Tabarukan dengan Sandal Wali Allah

1
1240

BincangSyariah.Com – Dalam tulisan sebelumnya (Hukum Tabarrukan dengan Kasidah Burdah Milik Imam al-Busiri), penulis telah menyebutkan pendapat para ulama tentang kebolehan hukum tabarukan (mencari kebaikan Allah melalui sesuatu) dengan bekas Rasulullah saw. dan orang-orang saleh, seperti bajunya, peluhnya, rambutnya, ludahnya, sisa-sisa makanan dan minumannya dan lain sebagainya.

Menurut Habib Zain bin Ibrahim bin Smith (ulama dan sufi ternama kelahiran Jakarta tahun 1361 H. dan sekarang menetap di kota Madinah), tabarukan tidak hanya diperbolehkan dalam Islam, tetapi juga dianjurkan. Beliau membahas masalah tabarukan dalam Islam secara apik dalam karyanya yang berjudul al-Fawa’id al-Mukhtarah li Salik Thariq al-Akhirah (2008). Di sini beliau memaparkan beberapa dalil dan praktik tabarukan yang pernah dilakukan oleh para sahabat, Imam mazhab, habib, dan wali (hlm. 567-571).

Salah satu dalil tabarukan yang beliau sajikan dalam kitab al-Fawa’id al-Mukhtarah adalah perbuatan Rasulullah saw. yang mengafani putri tertuanya, Sayyidah Zainab ra. (istri Abi al-‘Ash bin ar-Rabi‘), dengan baju beliau sendiri. Hal ini dilakukan agar Sayyidah Zainab ra. memperoleh berkah dengan bekas (baju) Rasulullah saw. tersebut (hlm. 567).

Hal senada juga dilakukan kepada Sayyidah Fatimah bintu Asad ra., ibu kandung Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. yang pernah mengasuh dan mendidik Rasulullah saw. sewaktu masih kecil. Oleh karena itu, ketika beliau wafat, maka Rasulullah saw. mengafaninya dengan gamis milik Rasulullah saw. sendiri, berbaring dalam kuburannya, dan menguburkannya di dalam liang lahad dengan tangannya yang mulia.

Ketika kuburan tersebut sudah rata dengan tanah, beliau ditanya mengapa melakukan hal tersebut. Beliau menjawab: “aku mengafaninya agar dia mengenakan pakaian surga dan aku berbaring dalam kuburannya agar aku bisa meringankannya dari kesulitan dan kesengsaraan alam kubur. Sebab, sesungguhnya dia adalah makhluk Allah yang paling baik perbuatannya kepadaku setelah Abi Thalib.” Lalu, Rasulullah saw. menangis (hlm. 567).

Selain itu, para sahabat banyak yang tabarukan dengan bekas Rasulullah saw., baik rambutnya, air wudunya, kencingnya, maupun darahnya. Menurut Sayyidina Anas ra., ketika Rasulullah saw. bercukur, maka para sahabat mengelilinya untuk mendapatkan potongan rambutnya. Begitu juga ketika Rasulullah saw. berwudu. Mereka sama-sama bergegas mengambil air wudu Rasulullah saw. Bahkan ketika Rasulullah saw. berdahak, maka para sahabat mengusapkan dahak tersebut kepada tubuh mereka masing-masing (hlm. 568).

Sementara Ummu Aiman pernah meminum air kencing Rasulullah saw. Lalu, beliau bersabda: “Api neraka tidak akan masuk ke dalam perutmu.” Dalam kesempatan lain, Abu Thaibah dan ‘Abdullah bin Zubair meminum darah Rasulullah saw. ketika sedang bekam. Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang mencampuri darahnya dengan darahku, maka dia tidak akan disentuh api neraka.” Menurut Imam al-Bajuri, semua sisa Rasulullah saw., seperti kencingnya, kotorannya, dan darahnya adalah suci. Hal ini merupakan pendapat yang muktamad (hlm. 568).

Adapun tabarukan dengan sandal wali, menurut Habib Zain, ia lebih utama daripada tabarukan dengan barang lain yang dimiliki oleh sang wali. Sebab, sandal tersebut menopang seluruh tubuh sang wali. Disebutkan bahwa Habib ‘Abdullah bin Husain bin Thahir pernah menyimpan sandal beliau sendiri ke dalam peti yang pernah dipakai oleh Habib Hasan bin Shalih al-Bahr. Hal ini dilakukan dalam rangka tabarukan dengan Habib Hasan bin Shalih al-Bahr (hlm. 570). Menurut saudara penulis, Fahmi Saifuddin (pernah nyantri di Darul Musthofa yang diasuh oleh Sayyidil Habib Umar bin Hafiz, Tarim, Yaman, selama kurang lebih 4 tahun), Habib ‘Abdullah bin Husain bin Thahir adalah penulis matan kitab Sullam at-Taufiq (yang kemudian disyarahi oleh Imam Nawawi al-Jawi) dan kasidah Ya Arhamar Rahimin.

Dalam konteks Indonesia, tabarukan dengan sandal kiai dan wali banyak dijumpai di beberapa pesantren. Para santri biasanya memperbaiki posisi sandal sang kiai dan menempatkannya secara berbeda dengan sandal orang lain. Mereka tidak berani melangkahi―apalagi menginjak sandal sang kiai tersebut. Hal ini pernah penulis saksikan secara langsung ketika nyantri di Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar, Pamekasan, Madura, yang diasuh oleh KH. Muhammad Syamsul Arifin. Bahkan sebagian masyarakat (seperti di kampung penulis: Batukerbuy, Pasean, Pamekasan, Madura) juga tabarukan dengan sandal wali atau kiai seperti yang dilakukan para santri tersebut. Kebiasaan ini dilakukan ketika sang kiai bertamu atau menghadiri satu acara tertentu.

Kebiasaan semacam ini ternyata pernah dipraktikkan oleh Ibn Mas‘ud ra. Beliau menjadi khadam (pelayan) sandal Rasulullah saw. Ketika Rasulullah saw. melepas kedua sandalnya, maka Ibn Mas‘ud ra. menaruh ke dua sandal tersebut di lengannya dan menyediakannya ketika Rasulullah saw. hendak memaikanya. Rasulullah saw. memiliki kebiasaan mendahulukan kaki kanan ketika memakai sandal dan mendahulukan kaki kiri ketika melepasnya. Menurut Ibn al-Jawzi, barangsiapa istikamah mendahulukan anggota yang kanan ketika melakukan sesuatu akan diselamatkan dari penyakit limpa (Syekh Yusuf bin Isma‘il an-Nabhani, Jawahir al-Bihar fi Fadha’il a-Mukhtar Shallallahu ‘Alaih wa Sallam, III: 973). Wa Allah A‘lam wa A‘la wa Ahkam.

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here