Tafsir Al-Infitar 10-19: Salah Kaprah Malaikat Kiraman Katibin

0
2499

BincangSyariah.Com – Bagi umat Islam, segala perbuatan yang dilakukan memiliki konsekuensi. Semua tindak tanduk, baik maupun buruk, bahkan setiap detail amal manusia tercatat rapi dalam kitab amalnya yang akan ia terima kemudian hari untuk selanjutnya dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt. Sebagian masyarakat beranggapan ada malaikat yang ditugasi Allah sebagi pencatat amal manusia tersebut yang bernama malaikat kiraman katibin, akan tetapi benarkah anggapan demikian?

Ayat yang biasa dirujuk ketika menyebut soal malaikat kiraman katibin adalah QS. Al-Infitar: 10-12 yang berbunyi sebagai berikut:

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ *** كِرَامًا كَاتِبِينَ *** يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ

Padahal sungguh pada diri kalian terdapat golongan yang mengawasi (10) Golongan mulia yang mencatat (perbuatanmu) (11) Mereka mengetahui apa yang kamu lakukan (12)

Kiraman berarti segolongan yang mulia. Menurut al-Biqa’i dalam tafsirnya, Nazmud Durar fi Tanasubil Ayat was Suwar, sifat ini menunjukkan ketaatan malaikat pencatat amal. Ia jujur dan amanah dalam menjalankan tugasnya. Sedangkan penyifatan dengan kata katibin bertujuan menekankan kompetensi malaikat tersebut sebagai penulis amal perbuatan, mengisyaratkan bahwa sang malaikat memang diciptakan dengan tugas hanya sebagai penulis amal, bukan yang lain.

Dengan demikian, kiraman katibin bukanlah nama dari malaikat pencatat amal, melainkan sifat yang disematkan padanya. Ini sebagaimana pada QS. Qaf: 17-18 mereka disebut dengan raqib dan atid yang sesunggunya berarti para pengawas.

Sifat-sifat tersebut tiada lain untuk menambah keyakinan kita bahwa sebanyak dan sedetail apapun perbuatan kita pasti selalu teramati dan akan tercatat di buku amal. Sampai-sampai pada QS. Al-Kahfi: 49 diceritakan kelak orang kafir akan mengeluh perihal ini dengan mengatakan, “Aduhai celakalah kami, kitab ini tidak meninggalkan (perbuatan) yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya”.

Baca Juga :  Ini Keutamaan Membeli Dagangan Orang yang Lemah

Dengan dicatatnya amal perbuatan, setiap manusia akan terbagi pada dua golongan besar: al-abrar dan al-fujjar. Allah berfirman pada ayat selanjutnya:

إِنَّ الأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ *** وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ *** يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ الدِّينِ *** وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَائِبِينَ

Sungguh golongan yang berbakti akan tinggal dalam kenikmatan (13) Sementara golongan yang durhaka benar-benar akan tinggal dalam perapian yang membara (14) Mereka akan dicampakkan pada Hari Penghakiman (15) Serta mereka takkan bisa melarikan diri dari sana (16)

Al-Razi mengatakan, al-abrar adalah hamba-hamba saleh yang amal kebaikannya melebihi amal keburukannya. Mereka akan diberi kenikmatan surga dan privilese lainnya. Sebaliknya, golongan al-fujjar, yaitu para pendosa akan dicampakkan ke dalam api neraka yang membara. Bila ia seorang muslim, azab tersebut hanya bersifat sementara baginya, sedangkan jika ia seorang kafir, ia akan selama-lamanya di neraka tanpa ada jalan keluar darinya. Dalam redaksi lain disebutkan, “khalidina fiha abadan”.

Selanjutnya Allah menggambarkan kondisi Hari Penghakiman kelak:

وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ *** ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ *** يَوْمَ لا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْئًا وَالأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ

Dan tahukah kamu apakah Hari Penghakiman itu? (17) Maka tahukah kamu apakah Hari Penghakiman itu? (18) (Yaitu) sebuah hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun terhadap seorang lain. Sementara segala urusan pada hari itu berada dalam kekuasaan Allah. (19)

Ayat di atas menerangkan bahwa tiada seorangpun yang berdaya dan berkuasa menolong orang lain ketika itu. Alih-alih demikian, bahkan masing-masing orang sibuk memikirkan nasibnya sendiri. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. ‘Abasa: 34-37 bahwa seseorang akan melarikan diri dari saudara, orang tua, pasangan dan anaknya. Di hari penghakiman, hanya rahmat dan kasih sayang Allah yang dapat diharapkan serta syafaat dari Nabi Muhammad dan orang-orang saleh yang diizinkanNya untuk memberikan syafaat pada orang lain.

Baca Juga :  Ternyata Ada Habib yang Tak Dikasihi Rasulullah, Siapa Mereka?

Demikianlah tafsir QS. Al-Infitar: 10-19 yang intinya adalah bahwa setiap gerak-gerik perilaku manusia akan dicatat oleh malaikat yang ditugaskan Allah swt. Sebagaimana yang dikatakan Abduh dan Buya Hamka, tidak penting mengetahui nama malaikat tersebut dan bagaimana teknis ia menjalankan tugasnya. Yang terpenting adalah setiap dari kita harus menyadari apa yang kita kerjakan akan selalu terpantau, ditulis dan akan dipertanggungjawabkan nantinya di hari kiamat. Semoga kelak kita tergolong orang-orang beruntung yang mendapatkan ridha dan surga-Nya, amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here