Tafsir Surah al-Baqarah [2]: 17-20; Ilustrasi Orang Munafik

1
1316

BincangSyariah.Com – “Bermuka dua”, adalah diantara ilustrasi orang munafik yang tersohor di sekitar kita. Perumpaan seperti itu juga diberikan oleh Allah dalam Al-Qur’an dengan beberapa permisalan. Setelah menyebutkan bagaimana sifat maupun ciri dari orang munafik. Lalu surah Al-Baqarah [2]: 17-20, Allah memberikan dua permisalan atau perumpamaan bagi mereka yang menampakkan keimanan namun menyembunyikan kekafirannya.

Perumpamaan pertama adalah orang-orang munafik dalam ayat 17 dan 18 diibaratkan seperti orang yang menyalakan api, lalu setelah terang keadaan di sekelilingnya, Allah mematikan dan melenyapkan cahaya tersebut, sehingga keadaan berubah gelap gulita dan mereka tidak bisa melihat sekitarnya. Ulama berbeda pendapat tentang objek perumpamaan dalam ayat ini.

Pendapat pertama yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, mengatakan bahwa objek perumpamaan adalah kalimat pengakuan Islam yang mereka ucapkan, sedangkan cahayanya adalah ia akan memperoleh keselamatan jiwa dan harta seperti halnya orang-orang muslim lain. Lalu ketika mereka meninggal hilanglah kemuliaan ini sebagaimana orang yang menyalakan api lalu kehilangan cahayanya karena telah padam.

Adapun riwayat lain dari Mujahid menyatakan bahwa objek perumpamaan adalah penerimaan mereka terhadap ajaran yang dibawa Nabi saw. Sehingga mereka mendapat cahaya keimanan dalam hatinya. Lalu ketika di akhir hilanglah cahaya tersebut dan mereka kembali dalam kekafiran dan kesesatan.

Imam al-Thabrani menjelaskan lebih lanjut dalam tafsirnya al-Qur’an al-‘Azhim, perumpamaan orang munafik yang menampakkan keislamannya dan berpura-pura menjaga jiwa dan harta orang mukmin agar mereka juga diperlakukan sama, seperti seseorang yang terjebak di padang tandus di malam hari yang gelap gulita lalu ia menyalakan api untuk melindunginya dari serangan binatang buas, kemudian ketika api tersebut padam, maka ia kembali dalam keadaan gelap gulita.

Baca Juga :  Surah Al-Kahfi: 45: Perumpaan Alquran bahwa Dunia Seperti Air

Begitupun orang munafik yang merasa takut dan terancam terhadap Nabi Muhammad dan ajarannya. Kemudian ia mencoba mendapatkan perhatian dengan menunjukkan keislamannya; ikut menjaga serta melindungi jiwa dan harta orang muslim; bahkan dengan menikahinya. Maka pada saat itu juga ia ikut mendapatkan cahaya keimanan dan manfaat lain dari orang-orang muslim, namun di akhir ternyata tidak ada secuilpun keimanan kepada Allah dalam hatinya maupun dalam perbuatannya. Maka tercabutlah cahaya iman tersebut darinya dan ia akan kembali dalam kegelapan (adz-dzhulumat).

Ibnu Abbas mengatakan bahwa maksud kegelapan di sini adalah azab. Mujahid mengatakan kekafiran. Adapun Qatadah menyebutkan kegelapan setelah kematian. Sedangkan menurut Al-Sadi mereka akan kembali dalam kemunafikannya.

Oleh karenanya ilustrasi orang munafik ketika mereka menampakkan keimanan di hadapan orang muslim, dimana jiwa, harta, dan keluarga mereka aman dari segala gangguan dan ancaman pembunuhan, namun pada dasarnya kekafiran yang mereka sembunyikan juga hanya akan membawa kerugian dan menjerumuskan ke dalam neraka. Orang munafik juga bersinar hatinya karena cahaya iman di dalamnya. Namun karena kekafirannya, Allah mencabutnya dan hilanglah cahaya iman tersebut, sehingga mereka dalam kegelapan. Mereka dalam keadaan tersesat tanpa Islam, tidak bisa mendengar kebaikan, omongannya tidak bermanfaat, serta tidak dapat melihat petunjuk Allah. Mereka pun tidak dapat menemukan cahaya iman tersebut dan akan selalu terjebak dalam kesesatan.

