Tafsir Surah al-Bayyinah 4-8: Balasan yang Jelas Bagi Orang Beriman dan Orang Kafir

0
1670

BincangSyariah.Com – Sejarah Islam mencatat bahwa Rasulullah diutus di antaranya untuk menyodorkan bukti yang diminta oleh Yahudi dan Nasrani (Ahli Kitab) serta kaum musyrik sebagai syarat atas keimanan mereka kepada Allah dan Nabi SAW. Kendatipun demikian, sebagian dari mereka seolah-olah tidak mau percaya dan lebih memilih langkah negasi. Tafsir surat al-Bayyinah ini mencoba menguraikan mengapa sekolompok kaum itu mengelak dan terpecah belah setelah datang kepada mereka bukti yang nyata.

Selalu terpecah belah karena iri dan dengki

Selain gemar bertanya, Ahli Kitab juga identik dengan karakter iri dan dengki. Iri dan dengki inilah yang menjadi faktor mengapa mereka selalu terpecah belah, bahkan jauh sejak Islam datang. Sewaktu Nabi Isa diutus demi menuruti permintaan Yahudi agar memantapkan hati mereka atas kebenaran Taurat, mereka sudah terpecah menjadi lima klan besar. Dan dari perpecahan ini muncullah Nasrani.

Mereka rupanya tidak puas dengan hadirnya Nabi Isa as, dan meminta agar Tuhan menurunkan bukti lagi. Namun akhirnya akhirnya mereka terpecah kembali setelah diutusnya Nabi dan diturunkannya Alquran. Padahal tuntunan yang diajarkan Nabi tidaklah sulit. Hanya menyembah Allah, berbuat baik kepada-Nya dan sesama makhluk dengan ikhlas. sebagaimana disebutkan surat al-Bayyinah: 4-5,

وما تفرق الذين أوتوا الكتاب إلا من بعد ما جاءتهم البينة ﴿٤

Dan tidaklah terpecah-pecah ahli kitab melainkan setelah datang kepada mereka bukti yang nyata. (4)

وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء ويقيمواالصلاة ويؤتوا الزكاة وذلك دين القيمة ﴿٥

Padahal, mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaatinya, semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar). (5)

Sikap keras kepala Ahli kitab ini timbul tidak lain karena mereka menyimpan rasa iri dan dengki. Sebagaimana yang dinarasikan Alquran dalam surat al-Jatsiyah ayat 16-17 dan yang termuat dalam Sirah Ibnu Hisyam bahawa Ahli kitab termakan oleh iri dan dengki sehingga terus mengelak saat dihadirkan bukti. Iri dan dengki ini muncul karena Nabi diutus bukan dari kalangan mereka, melainkan dari Bangsa Arab, yang nantinya bersekutu dengan suku ‘Aus dan Khazraj, sekutu Yahudi Madinah yang pada akhirnya melemahkan kekuatan mereka.

Baca Juga :  Bekal Utama Pencari Ilmu menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib

Begitupun dengan kaum musyrik. Menurut ‘Abduh, orang musyrik tersebut salah paham dengan agama hanif yang dianut Ibrahim, Nabi yang diutus untuk mereka. Mereka menganggap hanif itu dengan menyembah berhala sebagaimana yang dilakukan oleh moyangnya. Padahal yang dimaksud hanif ialah hanya menyembah Allah dengan penuh kepasrahan. Namun, setelah dapat tuntunan dari Nabi Ibrahim, mereka tetap mengelak dan lebih memilih tradisi moyangnya.

Balasan bagi Orang Kafir dan Orang Beriman

Setelah jelas bahwa orang kafir senantiasa terpecah belah karena iri dan dengki, surat ini diakhiri dengan ayat tentang balasan yang jelas bagi orang beriman dan orang kafir,

إن الذين كفروا من أهل الكتاب والمشركين في نار جهنم خالدين فيها أولئك هم شر البرية ﴿٦﴾ إن الذين آمنوا وعملوا الصالحات أولئك هم خير البرية ﴿٧﴾ جزاؤهم عند ربهم جنات عدن تجري من تحتها الأنهار خالدين فيها أبدا رضي الله عنهم ورضوا عنه ذلك لمن خشي ربه ﴿٨

Orang kafir, yakni ahli kitab dan musyrik akan mendapat azab neraka, dan dicap sebagai makhluk paling buruk (6) Sebaliknya, muara dari orang yang beriman lagi bertakwa adalah surga, dan menjadi makhluk yang paling baik (7) Sungguh, orang-orang kafir dari golongan ahli kitab dan orang-orang syirik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, mereka itu adalah sejahat-jahatnya makhluk. Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baiknya makhluk (8)

Menurut Wahbah Zuhaili, ayat 7 dan 8 ini menjelaskan tempat berpulang orang kafir dan beriman lagi beramal saleh di akhirat nanti. Orang kafir akan masuk neraka, kekal di dalamnya serta dicap sebagai makhluk paling buruk. Sebaliknya, orang beriman lagi bertakwa akan masuk surga, kekal didalamnya, mendapat rida Allah, serta dicap sebagai makhluk paling baik.

Baca Juga :  Hukum Menjaga Rumah Ibadah non-Muslim

Kondisi yang di alami oleh kaum kafir dalam surat al-Bayyinah seharusnya kita jadikan pelajaran, karena saat ini umat Islam juga sedang dalam masa suram. Disintegrasi lantaran fanatisme golongan dan perbedaan pandangan membuat mudah naik pitam. Padahal, perbedaan adalah ketentuan mutlak, harus disikapi dengan bijak. Tidak ada iri dan dengki di atara kita, agar tetap fokus membangun persatuan dan bersama mengikuti tuntunan Nabi dan Alquran.

Di samping itu, yang perlu ditekankan pula adalah bahwa tindakan kita harus didasari dengan keikhlasan dan kepasrahan kepada Allah, serta menjaga keseimbangan relasi dengan Allah dan relasi dengan sesama makhluk.  Dengan begitu kita akan mendapat derajat yang luhur, khairal bariyyah. Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here