Tafsir: Islam sebagai Agama Hanif

0
1019

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad):“Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.” Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS Al-Nahl [16]: 123)

 

BincangSyariah.Com- Seperti yang sudah sering dibahas sebelumnya, pada di­ri manusia, sesuai dengan konsep ajaran Islam, ter­dapat kecenderungan atau dorongan ingin melanggar, yang di antaranya disebabkan oleh sifat-sifat pembawaan ma­nusia yang ingin selalu cepat, serba in­stan, atau suka po­tong kompas dalam ungkapan orang sekarang. Namun, pa­da diri manusia juga ditemukan adanya dorongan halus yang selalu mengajak atau membisikkan keinginan berbuat baik dan mencintai kebaikan, yang bersumber dari hati nu­rani. Dorongan halus tersebut dalam idiom Al-Quran dise­but hanîf.

Hanîf adalah kecenderungan dasar manusiawi yang se­lalu mengajak dan mendorong manusia agar mencintai dan merindukan yang benar. Dan sejak dari penciptaannya ter­dahulu (pri­mordial), manusia berada dalam sebuah kesucian asal atau juga sering disebut kesucian primordial. Yang demi­kian itu, kemudian ditegaskan dalam sebuah hadis yang masyhur di kalangan kita yang berbunyi, “Setiap anak yang la­hir ke dunia dilahirkan dalam kesucian ….”

Kesucian asal juga sering diistilahkan dengan fitrah. Fitrah inilah yang kemudian seperti kita ketahui menjadi tu­ju­an perintah ibadah puasa. Itulah sebabnya, hari raya se­telah menjalankan ibadah puasa disebut Idul Fitri, yang artinya kembali kepada kesucian.

Berkaitan dengan sifat bawaan dan asal manusia yang selalu terdorong mencintai kebajikan, dengan sendirinya berbuat kebaji­kan merupakan tindakan yang memang se­suai dengan fitrah manusia. Dengan sendirinya pula, segala tindakan baik atau kebajikan tidak akan pernah bertentang­an dengan fitrahnya. Dengan kata lain, berbuat baik tidak akan melahirkan konflik dalam batin seseorang karena yang demikian sesuai dengan fitrahnya. Itulah sebabnya perbuat­an baik dalam bahasa Arab lalu diistilah­kan dengan amar ma‘rûf—dalam bahasa Inggris, kata kebajikan juga diterje­m­ah­kan dengan well-known, yaitu sesuatu yang sudah diketa­hui nature-nya.

Sebaliknya, perbuatan munkar (kemungkaran) adalah se­lu­ruh perbuatan yang memang sesungguhnya diingkari—dari derivasi kata ankara, yang artinya sesuatu yang memang diingkari oleh hati nurani. Jadi, perbuatan mungkar adalah per­buatan yang memang tidak sesuai dengan nature ma­nusia.

Dalam kasus seperti ini, kita kembali diingatkan oleh sebuah hadis Nabi Muhammad Saw. yang menasihatkan kita agar selalu meminta petunjuk dan bimbingan kepada ha­ti nurani, istaftî qal­bak. Hati kecil ini juga sering disebut dlamîr sehingga kita sering mendengar ungkapan dalam ba­hasa Arab yang sangat populer, “sal dlamîrak.” Yang artinya, kalau hendak melakukan sesuatu, hendaknya tanyakan ter­lebih dahulu kepada hati kecil Anda.

Meskipun kita tahu bahwa manusia memiliki hati nurani yang dapat membimbing ke kebajikan, dalam kehidupan nya­ta sehari-hari, seperti kita saksikan, sering ditemukan per­tentangan antara yang ideal dan realita. Artinya, banyak terjadi kejahatan meskipun manusia sudah dikaruniai hati nurani. Di sinilah orang beriman terus dituntut untuk ber­mujahadah, berusaha dengan sungguh secara ruhaniah agar dapat membebaskan diri dari hal-hal yang tidak baik atau mung­kar. Orang beriman pun sekaligus dituntut untuk terus ber­upaya menjadikan segala sesuatu lebih baik atau melaku­kan ajaran nahi munkar.