Imam Ibnu Al-Jauzi menambahkan, jika api membutuhkan kayu bakar agar dapat terus menyala dan dapat memancarkan cahaya, maka begitu juga iman yang senantiasa membutuhkan keimanan yang kuat agar bisa selalu memancarkan cahaya keimanannya.

Adapun perumpamaan kedua bagi orang munafik di surah Al-Baqarah [2]: 19-20 seperti yang digambarkan secara jelas oleh Imam Abu Bakar Al-Jazairi dalam tafsirnya Aysaru al-Tafasir.

Bahwasannya orang-orang munafik berada di tengah-tengah hujan badai yang sangat lebat disertai petir yang menggelegar dan kilat yang menyambar tanpa henti. Mereka sangat ketakutan dan menutup telinga mereka dengan jari-jari tangannya sehingga suara petir tidak lagi terdengar, karena begitu khawatir akan menyambarnya sampai menyebabkan kematian. Mereka juga tidak mempunyai tempat berlindung karena Allah -melalui hujan badai dan petir tersebut- mengepung mereka dari segala penjuru. Dahsyatnya kilat yang menyambar juga hampir membutakan mata mereka lewat cahayanya. Cahaya tersebut juga mereka manfaatkan untuk berjalan mencari tempat berlindung, lalu ketika hilang mereka berhenti dalam keadaan bingung dan ketakutan. Jika Allah berkehendak, maka bisa saja Ia cabut penglihatan dan pendengaran mereka akibat cahaya kilat dan suara petir tersebut.

Baca Juga :  Cara Memahami Hadis: Memahami Hadis yang Bertentangan dengan Al-Qur'an (1)

Maka itulah perumpamaan orang munafik dimana ketika Al-Qur’an (al-shayb) diturunkan untuk menghidupi hati yang mati, sambil menyebutkan tentang ancaman dan balasan neraka bagi mereka yang mengingkari (az-zhulumaat), serta bukti-bukti kebenaran ajarannya (barq), mereka menutup telinga takut akan terketuk pintu hatinya untuk mengikuti dan meyakini apa yang disampaikan Al-Qur’an termasuk beriman akan kerasulan Muhammad saw. Adapun jika ada ayat-ayat yang tidak merujuk kepada mereka, mereka juga hanya tetap berpura-pura beriman secara zahir.

Sedangkan jika ada ayat yang berbicara tentang kesesatan mereka, mereka memilih diam dalam kebingungan bahkan tidak mau meyakininya. Maka Allah pun berhak dan berkuasa untuk mencabut penglihatan dan pendengarannya secara dzahir sebagaimana Allah mencabutnya secara batin sehingga mereka buta dan tuli terhadap peringatan-Nya. Allah juga berkuasa untuk mengazabnya yang pedih karena pada dasarnya mereka juga pantas untuk menerimanya.

Itulah dua perumpamaan dalam Al-Qur’an yang keduanya sama-sama menggambarkan betapa jeleknya orang munafik. Pemberian misal dengan ungkapan-ungkapan tersebut juga dimaksudkan agar lebih bisa dipahami oleh kaum muslimin sehingga dapat mengetahui balasan yang akan diterima orang-orang munafik. Semoga kita tidak termasuk golongan orang-orang munafik yang diberi permisalan dan perumpamaan oleh Allah seperti orang yang kehilangan cahaya dan tersesat di tengah kegelapan serta orang yang tidak punya jalan keluar ketika terjebak di tengah dahsyatnya hujan badai. Aamiin..

Wallahu a’lam

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here