Tafsir Surah Al-Alaq 1-5; Dua Makna Membaca dalam Wahyu Pertama yang Diterima Rasul

1
5211

BincangSyariah.Com – Surah Al-Alaq merupakan surat pertama kali turun, meski tidak secara utuh sebagaimana surah Al-Fatihah. Surat ini turun ketika Nabi Muhammad melakukan tahannus (berdiam diri) di Gua Hira’. Waktu itu, di usianya yang genap 40 tahun, Malaikat Jibril datang,  dan menyuruh Nabi Muhammad untuk mengikuti apa yang dibacanya.

Membaca Bersamaan dengan Asma Tuhan

اقرأ باسم ربك الذي خلق . خلق الانسان من علق

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah” (QS. Al-‘Alaq; 1-2)

Kata Iqra’ dalam kamus memiliki beragam macam makna; menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan beberapa makna lainnya.

Kata ini kemudian diikuti dengan bismi rabbika. Para ulama berpendapat bahwa pada masa Jahiliyah, para kaum Quraish sering kali sebelum melakukan pekerjaannya mengagungkan apa yang mereka sembah, seperti mengucapkan bismi Allata. Maka dalam ayat ini Allah tegaskan untuk senantiasa hanya menyertakan Allah dalam setiap tindakan.

Syeh Abdul Halim Mahmud, mengatakan dalam kitabnya, “dengan kalimat iqra’ bismi Rabbika dalam kalimat dan semangatnya seakan mengatakan, bacalah demi Tuhanmu, bergeraklah demi Tuhanmu, bekerjalah demi Tuhanmu. Begitupun ketika hendak berhenti dari aktivitas. Sehingga, segala seluruh kehidupan, sujud, cara dan tujuan seseorang dilakukan karena Allah.”

Dalam kedua ayat tersebut,  tidak disebutkan objek yang dituju. Sehingga ini mengindikasikan seruan bacaan itu bersifat umum. Artinya manusia diperintah untuk membaca apapun yang ada di sekitarnya, dengan menyebut nama Tuhannya, dan membaca apa saja yang telah diciptakan Tuhannya hingga ia mengenal-Nya.

Jika dikaitkan dengan sebab turunnya, Rasulullah pada saat itu senantiasa mengamati, merenungi apa saja yang terjadi di sekitarnya dengan cara bertahannus. Maka tak heran, meskipun Rasulullah diceritakan oleh sebagian mufasir tidak dapat membaca dan menulis (ummi), Rasulullah mampu membaca keadaan sekitarnya dengan baik. Sehingga, beliau memiliki jiwa sosial yang tinggi, jiwa revolusioner, jiwa pemimpin dan sebagainya.

Baca Juga :  Cara Mengukur Anda Sudah Cinta pada Allah Atau Belum

Allah Maha Pemberi Ilmu

اقرأ و ربك الاكرم. الذي علم بالقلم. علم الانسان مالم يعلم

“Bacalah dan hanya Tuhanmulah yang Maha Pemurah. (Yang) mengajarkan (manusia) dengan pena. Ia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. ‘Alaq; 3-5)

Kemudian kata Iqra’ kembali disebutkan dalam ayat ketiganya, diikuti oleh sifat Allah yakni Yang Paling Pemurah. Satu-satunya ayat yang menyifati Tuhan dalam bentuk tersebut.

Kata iqra’ dalam ayat ke-3 menurut Quraish Shihab, ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Iqra’ pada ayat yang pertama mengindikasikan membaca untuk diri sendiri (belajar), dan iqra’ dalam ayat ketiga adalah membaca untuk orang lain (mengajar).

Menurutnya, Allah itu Maha Pemurah. Dari dulu, Alquran itu sama,  tapi ada saja makna baru yang bermunculan. Itulah Kemahamurahan Tuhan, jadi seakan-akan di dalam ayat tersebut, bacalah objek itu (Alquran) kemudian ulangi membaca itu niscaya kamu akan mendapat makna-makna (jawaban)baru. Karena Tuhanmu adalah Al-Akram.

(Allah Yang) mengajar dengan pena (ayat 4). (Dia) mengetahui apa yang tidak diketahui manusia (ayat 5). Dalam ayat 4 dan 5, Tuhan mengajar manusia melalui pena yang hasilnya adalah tulisan-tulisan. Kemudian di ayat ke-5 Allah juga mengajarkan pada manusia baik melalui Wahyu (pada Nabi), mimpi, ilmu ladunni, dan ilmu dengan usaha dari manusia sendiri, bahwa Allah lah Yang Maha Mengajarkan dari apa yang tidak diketahui manusia.

Pelajaran Penting surat Al-Alaq [96] : 1-5

Inti dari lima ayat pertama dari surat Al-Alaq ini, menurut penulis mengajarkan;

Pertama, Senantiasa memulai sesuatu dengan menyebut Nama Allah, sehingga dimudahkan dalam pemahaman dalam hal apa saja.

Kedua, keharusan manusia untuk senantiasa membaca baik teks (Al-Quran, dan buku pengetahuan lain), serta konteks (membaca lingkungan sekitar). Jika salah satu dari dua pembacaan ini dikesampingkan tentu akan tidak akan sampai pada pemahaman yang seimbang, terutama dalam memahami kandungan Al-Quran itu sendiri.

Baca Juga :  Hukum Menjual dan Membeli Ular Piton

Ketiga, jangan pernah menyerah untuk terus berusaha sebagaimana ketika Jibril meminta Rasulullah untuk terus mengikuti bacaannya sampai bisa. Karena sesungguhnya Allah akan senantiasa membatu hambanya yang gigih berusaha, dan berdoa.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here