Syekh Abdul Qadir Jailani: Menelusuri Jejak Tuhan yang Terhampar di Alam Semesta

1
54

BincangSyariah.Com – Syekh Abdul Qadir Jailani adalah salah seorang ulama yang memiliki spirit yang tinggi dalam membumikan syariat Islam. Nama lain beliau adalah Abdul Qadir al-Jilani. Ia itu ulama Ahlussunah Waljamaah (Aswaja) yang berasal dari negeri Jailan. Dari nama negerinya ini, beliau dinisbahkan sehingga disebut “al-Jailani”, artinya seorang yang berasal dari negeri Jailan.

Nasab beliau bersambung ke Rasulullah Saw. Dijelaskan bahwa Syekh Abdul Qodir Jaelani ini merupakan keturunan Hasan dan Husain. Jadi, dilihat dari nasabnya memang tidak diragukan lagi bahwa beliau adalah termasuk sebagian di antara orang-orang yang (insyaAllah) baik, yang bersambung ke Rasulullah Saw.

Beliau dikenal sebagai salah satu ulama tasawuf. Melalui sejumlah kitabnya berupaya mengungkap tabir kehidupan. Kitab Sirrul Asrar di antara karya beliau tentang tasawuf. Setidaknya ada empat macam komponen ilmu yang dikaji secara integratif di dalamnya: syariat, tarkeat, makrifat, dan hakikat.

Dengan hadirnya kitab spiritual ini, umat Islam mempunyai pedoman untuk menemukan makna sebuah kehidupan. Kitab ini dianggap sebagai jembatan yang mengantarkan kita pada tiga karyanya yaitu al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq, al-Fath ar-Rabbani wa al-Faydh ar-Rahmani, dan Futuh al-Ghaib.

Fokus kajian pembahasan dalam kitab tersebut setidaknya membahas tentang hakikat kehidupan; mulai dari awal penciptaan manusia sampai pada pulangnya manusia pada rumah asal. Sudut pandang pada kitab Sirr al-Asrar tersebut yaitu mengupas tuntas tentang pondasi Islam yang setiap hari dijalani dalam kehidupan.

Pondasi Islam tersebut berupa Sholat, Zakat, Puasa dan Haji. Pada bab tentang pondasi Islam ini akan dibahas secara rinci dan lugas mulai dari kedalaman makna sampai pada hubungan perjalanan hidup manusia kepada hamba Allah Swt.

Antara Ibadah dan Tasawuf Menurut Syekh Abdul Qadir Jailani

Tujuan diciptakannya manusia dan makhluk hidup lainnya di muka bumi untuk mengabdikan diri dengan beribadah kepada Allah SWT. Bahkan al-Qur’an sendiri menyatakan dengan tegas, bahwa tidaklah diciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana tersebut dalam Q.S. al-Dzariyat [51]: 56.

وما خلقت الجن و الانس إلا ليعبدون

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.

Amal perbuatan yang tidak didasari dengan Iman yang baik serta ibadah yang kokoh, maka keimanan seseorang tidak dikategorikan sebagai keimanan yang sempurna. Keimanan bisa sempurna apabila disertai dengan pelaksanaan ibadah, amal saleh, dan akhlak mulia. Pemahaman seperti ini merupakan pendekatan sufistik.

Dengan demikian, antara beribadah (syariat) dan tasawuf itu memiliki hubungan simbiosis secara integral, yang keduanya harus dipadukan. Penulis kitab ini bersandar pada Q.S. ar-Rahman [55]: 19-20, Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing (ar-Rahman [55]: 19-20).

Menurut Syekh Abdul Qadir Jailani, manusia (hamba) harus memiliki dan mengamalkan empat komponen ilmu agar mencapai tujuan ibadah. Pertama, syariat lahiriah seperti perintah dan larangan Allah SWT serta hukum-hukum lainnya; kedua, syariat batiniah yang disebut ilmu tarekat; ketiga, tarekat batiniah yang disebut ilmu ma’rifat; keempat, batiniah batin yang disebut ilmu hakikat.

Keempat ilmu ini harus dikuasi dan dikontekstualisasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh hamba agar maksimal dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya serta nafsu di setiap tingkat ilmu tersebut.

Nafsu atau setan akan dengan mudah dapat dikalahkan oleh hamba yang mampu melabuhkan keempat ilmu tersebut dalam kehidupannya. Ketika seseorang hanya mempelajari cukup satu ilmu saja yang berhubungan dengan syariat lahir, dalam hal ini belajar fikih misalnya, maka yang terjadi nanti ia mudah menyalahkan orang lain.

Sementara menguasai ilmu lahir saja (syariat), tidak akan menghasilkan ilmu hakikat dan tidak akan mencapai tujuan ibadah. Karena, hawa nafsu akan menggoda di ruang lingkup syariat ini untuk melakukan hal-hal yang berlawanan dengan syariat. Sebab, ruang lingkup iman dan fiqih Islam hanya membicarakan aspek hukum dalam hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia.

Oleh sebab itulah hamba menurut pengarang kitab ini harus sampai pada derajat hakikat, agar menjadi hamba yang terpilih dan terselamatkan. Sebagaimana firman-Nya, Demi kemuliaan-Mu, pasti akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka” (Q.S. Shad [38]: 82-83).

Inilah inti ajaran tasawuf yang diajarkan dalam kitab ini. Tasawuf intinya mengajarkan kepada kita untuk melakukan hubungan yang baik dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama manusia khususunya, dan alam pada umumnya.

Dengan demikian, dengan ma’rifatullah (mengenal Allah SWT), seseorang akan menemukan Tuhan dalam dirinya dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Sampai di sini, mereka akan merasakan ke-Maha Asyik-an Tuhan melalui keimanan yang kokoh–dalam istilah Syekh Abdul Qodir Jaelani rusukh, yaitu keimanan yang kuat karena akarnya menancap kuat di alam tanah dan cabangnya menjulang ke langit. Wallahu a’lam.

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here