Tafsir al-Maidah Ayat 51 dari Rashid Rida Hingga al-Tantawi

2
308

BincangSyariah.Com – Surah al-Maidah ayat 51 adalah salah satu ayat yang oleh sementara kalangan digunakan sebagai dalil bagi keharaman mengangkat non-Muslim sebagai pemimpin. Tulisan sederhana ini akan mencoba mendiskusikan ayat tersebut secara berimbang, dengan mengelaborasi kemungkinan makna ditinjau dari analisis makna dan konteks penurunannya. Harapannya, semoga tulisan ini bisa memberikan pandangan yang sedikitnya lebih mencerahkan dan melegakan, khususnya dalam masalah relasi antara muslim dan non-muslim.
Ayat yang akan kita diskusikan ini ialah:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali; sebagian mereka adalah wali bagi sebagian lain. Barang siapa di antara kamu menjadikan mereka wali, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.” (Q.S. al-Maidah [5]: 51).

Makna Literal

Secara sederhana, kita memahami bahwa ayat di atas melarang kita menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai wali, karena mereka adalah wali bagi sebagian yang lainnya. Pertanyaannya, apa makna kata wali? Kata wali dalam bahasa Arab merupakan salah satu bentuk homonim, satu kata punya banyak makna. Muhammad Sayyid al-Tantawi, mantan imam besar al-Azhar, dalam tafsirnya al-Wasit menjelaskan, kata awliya adalah bentuk jamak dari wali, yang bermakna penolong (al-nasir), teman baik (al-sadiq), dan kekasih (al-habib).”

Sementara Wahbah al-Zuhayli, dalam tafsirnya menuturkan, kata awliya maknanya penolong-penolong (nusara) dan sekutu-sekutu (hulafa), yang kalian bela dan cintai. Dari penjelasan kebahasaan kita dapat pahami bahwa Allah melarang kita menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai penolong, teman setia, dan sekutu, yang kita bela dan cintai, karena hakikatnya mereka bersatu memusuhi kita.

Guna memahami ayat di atas secara lebih memadai, kita perlu mengetahui konteks yang mengiringi proses penurunan ayat. Hal ini mengingat fakta bahwa al-Qur’an merupakan respon Ilahi terhadap realitas sosial yang berkembang saat itu. Memahami konteks dengan demikian akan sangat menunjang bagi pemahaman teks.

Konteks Penurunan

Rashid Rida, dalam Tafsir al-Manar memaparkan, setibanya di kota Madinah, Nabi membuat kesepakatan dan perjanjian dengan kaum Yahudi, yang kemudian ditulis dalam piagam Madinah. Piagam ini disusun sebagai perekat yang diharapkan dapat mempersatukan berbagai agama dan suku yang sebelumnya sering kali berkonflik. Di antara isi dokumen itu, “Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum mukminin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang dzalim dan jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarganya. ”

Bangsa Yahudi yang mendiami Madinah terdiri dari tiga golongan; Bani Qaynuqa, Bani al-Nadir, dan Bani Quraydzah. Namun pada perkembangannya, Bani Qaynuqa memerangi Nabi setelah peristiwa perang Badar. Selang enam bulan kemudian, Bani Nadir juga mengkhianati kesepakatan. Sebagaimana dituturkan oleh al-Bukhari, mereka berkonspirasi untuk membunuh Nabi namun gagal, dan peristiwa ini menjadi sabab al-nuzul bagi pewahyuan Q.S. al-Maidah [5]: 11. Bani Quraydzah akhirnya juga melanggar perjanjian ketika terjadi peristiwa perang Khandaq, di mana mereka memilih beraliansi dengan kaum musyrikin Mekkah yang tengah mengepung Madinah.

Baca Juga :  Bendera HTI Bukan Bendera Rasulullah

Rasyid Rida lebih lanjut menuturkan, kaum Nasrani Arab pada saat itu, seperti halnya Yahudi, juga memusuhi Rasulullah, terutama sekutu-sekutu imperium Romawi Timur. Inilah, kata Rida, yang merupakan sebab umum (sabab al-‘am) bagi larangan beraliansi dengan ahli kitab yang dimuat dalam ayat ini.

