Tafsir Ayat ‘Selamat Natal’ dalam al-Quran

0
2058

BincangSyariah.Com – Yesus Kristus memiliki kedudukan tersendiri di mata Alquran al-Karim. Bukan saja karena posisinya sebagai nabi yang diutus kepada Bangsa Bani Israel, namun juga karena kelahirannya yang tanpa bapak biologis menjadikan dirinya sebagai bukti akan kekuasaan Allah SWT. Kelahiran Yesus ini disambut hangat oleh al-Quran dengan sebutan “was salam ‘alayya yauma wulidtu wa yauma amut wa yauma ub’athu hayyan” seperti yang terekam dalam surah Maryam ayat 33. Dalam bahasa umat Kristiani Indonesia, kelahiran Yesus ini sering disebut sebagai natal dan tanggal 25 Desember dirayakan sebagai hari perayaan kelahirannya.

Jika kita meminjam bahasa yang digunakan oleh umat Kristiani, boleh dikatakan bahwa Alquran menyambut hari kelahiran Yesus ini dengan ucapan selamat natal/lahir( “was salamu alayya yauma wulidtu”). Namun tidak cukup sekedar mengucapkan selamat natal kepada Yesus, Alquran juga mengucapkan salam sejahtera di hari kematian dan di hari kebangkitannya kembali nanti, terlepas dari beragam tafsir soal kebangkitannya di padang mahsyar atau pun kebangkitannya kembali di dunia ini.

Lebih jauh lagi, ucapan selamat natal juga tidak hanya ditujukan kepada Yesus Kristus. Di ayat 33 sebelumnya, Alquran mengucapkan selamat natal juga kepada John sang Pembaptis (nabi Yahya). Kelak dua tokoh nabi Bani Israel ini, Yesus Kristus dan John sang Pembaptis, merupakan pendiri dua agama yang berbeda; ajaran-ajaran Yesus kelak membentuk agama Kristen dan ajaran-ajaran John kelak juga membentuk agama Sabean (dari Tsebbha yang artinya ‘mencelupkan diri ke dalam air’).

Alquran bahkan menyebut dalam surah al-Baqarah ayat 62 tentang doktrin keselamatan lintas agama (Islam, Yahudi, Kristen dan Sabean) yang didasarkan kepada tiga prinsip inklusif yang paling fundamental: percaya kepada Allah, percaya kepada hari akhir dan beramal salih. Yusuf Ali dalam The Holy Qur’an menyebut bahwa ayat ini menjadi bukti bahwa Islam bukanlah agama yang sektarian.

Baca Juga :  Ini Keutamaan Membeli Dagangan Orang yang Lemah

Kembali lagi ke persoalan natalnya Yesus Kristus. Ada Injil yang sering dijadikan sebagai referensi soal narasi dan deskripsi kelahiran Yesus. Injil tersebut bernama Injil Lukas dan Injil Matius. Kendati beda soal penarasiannya, kedua Injil ini sepakat bahwa Yesus dilahirkan di Betlehem di Judea di masa pemerintahan Herodus Yang Agung. Menurut penuturan kedua Injil ini, Maryam atau Bunda Maria nikah dengan Yosef yang merupakan keturunan Dawud. Yoseph sendiri dalam penuturan kedua Injil tersebut bukanlah ayah biologis Yesus.

Kelahiran Yesus disebabkan oleh adanya intervensi ilahi. Kelahiran Yesus ini dirayakan secara berbeda. Gereja Katolik, Protestan, Gereja Marovian, Gereja Ortodoks atau sebut saja Kristen Barat dan beberapa penganut Kristen Ortodoks Timur merayakannya di tanggal 25 Desember. Sedangkan beberapa penganut Kristen lainnya seperti Koptik, Etiopia, Georgian dan Rusian biasanya merayakannya di tanggal 7 Januari.

Soal di tanggal berapa Yesus dilahirkan, baik Injil Matius maupun Injil Lukas tidak menyebutkan secara pasti kapannya dan bahkan para ahli menyebut deskripsi yang ditampilkan dua Injil tersebut tidak sesuai dengan kenyataan historis. Kendati demikian, banyak ahli yang mengasumsikan bahwa Yesus dilahirkan antara tanggal 6 sampai 4 sebelum Masehi yang berarti kisaran empat atau enam hari sebelum tahun baru.

