Tafsir Al-Qur’an tentang Pentingnya Rasa Syukur

0
1038

BincangSyariah.Com – Rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt. adalah sebuah kewajiban. Lebih-lebih atas nikmat iman-islam. Alhamdulillahi ala kulli halin wanikmatin. Betapa pentingnya rasa syukur pada Allah Swt., bukan hanya ketika mendapatkan nikmat, juga saat ditimpa ujian kita juga perlu bersyukur. Karena kadang ujian itu adalah sebuah teguran atas kelalaian kita dalam mengingat-Nya.

Paling sederhana dalam hal bersyukur adalah mengucapkan kalimat tahmid. Saat kita sampai pada tempat tujuan dengan selamat, sehabis makan, setelah bangun tidur, atau sehabis melakukan aktivitas sehari-hari, maka jangan lupa untuk bersyukur.

Tidak harus memenangkan undian baru bersyukur, tidak harus nama keluar saat arisan untuk bersyukur, tidak harus menjadi juara dalam pertandingan untuk bersyukur, tapi mata bisa berkedip secara normal sudah amat pantas kita syukuri.

Bernafas tanpa bantuan tabung oksigen bukankah termasuk nikmat yang luar biasa untuk kita? Karena banyak di luar sana yang untuk bernafas saja masih memerlukan alat buatan manusia yang tentunya tidak diberikan secara cuma-cuma. Berjalan tanpa bantuan kursi roda bukankah nikmat yang besar untuk kita? Karena banyak di luar sana yang kakinya tidak bisa berfungsi secara normal atau lumpuh.

Dalam artian, alasan apalagi yang akan membuat kita enggan bersyukur setelah melihat banyaknya kenikmatan yang telah Allah Swt. berikan pada makhluk-Nya? Bahkan dari saking banyaknya kita tidak akan mampu menghitung nikmat Allah Swt. yang telah diberikan pada kita. Jangankan yang kemarin atau yang akan datang, nikmat hari ini saja kita pasti sudah tidak sanggup menghitungnya.

Allah Swt. berfirman dalam Qs. An-Nahl (16) :18,

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Baca Juga :  Agar Rasa Syukur Kita Sempurna, Ini yang Harus Dihayati

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Dalam Tafsir Jalalain (j. 1 h. 216-217) dijelaskan bahwa kita tidak akan mampu menghitung nikmat dan mensyukurinya secara detail. Namun, Allah Swt. tetap akan mengampuni kita atas keterbatasan dan kemaksiatan kita untuk bersyukur pada-Nya.

Oleh karena itu, bersyukur adalah sebuah keharusan. Karena dengan bersyukur nikmat akan semakin meningkat. Bila tidak, maka azab akan semakin mendekat.

Dalam QS. Ibrahim (14): 7, Allah Swt. berfirman,

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

Dalam Tafsir Jalalain Juz 1/hal. 208 dijelaskan bahwa yang dimaksud mensyukuri nikmat Allah Swt. adalah mengesakan, menaati semua perintah, dan menjahui semua larangan-Nya. Sedangkan yang dimaksud kufur nikmat adalah dengan menyekutukan Allah Swt. atau dengan bermaksiat pada-Nya.

Dalam artian, cara mensyukuri nikmat bisa berbicara, maka gunakanlah untuk berdzikir padanya. Bukan menfitnah atau menggunjing orang lain. Mata digunakan untuk melihat tanda kekuasan Allah atau ayat suci Al-Quran, umpamanya. Bukan untuk melihat perkara maksiat. Kita gunakan anggota tubuh sesuai petunjuk agama, bukan sesuai kemauan nafsu.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here