Dalam ajaran moral atau akhlak Islam, setiap orang harus berusaha untuk dapat berbuat baik dalam situasi atau kon­disi apa pun. Tugas melakukan perbaikan terhadap se­gala kemungkaran dinya­takan sebagai amal sosial atau tang­gung jawab sosial sebagaimana dalam Al-Quran disebutkan bahwa suatu musibah yang datang tidak saja akan mengena atau menimpa orang-orang yang berbuat jahat, tetapi juga me­reka yang baik-baik pun akan menjadi korban. Seper­ti di­sebutkan dalam firman Allah Swt., Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras sik­­saan-Nya (QS Al-Anfâl [8]: 25).

Baca Juga :  Simak Penjelasan Hadis tentang Tiga Keistimewaan Surah Al-Kahfi

Ayat tersebut menasihatkan agar orang beriman tidak bersikap permissive, tidak peduli dan melonggarkan terjadi­nya perbuatan dosa atau kemungkaran. Dengan ungkapan la­in, sesuai dengan konsep ajaran Islam, tidak ada pandang­an bahwa perbuatan mungkar yang bersifat merugikan pri­badi yang tidak merugikan orang lain dapat dibiarkan. Apa pun bentuk perbuatan dosa atau kemungkaran harus dice­gah karena yang demikian itu merupakan sebuah komitmen dan tugas sosial setiap pribadi Muslim.

Di sisi lain, konsisten dengan konsep iman, kita mema­hami bahwa tidaklah mungkin keimanan dapat disanding­kan dengan sikap oportunis. Sikap oportunis (yang memen­ting­kan untung serta asal tidak dirugikan dengan mengabai­kan aturan moral) adalah sikap yang bertentangan dengan pesan-pesan keimanan itu sendiri.

Itulah sebabnya, perlu terus diadakan pelatihan ruhani­ah atau jihâd nafs sebagai sebuah tahap menyucikan diri (tazakkâ). Dan dalam berbuat sesuatu, orang beriman harus terus meminta petunjuk, bimbingan dari Allah Swt. sehingga tidak mudah terge­lincir ke dalam perbuatan dosa atau ke­mung­karan. Oleh karena itu, dalam shalat, kita selalu mem­baca doa yang berbunyi, Tunjukilah kami jalan yang lurus (QS Al-Fâtihah [1]: 6).

Ada beberapa hal yang akan merintangi kita dalam me­lakukan latihan ruhaniah, seperti syirik—dari syirk, yaitu si­kap memper­sekutukan Allah Swt. dengan yang lain, tergo­long dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah Swt. Syirik, mengandung pengertian membagi tujuan dengan ber­hala yang dalam perwujudannya adalah hawa nafsu atau kepentingan pribadi.

Selain perbuatan syirik adalah sikap tidak ikhlas dalam beramal. Namun seperti yang kita pahami, ajaran ikhlas men­­jadi masalah yang sangat pribadi, seperti masalah pua­sa. Hal yang menjadi urusan pribadi antara seorang hamba de­ngan Allah Swt. Seseorang dikatakan ikhlas dalam ber­iba­dah, artinya ia menjalan­kan ibadah memang semata-ma­ta diorientasikan atau ditujukan kepada Allah Swt. Berlaku ikhlas atau tidak, sekali lagi, menjadi urusan pribadi sese­orang yang melakukan perbuatan tersebut.

Keikhlasan sebagai kualitas tertinggi dalam melakukan pen­gabdian kepada Allah Swt. akan tercapai bila dilakukan lewat upaya pelatihan ruhani secara terus-menerus. Pelatih­an ruhani tersebut tentunya harus dimulai dengan upaya pri­badi terlebih dahulu. Artinya, kita tidak perlu menunggu atau, bahkan menuntut orang lain berlaku ikhlas. Akan te­tapi, mulailah dari kita sen­diri seperti yang dinasihatkan oleh sebuah ungkapan dalam bahasa Arab yang sangat terkenal, “ibda’ binafsik.”

