Tafsir Ayat Mubahalah; Utusan Nasrani Najran Tantang Rasulullah Bermubahalah

0
5594

BincangSyariah.Com – Dalam mesin pencarian Google, setidaknya ada empat nama tokoh yang pernah diliput media menantang “lawan politiknya” melakukan sumpah mubahalah, keempat tokoh itu adalah Habib Rizieq, Anas Urbaningrum, Ahmad Dhani, dan Buni Yani yang baru-baru ini viral di media sosial. Apa itu mubahalah? Bagaimanakah ulama menjelakan mengenai mubahalah?

Kata mubahalah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mulai diserap sejak tahun 2016 yang bermakna ‘doa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk memohon jatuhnya laknat Allah Swt. atas siapa yang berbohong’. Menurut Ibn Faris dalam Maqāyis al-Lughah, akar kata b h l (ba, ha besar, dan lam dalam huruf hijaiah) itu memiliki tiga makna dasar ‘pengosongan, doa dengan jenis tertentu, sedikit air’. Mubahalah yang dimaksud di sini berasal dari makna yang kedua.

Sementara itu, Ibn Manzur dalam Lisan al-‘Arab menyebutkan bahwa bentuk masdar al-bahl bermakna ‘laknat’. Oleh karena itu, bahalahullahu bahlan berarti bermakna ‘Allah sangat melaknatnya’. Semantara itu, verba bāhala, tabāhala, dan ibtahala bermakna ‘saling melaknat’. Namun, kata yang terakhir, yaitu ibtahala, memiliki makna lain ‘berdoa dengan khusyuk, ikhlas dan sungguh-sungguh’.

Berikut aksara Arab kata-kata tersebut:

بَهَلَ، بَاهَلَ، تَبَاهَلَ، ابْتَهَلَ

Ayat tentang mubahalah terdapat dalam surah Ali Imran ayat 61. Allah Swt. berfirman:

فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ

“Siapa yang menentangmu tentang Isa setelah kebenaran datang, maka katakan pada mereka, “Hei kalian (utusan Nasrani Najran), panggillah anak-anak, istri, dan kita semua ini. Setelah itu, marilah kita bermubahalah. Siapa yang berdusta, semoga laknat Allah menimpa mereka.”

Latar belakang turunnya ayat ini disebabkan oleh utusan Nasrani Najran, sebuah kota yang saat ini berada di barat daya Arab Saudi, dekat dengan perbatasan Yaman, yang menantang Nabi bermubahalah terkait Isa as, apakah ia merupakan hamba Allah atau Tuhan. Hal ini sebagaimana tercatat dalam Jāmi‘ al-Bayān fi Ta’wīl al-Qur’ān karya Imam al-Thabari.

Dalam riwayat Imam al-Bukhari, sahabat Hudzaifah meriwayatkan ada dua orang pembesar Najran, yaitu al-Aqib dan al-Sayid yang menantang Nabi saw. untuk bermubahalah. Namun, salah satu dari keduanya agak khawatir atas ajuan tantangan tersebut. “Jangan deh, kalau Muhammad itu beneran Nabi, terus kita bermubahalah dengannya, kita dan anak cucu kita nanti tidak akan bahagia selamanya,” salah satu di antara keduanya saling berbisik.

Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan secara rinci mengenai riwayat-riwayat terkait peristiwa tersebut. Pada romobongan Nasrani Najran yang datang tersebut, Nabi saw. mencoba mengajak mereka masuk Islam dan membacakan ayat Alquran. Namun mereka menolak, dan malah menantang bermubahalah.

Tantangan mubahalah itu pun direspon Nabi saw. secara tegas dan berani karena Nabi saw. mendapatkan wahyu mengenai ayat yang di atas. Jika mubahalah itu terjadi, Nabi saw. sudah bersiap-siap mengikutsertakan Fatimah, Ali, Hasan, dan Husain. Namun, respon Nabi saw. mengenai mubahalah itu tidak mendapat jawaban dari Nasrani Najran.

Imam Ibnu Hajar menyebutkan riwayat Ibn Sa‘d yang menyatakan bahwa al-Aqib dan al-Sayyid pada akhirnya berdamai dan masuk Islam. Namun demikian, terdapat juga riwayat yang menyatakan bahwa Nasrani Najran akhirnya menyerah dan membayar upeti untuk umat Islam.

Imam Ibnu Hajar pun menceritakan pengalamannya terkait mubahalah demikian:

وَمِمَّا عُرِفَ بِالتَّجْرِبَةِ أَنَّ مَنْ بَاهَلَ وَكَانَ مُبْطِلًا لَا تَمْضِي عَلَيْهِ سَنَةٌ مِنْ يَوْمِ الْمُبَاهَلَةِ وَوَقَعَ لِي ذَلِكَ مَعَ شَخْصٍ كَانَ يَتَعَصَّبُ لِبَعْضِ الْمَلَاحِدَةِ فَلَمْ يَقُمْ بَعْدَهَا غَيْرَ شَهْرَيْنِ

Berdasarkan pengalaman, orang yang bermubahalah dan ia ternyata berbuat bohong, maka sumpahnya itu akan menimpanya tidak lebih dari setahun dari hari ia bermubahalah. Saya juga pernah mengalami hal demikian dengan orang yang fanatik terhadap sebagian orang-orang ateis. Tidak sampai dua bulan, orang itu terkena afatnya.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here