oleh Allah Swt. dalam Qs. Al-Hujurat [49]: 11,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Setidaknya ada tiga hal penting yang dapat kita ambil dari ayat tersebut. Ketiga-tiganya berkaitan dengan larangan dari Allah Swt melakukan kezaliman terhadap orang lain.

Baca Juga :  Peran Perempuan dalam Pemberantasan Korupsi

Pertama adalah As-Sukhriyah, menghina atau merendahkan golongan lain. Yang dihina bukan hanya golongan, penghinaan terhadap pribadi orang lain juga termasuk as-sukhriyah. Penghinaan ini berangkat dari rasa takabbur, merasa lebih baik dari orang atau golongan lain. Allah Swt. melarang kita memiliki sifat tersebut. Baik laki-laki atau perempuan tidaklah dibenarkan bila merasa lebih baik dari orang lain. Lebih-lebih apabila sampai mendiskreditkan orang lain.

Dalam ayat tersebut Allah Swt. menyampaikan bahwa di sisi-Nya belum tentu yang merendahkan lebih baik daripada yang direndahkan. Karena manusia tidak bisa menembus ruang hati sesamanya. Mereka hanya bisa menilai lahiriyah seseorang. Padahal terkadang makhluk Allah Swt. yang dipandang hina oleh manusia, amat tinggi pangkatnya di sisi Allah Swt.

Jangan kira orang yang penampilannya seperti orang gila atau pengemis itu benar-benar gila atau tidak sempurna, karena bisa saja dia adalah waliyullah yang tidak ingin keberadaannya diketahui orang banyak.

Kesempurnaan materi atau fisik yang dimiliki jangan sampai menjadi alasan untuk menganggap hina orang lain walau terlihat kumuh dan tidak sempurna. Misal, karena mobilnya banyak, lantas ia acuh tak acuh terhadap pejalan kaki. Atau, misal karena anggota tubuhnya lengkap, lalu seenaknya menertawakan mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Karena sesungguhnya penilaian Allah Swt. tidaklah terletak pada fisik atau materi yang kita miliki, namun terletak seberapa jernih dan tulus hati manusia; takwa.

Begitu juga satu golongan tidaklah dibenarkan merasa lebih baik dari golongan yang lain, apalagi sampai merendahkan golongan yang lain. Mengaku paling benar, paling baik, dan paling berkontribusi untuk umat tidaklah perlu diperdebatkan. Karena sejatinya kekuatan dan kebenaran yang hakiki hanya milik Allah Swt.

Baca Juga :  Empat Hakikat Malu pada Allah

Kedua, Al-lamzu, membicarakan aib orang atau golongan lain. Ketika orang sudah merasa lebih baik dari yang lain, atau ketika sudah merendahkan orang lain, maka langkah selanjutnya yang biasa dilakukan adalah mengorek keburukan atau kekurangan mereka.

Artinya, larangan Allah Swt. yang pertama di atas, ketika tidak diindahkan, maka akan jatuh pada kemaksiatan yang kedua, yaitu ghibah. Kalau dalam hati sudah tertanam rasa takabbur, lalu tumbuh sifat sukhriyah, maka ia akan selalu mendapatkan orang atau golongan lain lebih buruk dari dirinya atau golongannya. Dapat dipastikan ia akan terus mencari-cari kesalahan orang lain sehingga dapat menguatkan asumsinya bahwa dirinya lebih baik dari mereka.

Kalau perlu ia akan mengadakan konferensi pers untuk membeberken aib orang atau golongan lain. Dengan bangga mereka akan mengatakan “Inilah wajah mereka yang sebenarnya. Jadi patutlah kami dilabeli sebagai golongan terbaik. Juga tidak salah kami mengecap mereka sebagai golongan terburuk. Catatan kelam mereka sudah kami kantongi.” Padahal terkadang aib orang yang biasa mencari-cari kesalahan orang atau golongan lain itu lebih banyak lagi.

Oleh karena itu, tidaklah penting membeberkan aib orang lain, apalagi hanya untuk mencari pembenaran atas asumsinya, atau apalagi hanya untuk menelanjangi mereka di depan umum sehingga menjadi tontonan banyak orang.

Ketiga, At-Tanabuz, menjuluki atau memanggil orang lain dengan panggilan yang tidak disukai. Terkadang kita memanggil orang lain dengan ciri fisik yang mencolok, atau perangai yang mendominasi, atau dengan lainnya. Memanggil atau memberi julukan orang lain tidak boleh sembarangan. Jangan sampai panggilan atau julukan (laqob) tersebut menyakiti atau menyinggung perasaan mereka.

Misal karena kulitnya hitam, lalu kita memanggil mereka dengan sebutan “aspal jalan atau panci gosong.” Atau karena makannya banyak lalu kita panggil dengan “Si Rakus”. “Grandong” karena buruk rupa. Atau karena perbedaan politik, lalu lahirlah panggilan cebong atau kampret.

Baca Juga :  Haramkah Menggunakan Alquran Warna-warni?

At-Tanabuz ini berangkat dari sifat al-lamzu. Adapun al-lamzu berangkat dari sifat as-sukhriyah. Ketiga-tiganya saling berkaitan. Orang yang terbiasa merendahkan orang lain, ia akan terjerumus pada al-lamzu. Secara lambat laun ia akan mencari-cari aib orang lain. Lalu, setelahnya ia akan menjuluki mereka dengan julukan yang tidak disenangi.

Dalam Tafsir al-Jalalayn (j. 2 h. 186) dijelaskan bahwa tiga hal tersebut termasuk al-fusuq, yakni kefasikan. Siapa saja yang tidak kunjung tobat dari yang demikian, maka Allah Swt. mencapnya sebagai bentuk kedholiman.

Oleh karena itu, sebaiknya kita hindari ketiga sifat tersebut. Segeralah bertobat jika saat ini sedang masuk kategori salah satunya, atau ketiga-tiganya. Allah Swt. adalah Dzat Pengampun dan Pemaaf. Wallahua’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here