Juga perlu diingat, tidaklah be­nar bagi orang beriman mela­ku­kan justifikasi, menilai keikh­las­an seseorang. Sikap ikhlas ju­ga memiliki kaitan yang erat de­ngan ajaran Islam tentang meng­a­tur dan memperoleh harta, se­perti yang dinyatakan dalam se­buah ayat yang menjadi kelanjut­an perintah puasa yang berbu­nyi, Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan batil, (janganlah) kamu membawa (urus­an) harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian har­ta benda orang lain itu dengan (ja­lan) berbuat dosa padahal kamu mengetahui (QS Al-Baqarah [2]: 188).

Baca Juga :  Hukum Merokok di dalam Masjid

Hal pengaturan harta ter­nya­ta tidak bisa dipisahkan de­ngan perintah berpuasa yang tu­juan­nya menumbuhkan ketak­wa­an atau kesadaran kepada Allah Swt. Ini juga memiliki kait­an erat dan masalah pengorien­tasi­an tujuan, yakni Allah Swt. sebagai refleksi sikap ikhlas.

Tindakan penyuapan atau bribery dan kolusi sesungguh­nya merupakan perbuatan dosa yang para pelakunya menge­tahui dan menyadari hal itu sebagai tindakan dosa atau salah. Namun, mereka berusaha mencari legalisasi atau pe­nge­sahan lewat prosedur hukum agar tampak sebagai tin­dakan yang dibenarkan.

Kata hâkim dalam pengertian di atas sebenarnya tidak berarti hanya merujuk kepada hakim di pengadilan. Akan tetapi, maksudnya juga melibatkan setiap orang yang diberi kepercayaan (authority), yakni kewenangan menyelesaikan suatu masalah. Termasuk di dalam arti tersebut adalah dok­ter, kiai, guru, ustad, dan sebagainya. Mereka juga dapat di­sebut hâkim yang dengan sendirinya berpoten­sial melaku­kan tindak kolusi dalam hal memutuskan suatu perkara.

Di situ juga diisyaratkan, hendaknya para hakim dalam menye­lesaikan masalah tidak tergoda oleh godaan harta. Dengan demi­kian, mereka dituntut berlaku adil. Seorang ha­kim harus dapat menegakkan keadilan dan tidak melaku­kan pemihakan yang diakibat­kan oleh godaan-godaan harta dan kepentingan diri lainnya. Seper­ti yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. dalam sabdanya, “Kalau Fathimah, anak pe­rem­puan Muhammad mencuri, maka akan saya potong tangan­nya.

Terlihat dengan jelas bahwa Rasulullah tidak akan se­kali-kali menoleransi atau bersikap kompromistis dengan melakukan tindak diskriminasi dalam upaya menegakkan keadilan lewat hukum. Hukum, sebagai sumber keadilan dalam sejarahnya membuktikan, kalau sudah tidak lagi di­hormati, khususnya oleh mereka yang berpredikat hakim, maka yang bakal terjadi adalah kehancuran.

Salah satu contoh dalam sejarah adalah bangsa Romawi yang sangat terkenal dengan hukum-hukumnya. Ternyata, bangsa Romawi juga harus mengalami kehancuran justru karena mereka tidak lagi mau berlaku sebagaimana diatur oleh hukum yang mereka ciptakan sendiri, seperti yang di­kutip oleh seorang sejarahwan terkenal Gibbon dalam buku­nya, The Decline and the Fall of Roman Empire.

Yang demikian juga terjadi pada umat Islam. Tepatnya ketika umat Islam mengalami dan mencapai puncak kejaya­an dengan kota Bagdad sebagai pusatnya. Kemewahan telah menjerumuskan mereka, jauh dari ajaran moral. Aturan hukum mereka abaikan begitu saja. Mereka hanya berlom­ba-lomba dengan materi. Dan hasilnya, mereka pun kemudi­an dibinasakan secara tragis oleh tentara Mongolia yang ter­kenal sangat bengis dan sadis.

Karena mereka merupakan kelompok atau kumpulan individu, maka yang terbaik dilakukan adalah gerakan pe­nya­dar­an yang bersumber dari masing-masing. Hal ini seba­gai­mana ungkapan yang sangat masyhur di kalangan para mu­balig, yang berbunyi, “Mulailah dari dirimu sendiri.” Di­mu­lai dari keluarga.

