Syekh Nuruddin ‘itr; Ulama Hadis Tanah Syam Tutup Usia

0
27

BincangSyariah.com- Innalillahi wa Inna Ilaihi Roji’un. Khazanah keilmuan hadis internasional kehilangan ulama kebanggaannya. Beliau adalah Syekh Prof. Nuruddin Muhammad Hasan ‘Itr, atau yang kerap dipanggil Syekh Nuruddin ‘Itr. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya tepat pada tanggal 23 September 2020 di usia yang ke-83 tahun, terhitung dari tahun kelahirannya pada tahun 1937 M/ 1356 H.

Ulama kelahiran Halab, sebuah daerah yang berada di Damaskus-Suriah, sering mengikuti majelis pengajian ulama-ulama besar. Kebiasaan ini ditanamkan oleh ayah Beliau yang juga keturunan seorang ulama besar dalam bidang hadis, yaitu Syekh al Najib Siraj al Husaini (kakek Syekh Nuruddin ‘Itr). Beliau juga sedari kecil telah mengenyam pendidikan agama secara intensif, yangmana mengantarkannya hingga ke jenjang lebih tinggi. (Baca: Ahmad bin Muhammad bin Shiddiq al-Ghumari: Ahli Hadis Abad 20 dari Maroko)

Syekh Nuruddin ‘Itr memperoleh gelar doktoral (S3) dari Universitas al Azhar, Kairo-Mesir pada tahun 1964 dengan predikat summa cumlaude. Beliau juga sempat mengajar pada sebuah instansi kependidikan di kota Madinah, Jami’ah Islamiyah, selama tiga tahun yakni 1965-1967. Kiprahnya mengantarkan Beliau untuk mengajar di Universitas Damaskus sejak tahun 1968. Hingga puncaknya, Syekh Nuruddin ‘Itr dikukuhkan menjadi guru besar bidang al Quran dan Hadis di tahun 1979 pada universitas yang sama.

Dedikasi Syekh Nuruddin ‘Itr juga tak perlu diragukan. Selain menjadi pengkaji yang konsen terhadap penelitian hadis, Beliau juga menjadi seorang Muhaqqiq dari kitab-kitab besar yang menjadi rujukan, sebut saja Muqaddimah Ibn Shalah karya Ibn Shalah (w. 643 H). Berbagai karya telah ditorehkan Beliau untuk memperkaya khazanah keilmuan hadis. Terhitung sebanyak 5 karya tahqiq, 9 karya ilmiah dan 6 karya riset telah ditulis olehnya.

Baca Juga :  Halalkah Barang Hanyut Terbawa Banjir?

Dalam karyanya Manhaj an Naqd fi Ulum al Hadis (h. 171-180), Syekh Nuruddin ‘Itr selain memaparkan kaidah-kaidah dan konsep pijakan metodologis dalam hadis, juga sempat memberikan pesan kepada para pengkaji hadis. Beliau menulis beberapa norma serta batasan yang seharusnya diperhatikan. Beberapa diantaranya adalah:

  1. menekankan bagi pengkaji hadis untuk ikhlas dan menempatkan seluruh usahanya dalam meneliti hadis untuk Allah SWT;
  2. Beliau menghimbau bagi pengkaji hadits untuk tidak menjadikan suatu hal dalam pengkajian hadis sebagai batu loncatan untuk hal-hal duniawi, namun selayaknya untuk kepentingan ilmu dan agama;
  3. Para pengkaji hadis harus mempelajari hadis dari orang-orang yang mempunyai otoritas kuat, yakni dengan kapasitas keilmuan agama yang tinggi serta wara’;
  4. Mengajarkan keilmuan hadis dengan kemampuan yang dimilikinya;
  5. Apabila diminta untuk menjawab perkara, hendaknya memberikan kehormatan pada orang yang lebih tua dan lebih alim untuk menjawabnya;
  6. Seorang muhaddits harus menggunakan sarana dan metode yang mempermudah pemahaman dan memberikan kesan yang dalam, sebagaimana yang ditempuh Rasulullah saw. dalam menyampaikan hadits kepada para sahabat;
  7. Seseorang yang paling alim tentang hadits sudah seharusnya jauh dari sifat riya’ dan cinta dunia agar mendapat percikan kemuliaan dari hadits Rasulullah saw.

Kepergian Syekh Nuruddin ‘Itr membawa duka yang mendalam bagi semua kalangan, khususnya para pengkaji keilmuan hadis. Semoga dedikasinya membawa berkah dan teladan bagi keberlangsungan keilmuan hadis di dunia internasional.

Wallahu A’lam bi as Showaab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here