Tafsir Ayat La Ikraha Fiddin Menurut Imam at-Thabari

1
2223

BincangSyariah.Com – Imam at-Thabari dalam kitab tafsirnya Jami‘ul Bayan fi Ta’wīl al-Qur’ān menjelaskan tiga pendapat riwayat terkait latarbelakang turunnya surah al-Baqarah ayat 256. Allah Swt. berfirman:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.

Pertama, ada sekelompok sahabat ansar yang memaksa anak mereka masuk Islam. Salah satu yang dikutip Imam at-Thabari adalah cerita mengenai sahabat al-Hushain.

عن ابن عباس قال: نزلت في رجل من الأنصار من بني سالم بن عوف يقال له الحصين، كان له ابنان نصرانيان، وكان هو رجلا مسلما، فقال للنبي صلى الله عليه وسلم: ألا أستكرههما فإنهما قد أبيا إلا النصرانية؟ فأنزل الله فيه ذلك.

Diriwayatkan dari sahabat Ibnu ‘Abbas yang menyatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan seorang lelaki dari kalangan ansar bermarga Bani Salim bin Auf. Lelaki itu bernama al-Hushain. Dia itu mempunyai dua anak beragama Kristen, sementara ia beragama Islam. Ia bertanya pada Nabi, “Nabi, saya sudah memaksa keduanya (masuk Islam), tapi mereka hanya mau memeluk agama Kristen. Bagaimana menurutmu?” Ayat ini pun turun berkaitan dengan pertanyaan sahabat al-Hushain ini.

Kedua, pengakuan umat Muslim terhadap agama ahlulkitab yang sudah membayar jizyah (pajak dan upeti) itu menjadi jalan damai di antara pemeluk agama. Ahlulkitab tidak benci terhadap Islam. Artinya, sistem bayar pajak dan upeti yang berlaku pada masa itu bagi pihak yang berkuasa merupakan jalan tengah bagi agama-agama ahlulkitab agar mereka dapat berdamai dengan umat Muslim. Sementara itu, terdapat sebagian umat Muslim dari kalangan tak terpelajar dan buta aksara yang fanatik dan tidak mengakui agama apa pun kecuali Islam. Kemunculan umat Muslim yang terlalu fanatik ini melatarbelakangi turunnya ayat ini.

Baca Juga :  Ini Empat Amalan yang Dapat Mengangkat Derajat Seseorang

Ketiga, keberlakuan ayat ini dihapus oleh ayat tentang perang.

Imam at-Thabari nampaknya lebih cenderung memilih pendapat yang kedua. Menurutnya, orang-orang ahlulkitab, seperti pemeluk Yahudi, Nasrani, dan Majusi, yang membayar pajak dan upeti pada umat Muslim itu tidak boleh dipaksa masuk Islam dan tidak boleh diperangi. Oleh karena itu, ahlulkitab yang masuk dalam kategori ini disebut sebagai zimi, non-Muslim yang dilindungi hak-haknya sebagai warga negara. Wallahualam

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here