Baca Juga :  Puasa Ramadan sebagai Pembelajaran Rendah Hati

Dalam Al-Quran disebutkan bahwa setiap manusia ti­dak akan menanggung dosa orang lain. Oleh karena itu, hen­­daknya setiap orang beriman lebih mementingkan kuali­tas keimanan dirinya. Diharapkan, setelah terbentuk kelom­pok-kelompok individu yang memiliki kualitas yang baik, dengan sendirinya berimplikasi pada munculnya sebuah masyarakat atau kelompok sosial yang tangguh secara moral pula. Ini disebutkan dalam firman Allah Swt. yang berbunyi, … Dan tidaklah seseorang berbuat dosa melainkan kemudla­rat­annya kembali kepada dirinya sendiri; dan orang yang ber­dosa tidak memikul dosa orang lain … (QS Al-An‘âm [6]: 164).

Ajaran puasa yang dimaksudkan untuk mencapai ting­kat ketak­waan, menghendaki adanya sikap ketulusan, ikhlas dan jujur, termasuk jujur kepada diri sendiri, serta melarang berbuat dusta. Dusta, sebenarnya merupakan sumber se­ga­la perbuatan dosa, seba­gaimana yang disabdakan dalam hadis Rasulullah Saw. yang berbun­yi, “Pangkal segala perbuat­an dosa adalah dusta.”

Ajaran puasa juga kemudian menuntut orang berpuasa agar dapat mengendalikan diri dari perbuatan dosa, yang di­katakan sebagai wujud ketakwaan itu sendiri. Hal ini se­per­ti yang disab­dakan oleh Rasulullah Saw., “Barang siapa ber­puasa dan tidak me­ninggalkan kata-kata keji atau kotor, ma­ka sesungguhnya Allah tidak berkepentingan dengan mening­gal­kan makan dan minumnya.”

Dimensi intrinsik berpuasa adalah pelatihan diri mena­han segala godaan yang dapat menggelincirkan kepada do­sa, di antaranya, menjauhkan diri dari perbuatan atau ber­buat dusta. Sikap yang demikian dapat melahirkan sikap oportunis, lawan keimanan. Kedua sikap itu tidak akan dapat tumbuh dan hidup secara berdampingan, koeksistensi, se­perti ditegaskan dalam firman Allah Swt. yang mengajarkan jalan-jalan yang harus dila­lui, yakni yang benar (al-haqq) de­ngan yang batil, Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan (QS Al-Syams [91]: 8).

Menyinggung kasus bahwa iman, yang bersumber pada hati nura­ni, tidak bisa dipersandingkan dengan dusta, kita diingatkan kepada ungkapan yang artinya kurang lebih se­ba­gai berikut, “Kamu dapat membohongi semua orang se­tiap waktu dan setiap saat. Akan tetapi, kamu tidak akan da­pat membohongi diri sendiri.”

Di samping bertujuan mencapai ketakwaan, ibadah pua­sa juga dapat mempertajam kepekaan hati nurani yang mengajak ke kebenaran dan kebaikan. Ketajaman dan kepe­ka­an hati nurani diperoleh dengan pelatihan ruhaniah lewat shalat tarawih—yang sebenarnya adalah shalat malam (qi­yâ­mu al-lail) yang dilakukan secara pribadi. Namun kemu­dian dalam perkembangannya, tepatnya pada masa Khali­fah Umar bin Khaththab r.a., shalat tarawih dilakukan secara berjamaah. Dan tindakan tersebut diakui sebagai bid’ah yang baik.

Selain itu, ibadah puasa juga memberikan pelatihan menahan kesabaran dan konsisten dalam mengendalikan dorongan atau bisikan hawa nafsu. Seluruh ajaran dan amal­an tersebut identik dengan mempelajari keteladanan Nabi Ibrahim sebagai figur pribadi yang hanîf atau yang selalu mengikuti bimbingan hati nurani. Pribadi yang sangat patuh dan penuh keikhlasan serta ketulusan kepada Tuhannya dan tidaklah sekali-kali menyekutukan-Nya. Dalam Al-Quran di­nya­takan, Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang da­pat dijadikan teladan, lagi patuh kepada Allah dan hanîf. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mem­persekutu­kan (Tuhan) (QS Al-Nahl [16]: 120).[]

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here