Tafsir An-Nisa’ [4]: 19: Sayangi Pasangan Hidup Kita

0
803

BincangSyariah.Com – Allah Swt. memerintahkan para suami agar jangan sampai mengesampingkan pasangan hidup mereka, yaitu para istri (ini juga berlaku sebaliknya) sebagaimana dinyatakan dalam surah an-Nisa’ [4]: 19,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ

Dan, berinteraksilah dengan mereka [istri-istri] dengan [cara yang] baik

Dalam bahasa Arab, kata Mu’asyaroh merupakan wazan (bentuk) pola mufaa’alah dari kata al-‘isyroh yang memiliki makna mushohabah wa mukholathoh (saling menemani dan menyatu). Dan maksud dari kata ini adalah menemani dan berinteraksi dengan perempuan (dalam konteks ini, istri) dengan cara yang baik lewat perbuatan dan perkataan yang terpuji sesuai dengan tuntunan syariat Islam dan tuntunan akal.

 

Menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, maksud dari ayat ini adalah hendaknya memperbagus ucapan, perkataan, perbuatan dan tingkah laku kepada istri sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Jika istri menyukainya, maka berbuatlah sesuai apa yang disukainya, sebagaimana firman Allah dalam surah al-Baqarah [2]: 228,

ولهن مثل الذي عليهن  بالمعروف

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang baik (ma’ruf) 

Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw juga bersabda,

خيركم خيركم لأهله وأنا خيركم لأهلي

“Sebaik-baik kalian adalah sebaik-baik kalian berbuat baik kepada keluarga, dan Aku sebaik-baik orang yang berbuat baik kepada keluargaku”

Akhlak terpuji Rasulullah kepada keluarganya dapat dilihat dari interaksi Rasul kepada keluarganya dengan sangat baik, suka bermain, bercanda, bersikap lemah lembut, terkadang membuat istrinya tertawa. Bahkan dalam riwayat disebutkan pernah berlomba dengan istrinya, Sayyidah Aisyah. Beliau selalu menunjukkan kasih sayangnya kepada istri-istrinya.

Syekh Muhammad Sayyid Tanthowi mengutip perkataan Imam Ghazali, dalam tafsirnya Al-Wasith, bahwa tafsir dari ayat ini adalah berakhlak yang baik dengan istri dengan tidak menyakitinya atau bahkan berniat menyakitinya, bersabar atas kecerobohan dan kemarahan istri sambil menasehatinya, sebagaiamana yang dcontohkan oleh Rasulullah saw.

Baca Juga :  Tiga Karakter Kepemimpinan Rasulullah

Oleh karenanya, istri juga memiliki hak yang sama dengan suami. Ia berhak untuk disayangi, dimanjakan, dan dinafkahi baik lahir maupun batin. Istri bukan boneka yang bisa seenaknya dimainkan oleh suaminya, melainkan ia adalah mitra bagi suami untuk sama-sama membangun sebuah keluarga bahagia di dunia hingga kelak di akhirat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here