Pertengahan Syawal 1441 H ini, Gerhana Bulan Penumbra Akan Kembali Terjadi di Indonesia

4
2383

BincangSyariah.Com- Pada tanggal 6 Juni 2020 ini, masyarakat Indonesia akan kembali berkesempatan untuk menikmati salah satu dari ayat kauniyah Allah berupa gerhana Bulan penumbra. Jika mengacu pada kitab al-Durru al-Aniq karya Kiai Ahmad Ghazali MF, gerhana ini terjadi lepas tengah malam dan akan berlangsung selama 3 jam 18 menit 15 detik, yaitu dimulai kontak pertama pada pukul 00:45:54 WIB, 01:45:54 WITA dan 02:45:54 WIT, kemudian puncak gerhana pada pukul 02:25:02 WIB, 03:25:02 WITA dan 04:25:02 WIT, hingga akhir gerhana yang terjadi pukul 04:04:09 WIB, 05:04:09 WITA dan 06:04:09 WIT. Khusus untuk wilayah Indonesia bagian timur ini tidak bisa melihat hingga akhir gerhana, karena pada saat akhir gerhana ini, posisi Bulan sudah terbenam untuk wilayah Indonesia bagian timur. (Baca: Tata Cara Shalat Gerhana Bulan)

Selain bisa teramati di negara Indonesia, gerhana Bulan ini juga akan dapat teramati oleh semua permukaan Bumi yang mengalami malam hari pada saat berlangsungnya gerhana Bulan ini, yaitu wilayah Asia, Eropa, Australia dan sebagian wilayah benua Amerika.

Gerhana bulan yang terjadi pada 6 Juni 2020 merupakan gerhana Bulan kedua dari total 4 gerhana Bulan yang terjadi selama tahun 2020 ini. Gerhana Bulan pertama di tahun ini telah terjadi pada bulan Januari lalu, sedangkan dua gerhana Bulan lagi akan terjadi pada bulan 5 Juli dan 30 November mendatang, sayangnya dua gerhana ini tidak dapat teramati karena terjadi ketika siang hari di waktu Indonesia.

Keempat gerhana Bulan yang terjadi pada tahun 2020 ini, semuanya termasuk dalam tipe gerhana Bulan penumbra. Gerhana dengan tipe ini terjadi karena Bulan hanya sampai pada bayangan penumbra Bumi. Sebagaimana diketahui, ketika tersinari oleh Matahari, Bumi akan menghasilkan dua bayangan yaitu bayangan umbra dan penumbra. Bayangan umbra merupakan bayangan inti yang berwarna gelap, sedangkan bayangan penumbra adalah bayangan samar-samar yang berada disekitar bayangan umbra yang gelap tadi. Oleh karena itu ketika gerhana Bulan penumbra ini, Bulan tidak akan hilang karena tertutupi oleh bayangan Bumi sebagaimana pada gerhana total atau gerhana sebagian, melainkan hanya akan meredup cahayanya sehingga tampak lebih redup dari keadaan Bulan pada fase purnama biasa.

Baca Juga :  Tata Cara Sholat Gerhana Bulan Penumbra Sesuai Sunnah Nabi, Terjadi pada 6 Juni 2020

Fase purnama ini sendiri merupakan waktu dimana gerhana Bulan akan terjadi. Meskipun terjadi pada saat fase purnama, namun bukan berarti setiap purnama yang terjadi setiap tanggal 14 dalam penanggalan Hijriah ini terjadi gerhana Bulan. Hal ini disebabkan karena orbit Bulan dalam mengelilingi Bumi tidak sejajar dengan ekliptika dan membentuk sudut sebesar 5 derajat. Dengan adanya sudut ini, bisa jadi ketika fase purnama Bulan berada di atas ekliptika atau berada dibawahnya sehingga tidak terjadi gerhana Bulan karena bayangan Bumi tidak mengenai Bulan. Oleh karenanya, supaya ketika purnama ini terjadi gerhana Bulan maka posisi Bulan haruslah berada pada garis lurus dengan Bumi dan Matahari.

Fenomena seperti gerhana Bulan dan kejadian langit lainnya ini sesungguhnya merupakan bukti betapa hebatnya kekuasaan Allah Swt. Allah-lah yang mengatur semua peredaran benda-benda di alam semesta dengan sangat rapi sehingga fenomena seperti gerhana Bulan ini bisa diketahui dan diperkirakan kapan waktu terjadinya dengan sangat detail dan teliti. Dengan memahami proses terjadinya gerhana Bulan disertai dengan keyakinan terhadap kekuasaan Allah ini dapat membantu kita semua agar terhindar dari mitos atau keyakinan terhadap fenomena gerhana yang banyak beredar di masyarakat.

Mitos dan keyakinan yang tumbuh di masyarakat ini tampaknya juga berperan besar terhadap munculnya anjuran ibadah dalam syariat Islam pada saat terjadi gerhana. Pada zaman Nabi Muhammad pernah muncul suatu anggapan bahwa gerhana yang terjadi dihubung-hubungkan oleh masyarakat dengan kematian dari putra Nabi. Menanggapi hal tersebut lantas Nabi SAW bersabda bahwa gerhana Matahari dan Bulan terjadi bukan karena kelahiran atau kematian seseorang. Keduanya terjadi berkat kekuasaan Allah. Oleh karena itu Nabi SAW kemudian menganjurkan kepada umat Islam untuk melakukan salat gerhana, membaca tasbih dan melakukan amal kebajikan lainnya sebagai wujud pengagungan kita semua terhadap kekuasaan Allah yang sangat luar biasa.

Baca Juga :  Bolehkah Mendahulukan Shalat Gerhana daripada Shalat Wajib?

4 KOMENTAR

  1. […] Tidak adanya kesunahan shalat gerhana ini seperti ketika terjadi gerhana Matahari di negara lain sedangkan wilayah Indonesia tidak mengalami gerhana ini, maka masyarakat yang ada di Indonesia tidak bisa melihat gerhana tersebut. Oleh karena itu bagi masyarakat Indonesia tidak ada kesunahan untuk melaksanakan shalat gerhana karena tidak melihat gerhana meskipun pada saat tersebut memang ada peristiwa gerhana yang terjadi di negara lain. Sama halnya dengan gerhana Matahari, pada peristiwa gerhana Bulan juga berlaku demikian, terlebih lagi dalam gerhana Bulan penumbra yang terjadi selama tahun 2020 ini. (Baca: Pertengahan Syawal 1441 H ini, Gerhana Bulan Penumbra Akan Kembali Terjadi di Indonesia) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here