Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 8: Ketika Allah Bicara tentang Orang Munafik

0
2816

BincangSyariah.Com – Sifat munafik, dalam sejarah Islam, muncul setelah masa hijrab Nabi dan para sahabat ke Madinah. Sifat tersebut merupakan sifat yang berbahaya dan Allah sangat membenci orang yang memiliki sifat munafik. Dalam al-Qur’an, dalam banyak kesempatan Allah menerangkan tentang ciri dan bahaya sifat menafik ini. Seperti dalam surah Al-Baqarah ayat 8 berikut:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. (QS. Al-Baqarah ayat 8 [1971])

Di antara manusia ada yang berkata, “Kami ber iman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukan lah orang­orang yang beriman. (QS. Al-Baqarah ayat 8 [2019])

Perbedaan kedua terjemahan Al-Qur’an Kemenag adalah pada yaumul akhir yang diterjemahkan sebagai ‘hari kemudian’ dan di edisi 2019 berubah menjadi ‘hari akhir’.

Para ulama ahli tafsir, di antaranya Mujahid lewat berbagai sumber periwayatan menyebutkan bahwa yang dimaksud dalam ayat ini tidak lain adalah orang-orang munafik, yang mana mereka mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir, namun Allah SWT menyatakan bahwa sebenarnya mereka tidak beriman.

Mujahid juga mengatakan bahwa ada 4 ayat di dalam surah Al-Baqarah yang bicara tentang orang-orang beriman, 2 ayat terkait dengan orang kafir dan 13 ayat terkait dengan orang munafik.

Dan ayat ini bicara tentang kelompok manusia yang ketiga, yaitu para munafiqin, setelah sebelumnya Allah SWT membicarakan kelompok pertama yaitu orang-orang yang beriman, lalu kelompok kedua adalah orang-orang kafir, maka yang ketiga ini adalah kelompok orang-orang munafiqin.

Allah secara agak panjang lebar membicarakan makar, kelicikan, kebusukan, kebisuan, ketulian mereka. Hal itu menunjukkan bahwa keberadaan orang-orang munafik ini jauh lebih berbahaya dan lebih memusingkan ketimbang orang yang kafir secara lahiriyah.

Bukan apa-apa, kalau menghadapi orang yang secara tegas memang bukan muslim, maka mudah bagi kita untuk memposisikan diri kita dan diri mereka. Sedangkan menghadapi orang munafiq ini agak sulit. Sebab secara lahiriyah mereka mengaku muslim, mengaku beriman kepada Allah dan hari akhirat, namun di dalam diri mereka ternyata mereka tidak beriman.

Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam tafsirnya menyebutkan bahwa sifat munafiqin ini tidak hanya terdapat dalam kisah kenabian saja, bahkan di sepanjang zaman kita akan menemukan sifat-sifat mereka. Karena kemunafikan adalah penyakit yang berbahaya, bagaikan ditohok dari belakang di tengah umat Islam.

Beliau juga menegaskan bahwa inti dari kemunafikan itu adalah dusta, sehingga Nabi SAW mewanti-wanti umatnya untuk tidak berdusta.

إِياَّكُمْ وَالكَذِبَ فَإِنَّ الكَذِبَ مُجَانِبٌ لِلإِيْمَانِ

Jauhilah oleh kamu berdusta, karena berdusta itu menjauhkan iman. (HR. Ahmad).

Penulis sendiri punya pengamatan yang agak berbeda tentang betapa memusingkannya masalah kemunafikan ini.

Benar sekali bahwa Allah SWT telah menganggap orang munafiq itu kafir, bahkan dalam beberapa ayat yang lain pun juga diulang-ulang pernyataan kekafirannya orang munafik. Juga ada ayat yang menegaskan bahwa orang munafik itu tempatnya di keraknya neraka.

Namun perkara ini kalau tidak dipahami dengan hati-hati dan cermat, juga bisa menimbulkan masalah baru yang jauh lebih besar di tengah umat Islam, yaitu saling tuding munafiq atau mencurigai sesama muslim sebagai munafiq. Padahal kalau dikaitkan bahwa munafiq itu kafir, sebenarnya sama saja dengan saling tuduh kafir, bahkan lebih parah dari sekedar menuduh kafir.

Masalahnya kita umumnya sebagai muslim pasti akan lebih berhati-hati untuk tidak menuduh sesama muslim sebagai kafir, karena ada hadits yang melarang dengan tegas. Tapi nampaknya saling menuduh munafiq itu tidak kita temukan larangannya, malah sebaliknya justru ayat-ayat Al-Quran seringkali menjatuhkan vonis kepada orang-orang tertentu sebagai munafik.

Bahkan ada hadits nabi yang shahih yang menegaskan ciri-ciri munafiq, yaitu :

آيَاتُ المـُناَفِقِ ثَلاَثٌ : إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا أْتُمِنَ خَانَ

Ciri-ciri munafik itu ada tiga : Kalau bicara dia dusta, kalau berjanji dia ingkar dan kalau dipercaya dia khianat. (HR. Bukhari)

Hadits ini amat masyhur hingga nyaris dihafal banyak orang. Tidak ada masalah dengan hadits ini dari sisi keshahihannya, apalagi termuat di dalam Shahih Bukhari.

Tapi yang jadi masalah adalah kesalahan dalam menggunakan hadits ini untuk saling menuduh saudaranya sebagai munafik, hanya karena saudaranya itu lupa bayar hutang misalnya, atau kurang amanah ketika diberi kepercayaan, atau agak sedikit kurang jujud dalam berkata-kata.

Namun dengan menggunakan hadits ini, karena sudah ada kebencian di dalam hati, maka habisnya saudaranya itu dituduh-tuduh sebagai orang munafik. Masih kurang dengan itu, tambah lagi pelurunya dengan menggunakan ayat Al-Quran, maka akhirnya saudaranya itu dituduh kafir pula, disumpahi masuk ke dalam keraknya neraka, dan tidak mau dishalatkan jenazahnya.

Seolah-olah dosanya itu disamakan dengan orang-orang munafik di zaman nabi di Madinah. Ayat-ayat tentang kemunafikan yang terdapat diseluruh Al-Quran kemudian dikait-kaitkan begitu saja. Semua itu dilakukan karena kebencian pribadi yang ada di dalam hati kepada saudaranya sesama muslim.

Maka jadilah ayat-ayat Al-Quran digunakan untuk menyerang sesama saudara muslim sendiri. Dan ayat-ayat yang paling sering untuk dijadikan senjata dan peluru yang ditembakkan kepada saudaranya sendiri adalah ayat-ayat tentang kemunafikan. Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here