Tafsir Surah Al-A’raf: 131: Jangan Menyalahkan Orang Lain, Karena Nasib di Tangan Allah

0
368

BincangSyariah.Com – Dalam firman Allah surah Al-A’raf ayat 131, ada kisah tentang cerita masyarakat di masa Fir’aun – Raja dimasa Nabi Musa hidup – yang acapkali merasa ketika mendapatkan kenikmatan adalah murni hasil kekuatannya sendiri, tapi ketika mereka ditimpa kesusahan mereka justru menyalahkan orang lain,Nabi Musa dan kaumnya, Bani Israil. Berikut ayatnya,

فَإِذَا جَاۤءَتۡهُمُ ٱلۡحَسَنَةُ قَالُوا۟ لَنَا هَـٰذِهِۦۖ وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَیِّئَة یَطَّیَّرُوا۟ بِمُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥۤۗ أَلَاۤ إِنَّمَا طَـٰۤىِٕرُهُمۡ عِندَ ٱللَّهِ وَلَـٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا یَعۡلَمُونَ

Kemudian apabila kebaikan/kemakmuran datang kpda mereka, mereka berkata: “Ini adalah karena (usaha) kami.” dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan tersebut kepada Musa dan pengikutnya. Ketahuilah, sesungguhnya nasib mereka di tangan Allah, namun kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Ayat ini berkaitan dengan cerita Nabi Musa dengan Fir’aun dan kaumnya. Ketika Fir’aun dan kaumnya diberi nikmat yang begitu melimpah oleh Allah berupa tanah yang subur karena banyak hujan, hasil pertanian dan buah-buahan yang melimpah, harta yang banyak, rezeki yang lapang, kesehatan dan kemakmuran kaumnya, mereka mengatakan: “Ini semua karena usaha kami dan kami pantas menerima nikmat ini seperti biasanya.” Mereka tidak memandang bahwa semua itu adalah pemberian Allah namun mereka tetap mengingkari dan tidak bersyukur kepada-Nya.

Namun suatu hari Allah ambil nikmat tersebut, lalu diganti dengan kesusahan-kesusahan berupa tanah yang menjadi gersang karena musim paceklik, kekurangan kebutuhan pangan, penyakit atau wabah yang merajalela, dan keburukan lainnya yang menimpa. Kemudian mereka melemparkan dan menyalahkan sebab kesialannya kepada Nabi Musa dan kaumnya yang beriman. Kebanyakan ahli tafsir mengartikan al-tathoyyur dengan al-tasya’um yaitu kesialan. Artinya mereka melemparkan kesialan yang menimpanya kepada Nabi Musa dan kaumnya yang beriman.

Baca Juga :  Mengenal Fakhruddin Al-Razi, Sosok Ulama Tafsir Multidisipliner Abad Ke-5

Padahal nasib mereka baik berupa kebaikan maupun keburukan, kemakmuran dan kesengsaraan semuanya telah diatur oleh Allah swt dan sesuai dengan takdir-Nya. Imam Al-Razi menukil dari Ibnu Abbas mengatakan bahwa tha-ir (thoo’ir) adalah asy-syu’um (as-syu’m), artinya segala kesialan atau keburukan yang terjadi adalah ketetapan dari Allah. Al-Razi juga mengutip dari Abu Ubaidah, tha-ir yang dimaksud adalah bagian/nasib mereka, artinya segala kebaikan maupun keburukan yang menimpanya tanpa kecuali adalah ketetapan dari Allah. Namun mereka tidak mengetahui dan menyadarinya.

Dengan demikian, semua yang telah terjadi dan menimpa kita saat ini merupakan atas ketetapan dan kuasa Allah. Sehingga tidak patut untuk menyalahkan maupun melemparkan penyebab musibah ini kepada siapapun, sperti yang dilakukan oleh Fir’aun dan kaumnya. Tugas kita adalah berintrospeksi diri, barangkali keburukan atau musibah yang menimpa kita diperparah akibat dosa-dosa yang telah diperbuat.

Begitu juga wabah Covid-19 ini, mungkin salah satu jalan Allah mengingatkan diri kita masing-masing, jangan-jangan ada dosa yg telah dan masih kita lakukan. Melalui keberkahan Ramadhan, kita berdoa semoga pandemi ini segera berakhir serta jangan pernah berhenti untuk selalu berbaik sangka kepada Allah atas segala ketetapan2-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here