Tafsir Al-Isra’ 26-27: Larangan Bersikap Boros dan Perintah Menolong yang Kesulitan

0
463

BincangSyariah.Com– Ekonomi menjadi salah satu dampak yang sangat nyata dirasakan oleh masyarakat pada masa pandemi ini. Sehingga banyak orang yang terpaksa menutup usahanya, dan banyak juga yang harus dirumahkan oleh pemilik usaha. Di saat seperti ini, tentu orang yang pandai mengatur pengeluarannya lah yang lebih siap dalam menghadapinya.

Tentang pengeluaran keuangan ini, Islam telah melarang kepada umat-nya untuk pandai mengatur uang dan tidak boros. Dalam Q.S Al-Isra’ ayat 26:

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا

Artinya: “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

Pada awal ayat dijelaskan tentang bagaimana kita harus menjaga hablu-minannas kita. Dan jika dicermati, sangat relevan di masa pandemi ini. Ya, kita haruslah berbagi kepada keluarga dekat kita dan juga tetangga kita. Terlebih mereka yang sangat butuh bantuan kita. Dan pada akhir ayat dikatakan bahwa kita dilarang untuk bersikap boros terhadap harta kita.

Dalam menafsirkan ayat ini, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa perbuatan tabdzir atau pemborosan ini ialah menginfakkan harta di jalan yang salah atau keliru. Karena bagaimanapun seharusnya kita tetap bersikap rendah hati dalam menyikapi harta kita. Dan jangan sampai dapat membuat kita terlena oleh hal tersebut.

Mujahid pun sepakat dengan pendapat tersebut. Menurutnya, seluruh harta yang diinfakkan itu bukanlah ukuran yang boros. Akan tetapi seseorang yang menginfakkan hartanya walaupun seukuran telapak tangan, maka itu sudah termasuk ke dalam tabdzir. Perbandingan ukuran tersebut memang seringkali terbalik bagi kehidupan masyarakat kita.

Dan larangan tersebut diperkuat oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Rasulullah Saw. bersabda (artinya):

Baca Juga :  Tafsir Surat al-Waqi’ah Ayat 13 – 14: Umat Terdahulu atau Umat Nabi Muhammad yang Paling Banyak di Surga ?

Sesungguhnya Allah meridlai tiga hal bagi kalian dan murka apabila kalian melakukan tiga hal. Allah ridha jika kalian menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan (Allah ridla) jika kalian berpegang pada tali Allah seluruhnya dan kalian saling menasehati terhadap para penguasa yang mengatur urusan kalian. Allah murka jika kalian sibuk dengan desas-desus, banyak mengemukakan pertanyaan yang tidak berguna serta membuang-buang harta.” (HR. Muslim no.1715)

Perhatikan redaksi terakhir dari hadits tersebut. Dikatakan bahwa Allah murka kepada orang-orang yang sering membuang-buang hartanya. Karena sejatinya perilaku tabzir merupakan salah satu saudaranya syaithan. Sebagaimana Q.S Al-Isra’ ayat 27,

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

Artinya: Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

Pada ayat ini dikatakan bahwa orang yang bersikap tabdzir termasuk saudaranya syaithan. Dan ini menjadi sebuah penegas bahwa tabdzir itu merupakan suatu perilaku yang buruk. Tidak hanya menjadi kuffur nikmat yang telah diberikan oleh Allah, tetapi juga tidak ingat akan sesama yang membutuhkan, baik kepada tetangga maupun orang asing sekalipun.

Menurut Ibnu Asyur, lafazh ikhwan diartikan sebagai kebersamaan. Oleh karenanya antara pelaku tabdzir dan syaithan itu bersatu dan enggan untuk berpisah. Dan menurut Thabathaba’I syaithan itu akan terus bersamanya selagi ia tetap berperilaku tabdzir.

Kandungan dari kedua ayat tersebut sepenuhnya memerintahkan kepada kita untuk senantiasa menjaga hubungan anatar sesama. Kita haruslah berperilaku baik dan mengasihi terhadap sesama. Selain itu kita pun dilarang oleh Allah Swt untuk memboroskan hartanya hanya semata-mata karena nafsu yang dimilikinya.

Semoga kita semua dapat mengambil hikmah di masa pandemi ini. Hilangkan perilaku tabdzir dari dalam diri kita dengan cara bersedekah dan tentunya menabung. Sehingga kita akan lebih siap apabila di masa depan terjadi musibah seperti ini. Wallohu a’lam bish-showab.

Tabik.

Baca Juga :  Ini Kunci Sukses Hidup di Dunia dan Akhirat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here