Sementara mengenai sebab khusus al-Maidah ayat 51, terdapat ragam riwayat yang menjelaskannya, namun meskipun beragam, semua riwayat ini memiliki atmosphere yang sama, yakni larangan beraliansi dengan mereka yang nyata-nyata memusuhi kita. Di antaranya, riwayat yang dituturkan oleh at-Tabari dalam tafsirnya; ‘Ubadah bin al-Samit berkata: ketika Bani Qaynuqa memerangi Rasulullah, Abdullah bin Ubayy (pemimpin kaum munafik) mendukung dan membela mereka. ‘Ubadah bin al-Samit lantas bergegas menemui Rasulullah. Dia adalah salah satu anggota Bani ‘Auf bin Khazraj. Sebelumnya, dia beraliansi dengan Yahudi sebagaimana halnya Abdullah bin Ubayy. Namun ‘Ubadah melepaskan pertalian itu dan berlepas diri dari koalisi mereka, demi mengharap rida Allah dan Rasul-Nya. Dia berkata: wahai Rasulullah, aku berlindung kepada Allah dan Rasulnya dari persekongkolan dengan mereka. Saya hanya loyal terhadap Allah, Rasul-Nya, dan kaum mukmin, dan berlepas diri dari kongsi dan persekutuan kaum kafir.

Dari pemaparan di atas, dapat kita pahami bahwa situasi yang sedang terjadi saat itu adalah situasi perang, pengkhianatan, dan persekongkolan, yang merugikan komunitas Muslim. Nabi yang pada awalnya bersikap adil dan toleran harus merubah stragtegi dalam hal menyikapi Yahudi, mengingat mereka terlebih dahulu melakukan berbagai pelanggaran dan pengkhianatan. Logikanya, bagaimana mungkin saya bisa berkerjasama dengan pihak yang acap kali menikam dari belakang, jika saya tidak sedang bunuh diri?

Tafsir Makna
Berdasarkan konteks dari Q.S. al-Maidah [5]: 51 di atas, makna paling logis yang bisa kita pahami adalah bahwa ayat ini melarang kita berkoalisi dan beraliansi dengan Yahudi dan Nasrani, yang tidak memihak dan justru memusuhi kita. Dengan demikian, ‘illat larangan berkoalisi dan ber-‘teman baik’ dengan mereka adalah karena mereka memerangi kita (kafir harbi), bukan karena mereka berbeda keyakinan dengan kita. Berdasarkan hal ini, ayat ini tidak menunjukkan larangan bergaul dan berinteraksi secara normal dengan non-muslim yang mematuhi perjanjian (ahl al-‘ahd) ataupun yang berdamai dengan kita (ahl al-dhimmah).

Jika alasan larangan terletak pada perbedaan keyakinan, bukankah Rasulullah sendiri hidup berdampingan dengan Yahudi di Madinah secara harmonis dan memperlakukan mereka secara adil? Dalam suatu riwayat, bukankah Nabi menjenguk tetangga Yahudi yang sedang sakit keras? Bahkan ketika Nabi meninggal, bukankah baju zirahnya digadaikan di tangan seorang Yahudi?

Rasyid Rida dalam hal ini menegaskan, konteks larangan ini adalah jika individu atau pun golongan tertentu dari umat muslim beraliansi dengan orang Yahudi dan Nasrani yang jelas-jelas memusuhi Nabi dan kaum muslim, karena mengharap bantuan mereka jika kaum muslim mengalami kekalahan. Larangan beraliansi dengan Yahudi dan Nasrani ini sama dengan larangan berkoalisi dengan kaum Musyrikin sebagaimana difirmankan Allah:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia sehingga kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muh{ammad), karena rasa kasih sayang.” (Q.S. al-Mumtahanah [60]: 1)

