Tafsir Surah Adh-Dhuha ayat 1-5: Rahasia Waktu Dhuha

3
538

BincangSyariah.Com– Kehidupan  seluruh alam semesta tak terlepas dari sentuhan Sang Maha Kuasa, Allah Swt. Seluruh makhluknya pasti memerlukan kasih sayang yang datang dari-Nya. Kita pun selaku manusia, sangatlah membutuhkan rezeki setiap harinya. Dalam keseharian kita, ada waktu dimana kita dianjurkan untuk memohon kemudahan mencari rezeki, yaitu waktu dhuha.

Pada waktu dhuha, kita sangat dianjurkan untuk melaksanakan sholat dhuha. Karena inilah waktu yang sangat tepat untuk berdoa. Dan dalam al-Quran pun, terdapat surat yang dinamai dengan Ad-Dhuha. Surat ini terdiri dari 11 ayat dan termasuk ke dalam surat Makkiyyah.

Allah berfirman dalam Q.S Adh-Dhuha ayat 1-5:

وَالضُّحَى (۱) وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى (۲) مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى (۳) وَلَلآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الأولَى (۴) وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى  – ۵

(1) Demi waktu matahari sepenggalahan naik (2) Dan demi malam apabila telah sunyi (3) Rabbmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu (4) Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu daripada permulaan (5) Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas

Diriwayatkan oleh al-Bukhori, surat ini turun ketika Jibril tertahan tidak memberikan wahyu Allah kepada Rasulullah Saw. Lalu ada seorang wanita dari Quraisy berkata, “Setannya terlambat datang kepadanya”. Maka turunlah ayat ini, yang bertujuan untuk menghibur Nabi Muhammad Saw. dan bantahan terhadap mereka bahwa Allah tidaklah membenci Nabi-Nya.

Menurut Muhammad Abduh, tidak turunnya wahyu dalam waktu yang lama berakibat terhadap keresahan masyarakat dan ketakutan yang dialami oleh Nabi Muhammad. Hal ini menandakan bahwa Nabi sudah sangatlah rindu terhadap wahyu Allah. Nabi Muhammad rindu akan manisnya berhubungan dengan Sang Pemberi Wahyu. Karenanya ia ketakutan dan sangat gelisah.

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah mengutip aneka pendapat tentang berapa lama Nabi tidak menerima wahyu. Imam Al-Bukhari mengatakan 2-3 hari, Ath-Thabari mengatakan 12 hari. Sementara dalam tafsir Jalalayn disebutkan 15 hari lamanya, dan ada juga riwayat yang mengatakan sampai 40 hari. Tentunya semakin lama waktunya, semakin kuat ketakutan dan kegelisahan yang dirasakan oleh Nabi Muhammad Saw.

Pada permulaan surat, Allah bersumpah atas dua waktu, yakni waktu yang ada di siang hari dan malam hari. Adh-dhuha secara umum biasa digunakan untuk menjukan sesuatu yang nampak jelas. Dalam kaidah tafsir, ayat yang berisi sumpah atas waktu berarti waktu tersebut sangatlah pantas digunakan untuk beramal. Dan dua ayat ini juga sangat kuat relasinya dengan ayat selanjutnya, yaitu Allah tidak akan meninggalkan Nabi Muhammad dan benci kepadanya.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa ketiga ayat ini, ditujukan kepada kaum Quraisy yang mulai bergunjing bahwa wahyu tidak akan turun lagi kepada Nabi Muhammad karena Allah saat itu benci kepada Muhammad Saw. Lalu Allah menjawab dengan menurunkan wahyu danya malam yang berartikan istirahat/ketenangan dan menggantikan siang, bukan berarti siang tidak akan muncul lagi. Artinya tidak turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad Saw., bukan berarti wahyu tidak akan turun lagi

Pada ayat ke-4 dikatakan bahwa, akhir lebih baik dari pada permulaan. Dalam tafsir Jalalayn disebutkan akhir disini berartikan akhirat, memberikan makna bahwa akhirat lebih baik kehidupannya dari pada di dunia (permulaan). Disebutkan lebih baik, karena di akhirat nanti terdapat banyak kemuliaan-kemuliaan dari pada di dunia.

Dan di ayat ke-5, Allah melengkapi kebahagiaan Nabi Muhammad denggan karunia yang diberikan kepadanya. Dalam tafsir Jalalayn disebutkan karunia ini adalah kebaikan-kebaikan yang akan didapatkannya di surga. Sedangkan Ath-Thabri berpendapat karunia ini adalah seribu istana surga yang terbuat dari mutiara. Dan ada juga yang berpendapat bahwa karunia tersebut berupa kemenangan-kemenangan Nabi Saw.

Wallahu a’lam bi ash-Showab

Tabik.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here