Tafsir Al-Isra’ Ayat 23-24: Akhlak Kepada Orang Tua

2
23689

BincangSyariah.Com – Setiap insan tentu mempunyai orang tua yang telah melahirkannya dan merawatnya. Tak perlu diragukan lagi, hampir kebanyakan orang tua sangat menyayangi anaknya sampai tua kelak. Sebagai anak, tentu kita haruslah mempunyai sikap yang baik kepada orang tua kita. Dan Islam sudah mengaturnya tentang bagaimana baiknya akhlak kepada orang tua.

Allah berfirman dalam Q.S Al-Isra’ ayat 23,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا

Artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

Menurut Mujahid Lafadz waqadla pada awal ayat tersebut berartikan sebuah perintah. Sehingga pada awal ayat ini terdapat dua perintah yang bisa dikatakan seimbang. Pertama, larangan menyekutukan Allah. Kedua, berbuat baik kepada orang tua. Hal tersebut menandakan satu hal, yakni orang tua mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di hadapan Allah Swt.

Sebagai penguat, tentu kita sudah tak asing dengan satu hadits tentang ridho orang tua. Nabi Saw. bersabda, “Ridho Allah berada dalam ridho orang tua, dan Murka-Nya berada dalam murka orang tua.”. hadits tersebut sangat jelas menyatakan kedudukan orang tua yang sangat tinggi di hadapan-Nya.

Menurut Sayyid Qutb, susunan ayat yang seperti itu merupakan sebuah dekralasi akan tingginya nilai berbakti kepada orang tua di sisi Allah Swt atau disebut juga birrul-walidain. Dalam tafsir Al-Misbah disebutkan bahwa lafadz “ihsana” dapat berarti memberi nikmat kepada orang lain atau perbuatan baik. Dan lafadz tersebut lebih kuat maknanya dari lafadz adil.

Baca Juga :  Setiap Kebaikan Akan Dibalas Kebaikan

Pada redaksi selanjutnya baru disebutkan contoh perilaku yang termasuk birrul-walidain. Pertama, janganlah mengucapkan kata “ah” dihadapan kedua orang tua. Menurut Ibnu Katsir, kata “ah” merupakan sebuah kata yang buruk dan paling ringan. Sehingga kita dilarang mengucapkan kata tersebut, apalagi sampai mengucapkan kata yang menyakitkan.

Kedua, dilarang membentak orang tua. Ibnu Katsir mengatakan bahwa redaksi tersebut memberi artian larangan melawan orang tua, terlebih melawannya dengan menggunakan tangan. Jangan sampai hanya karena kita merasa berbuat benar, sehingga berani membentak orang tua yang sudah membesarkan kita.

Ketiga, ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Menurut Wahbah al-Zuhaili, kata kariim dapat berarti lembut, baik yang disertai dengan penghormatan, tatakrama, sopan dan penuh pengagungan. Hal tersebut menandakan perlunya kehati-hatian dalam mengucapkan perkataan kepada keduanya. Tentu supaya tidak ada satu kata pun yang dapat menyakitinya.

Pembahasan dilanjutkan pada ayat 24:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Artinya: Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

Keempat, merendahkan diri di hadapan orang tua. Maksudnya ialah kita senantiasa menaati perintahnya selama tidak berada di jalan maksiat kepada Allah. Karena itu merupakan suatu bentuk kasih sayang kepada mereka. Dan jangan pernah merasa tinggi dengan keilmuan dan kekayaan yang kita miliki di hadapan mereka.

Kelima, berdoalah untuk mereka. Sudah semestinya kita senantiasa mendoakan kedua orang tua kita. Dan dalam ayat tersebut, kita diperintahkan oleh Allah Swt. untuk berdoa agar kedua orang tua kita diberi kelimpahan kasih sayang dari Allah sebagaimana dahulu mereka mendidik dan mengasihi kita semasa kecil.

Baca Juga :  Peran BI-7-Days Reverse Repo Rate pada Kebijakan Fiskal Kontraktif

Kelima sikap tersebut merupakan sedikit dari banyaknya akhlak kepada orang tua. Yang terpenting, kita haruslah senantiasa berbuat baik dan mendoakan kepada mereka. Semoga kita diberikan kemudahan untuk senantiasa melakukan hal tersebut. Aamiin.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here