Baca Juga :  Bangkai Hewan yang Halal Dimakan

Pada ayat di atas, jelas bahwa ‘illat larangan berteman setia dengan mereka adalah karena mereka memusuhi Allah dan Rasul-Nya. Mafhum Mukhalafah-nya, jika mereka berdamai dengan umat Islam, maka hukum larangan beraliansi dengan mereka tidak berlaku lagi. Hal ini sesuai dengan kaidah fiqhiyyah, الحكم يدور مع علته وجودا وعدما , “ada dan tidaknya suatu hukum tertantung pada keberadaan ‘illat-nya.” Terkait dengan poin ini, sebagai penjelasan lanjutan dari ayat pertama di atas, Allah ta‘ala berfirman:

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangmu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesunguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Q.S. al-Mumtahanah [60]: 8). Ayat ini secara jelas menegaskan bahwa larangan beraliansi dan berteman baik dengan non-muslim sebabnya adalah sikap permusuhan mereka, dan bukan karena perbedaan agama dan keyakinan.

Dalam konteks ini, ketika menafsirkan Q.S. al-Maidah [5]: 51, Sayyid al-Tantawi mengajukan sebuah pertanyaan, “apakah larangan ini bersifat mutlak?” Jawabanya, non-muslim itu terbagi menjadi tiga golongan. Yang pertama: non-muslim yang hidup berdampingan secara harmonis dengan muslim dan tidak melakukan hal yang merugikan kita. Tidak tampak juga pada mereka hal yang membuat kita curiga. Mereka ini wajib diperlakukan sebagaimana kita memperlakukan sesama muslim. Tidak ada larangan bagi kita untuk berbuat baik dan bersahabat dengan mereka, bahkan itu dianjurkan.

Golongan kedua: non-muslim yang memerangi kaum muslim dan dengan berbagai cara berusaha menyakiti mereka. Golongan inilah, menurut al-Tantawi, yang dimaksud oleh ayat ini dan ayat-ayat sejenis. Kita tidak boleh beraliansi dan berteman setia dengan mereka, karena hal ini sama dengan bunuh diri. Golongan ketiga: mereka yang tidak menampakkan permusuhan kepada kita, namun banyak indikasi yang menunjukkan mereka tidak suka kepada kita dan justru menyukai musuh kita. Islam, imbuh al-Tantawi, mengajarkan kita untuk bersikap hati-hati terhadap mereka namun tidak menyerang mereka.

Berdasarkan uraian di atas, larangan beraliansi yang dimuat oleh al-Maidah ayat 51 hanya berlaku bagi kafir harbi, yakni golongan yang secara terang-terangan memusuhi dan memerangi umat Islam. Bagaimana pun, beraliansi dengan musuh karena mengharap keuntungan pribadi, kapan pun dan di mana pun, merupakan sikap munafik dan khianat yang dapat merugikan bangsa dan agamanya. Dan memang, sebagaimana ditekankan oleh al-Tabari dalam tafrisnya, meskipun terdapat silang pendapat mengenai asbab nuzul ayat ini, tapi yang pasti adalah bahwa ayat ini turun berkaitan dengan orang munafik yang memilih beraliansi dengan Yahudi atau Nasrani, karena khawatir mengalami musibah dan kekalahan.

Adapun non-Muslim yang bersikap adil dan damai, maka justru kita harus melindungi mereka sebagai mana kita wajib melindungi diri kita sendiri. Dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Nabi bersabda: “barang siapa menzalimi non-muslim yang berdamai (mu‘ahid), menghinanya, membebaninya di luar kemampuan, atau merampas sesuatu darinya secara paksa, maka aku adalah musuhnya di hari kiamat.”
Pada sekup yang lebih luas, terkait relasi dengan non-muslim yang berdamai, Rashid Rida menurutkan sebuah kisah yang menarik. Belaiu menuturkan:

Baca Juga :  Apakah Boleh Anak Sendiri Menikah dengan Anak Tiri?

