Syekh Ali Jum‘ah Anggap Ideologi Khilafah Sumber Pertikaian

0
1012

BincangSyariah.Com – Haruskah khilafah kembali berdiri? Bagaimana ulama Rabbani memahami arti khilafah dalam Islam? Pertanyaan tersebut muncul dari warganet yang bertanya melalui Facebook pada Syekh Ali Jum’ah, ulama yang bermadzhab Syafi’i dan akidah Asy’ari dari Mesir. (Baca: Ustadz Ahong Kritik Pemahaman Hadis Hafidz Abdurrahman di Film Jejak Khilafah di Nusantara)

Syekh Ali Jum’ah yang bernama lengkap Abu Jundah Nuruddin Ali bin Jum’ah bin Muhammad bin Abdul Wahhab bin Salim bin Abdullah bin Sulaiman menjawab pertanyaan tersebut dengan mengutip sebuah hadis:

“Hendaknya kalian selalu berpegang pada sunnahku, dan sunnah (metode) Khulafaurasyidin yang mendapat petunjuk, setelahku. Berpegang teguhlah pada mereka.”

Ia memaparkan bahwa Rasulullah Saw. bermaksud menjelaskan pada umatnya bahwa penerapan ajaran yang global dalam Al-Qur’an dan hadis akan terwujud dalam beberapa waktu yang berbeda di beberapa tempat yang berbeda dan dengan orang-orang yang berbeda dan keadaan-keadaan yang berbeda pula.

Oleh sebab itu, beliau menggabungkan metode khulafaurasyidin yang mendapat petunjuk sebagai semacam dalil dan petunjuk bagi umatnya. Misalnya, penerapan-penerapan yang dilakukan Umar al-Faruq di mana tokoh negara membuat catatan-catatan, membentuk pasukan, mengatur organisasi dan seterusnya.

Atau, penerapan yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz yang melayani Al-Qur’an, membangun peradaban, membagi-bagi zakat dan seterusnya hingga menyeluruh. Semua ini adalah penerapan-penerapan yang dilaksanakan meskipun tidak luput dari kesalahan tapi terjaga dan terpercaya dari Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw. juga bermaksud menjelaskan kepada umatnya melalui hadis tersebut bahwa penerapan yang dilaksanakan bukanlah sebuah pemikiran dan bahwasanya ketika Al-Qur’an datang kepada umat Islam, maka datangnya adalah untuk menjelaskan dan menunjukkan kita pada jalan yang lurus.

Lalu bagaimana umat Islam menerapkannya? Beliau bersabda: “Selalu kalian pegangi sunnahku.”

Baca Juga :  Membaca Hizib menurut Syekh Ali Jum’ah

Sunnah beliau adalah penerapan oleh seorang yang maksum pada Al-Qur’an yang berkah. Oleh sebab itu, sunnah adalah salah satu inti sumber syariat dan tidak bisa ditinggalkan dan sunnah (metode) Khulafaurasyidin adalah sunnah yang mendapat petunjuk setelah wafatnya Nabi Muhamamad Saw.

Maka dari itu, ahli sunnah menjunjung tinggi empat khalifah yakni Abu Bakar, Utsman bin Affan, Umar al-Faruq dan Ali bin Abi Thalib. Para ahli sunnah melihat pada hal-hal yang telah mereka berikan kepada umat Islam adalah hasil ijtihad yang maksimal serta penerapan syariat secara maksimal dalam kehidupan nyata manusia.

Dalam kitab Musannaf Ibn Abi Syaibah dipaparkan bahwa ada seseorang yang membawa pencuri kepada khalifah Utsman. Dia berkata, “Orang ini telah mencuri, potonglah tangannya.” Utsman bertanya pada orang tersebut, “Apakah engkau mencuri? Katakan ‘tidak’.” Sayyidina Utsman berkata pada yang dituduh mencuri, “Katakan ‘tidak’.” Orang itu berkata, “Tidak, saya tidak mencuri.” Utsman berkata, “Pergilah.”

Utsman adalah orang yang paham agama dan amat memahami bahwa hukuman bukan untuk mengalirkan darah dan bukan untuk menjatuhkan hukuman. Hukuman justru berguna untuk menghalau.

Kita lalu berkata, “jangan mencuri, sebab akan dihukum potong tangan.”

Orang takut mencuri dan dibuka oleh Tuhan kita, tidak Dia tutupi. Maka Sayyidina Utsman memahami hal ini dengan pemahaman agama yang mendalam dan memahami mendalam yang dipelajari dari Rasulullah Saw.

Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syabiah, hal ini tidak akan bisa sampai pada hati mereka para ekstremis. Apa yang mereka inginkan dan bagaimana mereka memahami? “Adapun orang laki-laki maupun perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya.”

Lantas jika ada pencuri, maka sekarang potong tangannya dan seterusnya. Hal seperti itu serupa dengan syarat yang tidak terpenuhi, seperti sholat tanpa berwudhu. Dia tidak tahu bahwa salah satu syarat shalat adalah bersuci, wudhu, menghadap kiblat, masuk waktu. Orang yang mengambil kesimpulan tersebut tidak memiliki teori ‘syarat’.

Baca Juga :  Apakah Nafkah Kebutuhan Kosmetik Istri Wajib Dipenuhi Suami?

Nabi mengkhabarkan bahwa ada khalifah. Namun, beliau juga mengkhabarkan bahwa ketika tidak ada khalifah atau terputus, maka kita jangan menampakkan khalifah lagi setelahnya. Kenapa? Karena dalam keadaan tersebut, umat Islam sedang berada dalam keadaan tercerai-berai dan lemah. Dalam keadaan tersebut tidak memungkinkan untuk mengembalikan khilafah lagi.

Ketika berusaha mendirikan khilafah lagi, seperti apa yang dilakukan Al-Qaeda, Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, ISIS dan sejenisnya, apa yang akan terjadi?

Syekh Ali Jum’ah menjawab bahwa umat Islam akan menjadi mainan pihak lain yaitu para musuh agama. Ia bertanya, “Siapa yang memberi senjata pada ISIS? Siapa yang membuat Al-Qaeda? Siapa yang mempermainkan Ikhwanul Muslimin semenjak mereka nampak, dan melalui seorang bernama Said Ramadhan dia keluarganya yang tinggal di Swiss. Siapa yang melakukan semua ini? Pihak lain. Kenapa? Maka menjadi mainan yang dikendalikan oleh tangan pihak lain. Inilah permasalahannya.”

Syekh Ali Jum’ah menegaskan bahwa Rasulullah Saw. tidak memerintahkan umat Islam untuk mengupayakan khilafah dan mendirikan untuk kedua kalinya. “Rasulullah Saw. justru memerintahkan kita menarik tangan kita dan menghadap kepada Allah Swt. dengan rendah diri.” Pungkasnya.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here