Sebut saja kelahiran Yesus Kristus ini sama dengan  peristiwa Nuzul al-Quran. Para ahli sejarah banyak yang mempersoalkan kapan Alquran pertama kali diturunkan. Ada yang berpandangan bahwa tanggal 17 Ramadhan merupakan tanggal turunnya Alquran. Ahli lain berpandangan bahwa al-Quran justru pertama kali diturunkan di tanggal 24 Ramadhan, yakni masuk ke dalam sepuluh hari terakhir yang dalam kepercayaan umat Islam dianggap sebagai malam-malam lailatul qadar.

Baik Yesus maupun Alquran kedua-duanya dianggap oleh penganut agama Kristen dan Islam sebagai firman Allah. Tentang apa dan bagaimana hakikat firman Allah ini masih diperdebatkan di kalangan para teolog. Di kalangan umat Kristiani sendiri, pernah terjadi perdebatan sengit di kalangan para uskupnya soal relasi Yesus Kristus sebagai Firman Allah dengan Allah Bapa: apakah firman Allah ini bersifat ilahi tak tercipta, kekal  dan co-eksisten dengan Allah atau kah tercipta dari tiada menjadi ada. Perdebatan ini pada tahap selanjutnya melahirkan kredo keimanan Kristen Resmi di konsili Nicea I. Konsili Nicea I menyatakan bahwa firman Allah yakni Yesus Kristus di zaman azali merupakan identik dan menyatu dengan Allah Bapa dan itu artinya kekal tak tercipta.

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Apakah Kita Ini Orang Penting

Dalam tradisi Islam, terjadi juga perdebatan sengit soal kedudukan Alquran sebagai kalam Allah ini apakah tercipta atau tidak tercipta. Perdebatan sengit terjadi antara kalangan Asya’riyyah dan Muktazilah. Pandangan mengenai keterciptaan firman Allah ini dipegang oleh Muktazilah dalam tradisi Islam dan dalam tradisi kesejarahan Kristen dipegang oleh Arianisme. Sedangkan pandangan mengenai ketidakterciptaan firman Allah dipegang oleh Asya’riyyah dan Gereja Resmi non Arianisme.

Baik muktazilah dalam Islam maupun Arianisme dalam Kristen, kedua-duanya dianggap sebagai sekte heretik (bid’ah) oleh ajaran resmi karena telah mengklaim bahwa Firman Allah itu tercipta. Lewat penjelasan singkat ini, kita melihat bahwa al-Quran dapat disepadankan dalam agama Kristen dengan Yesus Kristus dan bukan disepadankan dengan Injil. Dalam Islam, firman Allah mewujud nyata dalam bentuk kitab suci seperti al-Quran namun dalam Kristen, firman Allah ini mewujud nyata bukan dalam bentuk kitab suci, tapi dalam bentuk manusia bernama Yesus Kristus.

Injil seperti yang dikemukakan Ibnu Taymiyyah dalam al-Jawab as-Sahih lebih tepat diserupakan dengan kitab-kitab Sirah Nabawiyyah seperti Sirah Ibnu Ishaq, Sirah Ibnu Hisyam dan lain-lain.

Simpulnya, umat Islam tak perlu risau dengan ucapan selamat natal kepada umat Kristiani. Ucapan selamat terhadap mereka tidak harus diartikan sebagai ucapan menegaskan ketuhanan Yesus Kristus. Dalam kecamata Islam, sebut saja kelahiran Yesus Kristus di tanggal 25 Desember itu disamakan dengan peristiwa nuzul al-Quran yang dirayakan di tanggal 17 Ramadhan. Baik tanggal 25 Desember maupun tanggal 17 Ramadhan dirayakan sebagai hari turunnya Firman Allah; dalam Islam, firman Allah mewujud nyata dalam bentuk al-Quran dan dalam Kristen, firman Allah mewujud nyata dalam bentuk Yesus Kristus.

Baik tanggal 25 Desember di kalangan Kristen maupun tanggal 17 Ramadhan di kalangan muslim sama-sama masih diperdebatkan kesesuainnya dengan fakta historis. Namun terlepas dari perbedaan pendapat soal tanggal, baik Yesus Kristus dalam pandangan umat Kristiani maupun al-Quran dalam pandangan umat Islam sama-sama dianggap sebagai perwujudan dari firman Allah. Firman Allah harus ditempatkan di wadah yang suci dan steril. Dalam tradisi Kristen, firman Allah disimpan dalam rahim Bunda Maria yang perawan dan dalam tradisi Islam, firman Allah disimpan dalam diri Muhammad Saw yang ummi.

Soal apakah firman Allah ada bersama Allah atau tidak merupakan perdebatan teologis panjang di kalangan kedua agama tersebut. Allah A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here