“Ketika saya berkesempatan mengunjungi Madrasah Dar al-Funun di Istanbul pada tahun 1328 H. dan berkeliling melihat ruang-ruang para pengajar, secara kebetulan saya mendapati seorang guru menafsirkan ayat ini (al-Maidah ayat 51). Ketika dia mengukuhkan pendapat al-Baydawi (yang berpendapat bahwa ayat ini melarang kita bertumpu dan bergaul secara penuh kasih sayang dengan Yahudi dan Nasrani dalam segala hal), salah seorang pelajar Turki berdiri dan bertanya: “jika demikian halnya, lantas mengapa negara mengangkat sebagian Yahudi dan Nasrani sebagai menteri, pejabat, delegasi, dan pegawai?” Pertanyaan ini membuat sang guru kaget sampai ia berkeringat. Terlebih, pemerintahan militer di negara itu akan menghukum siapa saja yang melawan undang-undang. Saya, kata Rida, berbicara kepada si guru: “bolehkah saya menjawab pertanyaan ini?” Dia menjawab: “silakan.” Saya pun mulai menjelaskan bahwa hal yang dilarangan ayat tersebut adalah menjadikan non-muslim yang memusuhi kita sebagai aliansi dan sekutu. Ayat ini sama sekali tidak berarti larangan bagi pemerintah untuk mengangkat dan mempekerjakan non-muslim yang tidak memerangi kita. Pendapat ini tidak sesuai dengan konteks ayat.”

Menurut pandangan Rida di atas, ayat 51 dari al-Maidah di atas tidak dalam kapastiasnya melarang kita untuk bekerja sama dengan non-muslim dalam ranah profesional, termasuk pos-pos pemerintahan tertentu, sepanjang tidak memusuhi kita atau bekerja sama dengan musuh. Melihat konteks penurunannya, ayat ini sedang memperingatkan komunitas muslim jangan sampai mereka melakukan pengkhianatan sebagaimana dilakukan oleh kaum munafik yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay. Orang yang memilih loyal dan beraliansi dengan kaum Yahudi yang nyata-nyata memusuhi Nabi dan para sahabat, maka ia tak jauh berbeda dengan mereka, bahkan termasuk golongan mereka.

Kesimpulan
Tulisan ini tidak memiliki kepentingan selain tuntutan keilmuan. Kesimpulan yang bisa ditarik adalah bahwa Q.S. al-Maidah [5]: 51 melarang individu ataupun golongan umat Islam, yang karena mengharap imbalan tertentu, memilih beraliansi dan bersekutu dengan non-muslim yang jelas-jelas memusuhi umat Islam secara keseluruhan. Tindakan seperti itu merupakan laku kemunafikan, karena sama dengan mengkhianati kaumnya sendiri. Namun demikian, mengingat ‘illat larangan ayat ini adalah permusuhan dan bukan perbedaan keyakinan, maka bekerjasama dengan non-muslim yang berdamai dalam ranah keduniaan tidak dilarang, bahkan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik dan adil bagi siapapun, termasuk kepada non-muslim.

Nabi sendiri telah banyak memberikan teladan yang baik mengenai bagaimana kita berhubungan harmonis dengan mereka. Dalam hubungan kemanusiaan yang lebih luas, ayat ini tidak sedang membatasi kemurahan Islam. Sepanjang golongan non-muslim tidak membahayakan, tak ada keharaman bagi kita untuk hidup berdampingan dan saling bahu-membahu membangun dan mensejahterakan bangsa dan negara. Mereka mendapatkan hak yang sama dengan kita, seperti halnya mereka memikul kewajiban yang sama dengan kita, لهم ما لنا، وعليهم ماعلينا .

2 KOMENTAR

  1. Lalu apa kesimpulan nya tentang memilih pemimpin non muslim? saya pikir coba lihat juga ayat yg menyebutkan bahwa mereka tidak suka sampai kita mengikuti agama mereka, al-baqoroh :120. Dengan begitu apa iya kita mesti memilih pemimpin yg bukan seakidah dengan kita…???

    • Surah al-Baqarah yang Anda sebutkan itu tidak berkaitan dengan politik. Politik masalah duniawi, yang mana Nabi menyerahkan masalah duniawi pada ijtihad pemikiran manusia. “Mereka tidak suka sampai kita masuk ke agama mereka” ini masalah akidah. Terkait akidah, memang betul kita harus fanatik dengan ajaran kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here