Syekh Ali Jaber: Jangan Kaitkan Penusukan Saya dengan Masalah Politik

2
1196

BincangSyariah.Com – Dai asal Madinah, Arab Saudi, yang kini sudah menjadi Warga Negara Indonesia mengalami peristiwa yang tidak mengenakan dirinya. Ia ditusuk oleh orang yang tak dikenalinya. Penusukan Syekh Ali Jaber ini terjadi pada Minggu (13/9/2020)(Baca: Kronologi Penusukan Syekh Ali Jaber di Lampung)

Dalam tayangan podcast Deddy Corbuzier, Syekh Ali Jaber menjelaskan awal mula dirinya diserang oleh orang tak dikenal. Secara spontan, orang tak dikenal yang belakangan diketahui berinisial AA, menyerang Syekh Ali Jaber dengan cara ditusuk melalui arah sebelah kanannya. Untungnya, ulama asal Madinah itu menghindar sehingga hanya lengannya yang tertusuk. Bila tidak menghindar, kemungkinan besar Syekh Ali Jaber terkena lehernya. (Baca: Mengenal Syekh Ali Jaber: Dai Madinah yang Mencintai Indonesia)

“Bagi saya ini pengalaman baru. Selama di Indonesia sudah 12 tahun, saya itu enggak pernah menyakiti orang. Maupun agama manapun atau kelompok manapun enggak pernah saya bahas. Saya selalu berusaha menjadi orang baik,” ujar ulama asal Madinah, Arab Saudi, yang sudah menjadi Warga Negara Indonesia (WNI).

Meskin demikian, Syekh Ali Jaber mencegah jamaah yang hadir untuk menghakimi penusuknya tersebut.

“Saat itu saya hanya ucapkan innalillahi wa inna lillahi raji’un karena tertimpa musibah. Saya tidak memikirkan apa motif dan siapa orangnya,” ujar ulama yang seringkali menjadi juri tahfiz Al-Qur’an.

Saat ditanya Deddy mengenai motif pelaku, Syekh Ali Jaber enggan menduga-duga dan mengaitkannya dengan masalah apapun.

“Saya anggap ini masalah saya sendiri. Ini kejadian sudah kehendak Allah. Saya tidak mau dikaitkan dengan gerakan manapun, atau politik, atau isu-isu apapun,” ujar Syekh Ali Jaber.

Syekh Ali Jaber lebih nyaman menyerahkan urusan ini kepada aparat kepolisian. Walaupun ada yang membisiki pelaku terafiliasi dengan kelompok tertentu, Syekh Ali Jaber enggan berburuk sangka.

Baca Juga :  Mengenal Syekh Ali Jaber: Dai Madinah yang Mencintai Indonesia

Menurut Syekh Ali Jaber, kemuliaan akhlak seseorang itu diuji ketika sedang dalam keadaan tidak santai atau tenang.

“Kita lihat Nabi Muhammad, pas sedang sujud, ia dilempari kotoran unta di atas kepalanya. Beliau tidak marah, biasa aja. Bahkan ketika pulang dari Thaif, beliau dilempari (batu) sampai berdarah-darah itu biasa saja,” jelas Syekh Ali Jaber.

“Saya tidak mau kasus ini dimanfaatkan untuk kepentingan golongan tertentu, hatta agama,” terang Syekh Ali Jaber.

2 KOMENTAR

  1. ‘inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nyalah kita akan dikembalikan)

    “Ya Allah, berilah ketabahan atas musibah Syekh Ali Jaber, hiburlah dia dari musibah yang menimpanya, dan berilah ia kesembuhan yang lebih baik untuknya.”

    Allah berjanji, siapa hambanya yang bersyukur dengan suatu nikmat, maka nikmat tersebut akan ditambah (QS Ibrahim [14] :7). Demikian pula, siapa yang bersabar akan kehilangan sesuatu, maka Allah akan mengganti dengan yang lebih baik.

    Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang hamba tertimpa musibah lalu dia mengucapkan, ‘Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un’ lalu berdo’a, ‘Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan berilah ganti yang lebih baik darinya’, melainkan Allah benar-benar memberikan pahala dan memberinya ganti yang lebih baik darinya.” (HR Muslim).

    Tidak ada kerugian bagi orang beriman dalam kondisi apa pun ia berada. “Sungguh ajaib urusan orang beriman itu, apa pun yang datang kepadanya semuanya berujung kebaikan. Jika ia diberikan kenikmatan ia bersyukur, itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan ia bersabar, maka itu baik baginya,” jelas Rasulullah SAW dalam sabdanya. (HR Muslim).

    Mudah-mudahan kesabaran beliau mendapat keutamaan yang besar sesuai yang dijanjikan Allah SWT.

    1. Mengangkat Derajat Beliau dan Menghapus Dosa.
    Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Ujian senantiasa menimpa orang beriman pada diri, anak dan hartanya hingga ia bertemu Allah dengan tidak membawa satu dosa pun atasnya.” (HR. Tirmizi

    2. Tanda Kebaikan dari Allah Ta’ala.
    “Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah.” (HR. Tirmizi)

    3. Pahala yang Tidak Terbatas.
    Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (QS. Az-Zumar: ayat 10)

    Mati Syahid, adalah harapan semua umat Muslim:
    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira bagi yang wafat karena bala dan musibah. “(mati) karena menderita thoun adalah syahid bagi setiap Muslim.” (HR. Al-Bukhari Muslim)

    “(meninggal) karena sakit perut adalah syahid, dan (meninggal) karena Thoun juga syahid.” (HR. Al-Bukhari)

    “…Tidaklah seseorang yang berada di wilayah yang terjangkit Thoun, kemudian ia tetap tinggal di negerinya dan selalu bersabar, ia mengetahui bahwa penyakit tersebut tidak akan mengjangkitinya kecuali apa yang Allah tetapkan kepadanya, maka baginya seperti pahalanya orang yang mati syahid.” (HR. Bukhari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here