Tafsir Surah Adh-Dhuha ayat 9-11: Perintah Terhadap Kepedulian Sosial

0
1730

BincangSyariah.Com—Pada ayat sebelumnya, Allah meneguhkan hati Nabi Muhammad Saw. kembali dengan mengingatkannya atas karunia yang telah Allah berikan. Kemudian, ayat selanjutnya dari surat Adh-Dhuha berisikan tentang perintah dalam menegakkan kepedulian sosial.

Selaras dengan apa yang telah disebutkan, bahwa Allah yang melindungi Nabi Muhammad pada waktu menjadi anak yatim. Maka Allah pun menyuruh kita, agar senantiasa untuk melindungi hak-hak anak yatim dan berperilaku baik kepadanya.

Allah berfirman dalam Q.S Adh-Dhuha ayat 9-11,

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلا تَقْهَرْ (۹) وَأَمَّا السَّائِلَ فَلا تَنْهَرْ (۱۰) وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ –

(9) Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang! (10) Dan terhadap orang yang minta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya! (11) Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).

Pada tulisan sebelumnya, yatim adalah anak yang tidak mempunyai ayah, ataupun orang yang seringkali tertindas. Karenanya, dalam ayat ini dijelaskan bahwa kita dilarang untuk berlaku sewenang-wenang terhadapnya.

Kata taqhar diambil dari kata qahara yang berari menjinakkan, menundukkan untuk mencapai suatu tujuan, atau mencegah lawan mencapai tujuannya. Dalam tafsir Jalalayn disebutkan contoh perilaku sewenang-wenang terhadap anak yatim adalah mengambil hartanya, atau mencuri apapun yang dimilik olehnya.

Quraish Shihab dalam tafsirnya mencoba untuk me-munasabah-kan ayat ke-9 dengan ayat yang lain yang membahas tentang bentuk kesewenangan terhadap anak yatim. Misal, dalam surat al-Ma’un ayat 1-2 disebutkan kesewenangan disini ialah menghardik anak yatim. Atau dalam surat al-Fajr ayat 17 yang menggambarkan kondisi masyarakat Mekkah yang tidak memberi pelayanan yang baik terhadap anak yatim.

Setelah larangan berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim, ayat selanjutnya berbicara larangan menghardik terhadap orang yang minta-minta. Ath-Thabari mengartikan orang yang minta-minta sebagai orang membutuhkan sesuatu, entah apapun sesuatu itu, baik berupa tenaga, informasi, maupun materi.

Baca Juga :  Hukum Menunggangi Gajah dalam Islam

Walaupun konteks orang yang minta-minta tersebut sangatlah umum. Namun poin penting yang harus ditekankan adalah kita dilarang untuk tidak mengahardiknya dengan kata-kata yang kasar. Karena hal tersebut akan sangat menyakiti dirinya.

Dalam hadits disebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah pernah memerintahkan agar kita harus senantiasa memberi terhadap orang yang minta-minta, walau dengan sedikitnya pemberian kita. Namun dalam satu kesempatan lain Rasulullah Saw., menasihati bahwa tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.

Quraish Shihab memberikan kesimpulan, bahwa terhadap orang yang masih sanggup bekerja atau yang mengemis karena malas dan menjadikannya sebuah pekerjaan, maka tidaklah wajib untuk memberinya. Tindakan yang lebih baik adalah pengarahan, bimbingan agar dia mampu bekerja, dan apabila enggan, maka menghardik dengan tujuan menginsafkan pun tak masalah.

Ayat terakhir dari surat Adh-Dhuha, kita diperintahkan untuk senantiasa bersyukur dalam kenikmatan yang Allah berikan. Nikmat disini diartikan secara luas oleh al-Qurthubi. Menurutnya, nikmat tidak hanya berbicara tentang materi, akan tetapi termasuk juga nikmat non-materi. Contoh dari non-materi adalah kedudukan, keturunan, nama baik, bahkan termasuk kenikmatan dalam beribadah.

Setiap nikmat tersebut haruslah senantiasa kita syukuri. Sayyid Qutb dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa bentuk syukur yang digambarkan dalam ayat ini adalah dengan berbuat kebajikan terhadap sesama. Karenanya, yang dimaksud menyebutkan nikmat adalah dengan berbagi terhadap yang membutuhkan.

Dalam mengakhiri tulisan penafsiran surat Adh-Dhuha ini, penulis mengutip pendapat dari Bint asy-Syathi. Menurutnya, surat ini berisikan tentang risalah Nabi Muhammad, serta perintah untuk memenuhi keperluan orang yang minta-minta, meniadakan penindasan terhadap anak-anak yatim dan orang yang lemah lainnya.

Wallahu a’lam bi ash-showab.

Tabik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here