Syarat-syarat Diperbolehkan Membuat Rajah dan Jimat

1
3358

BincangSyariah.Com – Di antara amalan yang dilakukan oleh kaum muslimin Indonesia pada hari Rabu Wekasan adalah membuat rajah atau jimat. Mereka melakukan hal tersebut dengan tujuan agar mereka selamat dari musibah dan balak yang diturunkan oleh Allah pada hari tersebut. Disebutkan bahwa Allah menurunkan balak atau penyakit sebanyak 320.000 pada hari Rabu Wekasan. Agar kita selamat dari musibah tersebut, maka kita dianjurkan untuk minum air rajah dari tulisan yang berisi ayat Al-Quran, shalawat dan doa.

Menurut Syaikh Jauhari, terdapat beberapa syarat yang harus dilakukan ketika seseorang membuat rajah atau jimat. Setidaknya, terdapat sepuluh syarat dalam membuat rajah atau jimat.

Pertama, menulis rajah dan jimat dalam keadaan suci dari hadas kecil dan besar.

Kedua, menulis rajah dan jimat di tempat yang suci.

Ketiga, menulis dengan keadaan hati yakin dan mantap akan manfaat dan khasiat rajah dan jimat yang ditulis.

Keempat, menulis rajah dan jimat bukan maksud mencoba-coba.

Kelima, tidak melafadzkan kalimat rajah dan jimat yang ditulis.

Keenam, setelah rajah dan jimat sudah selesai ditulis, jangan sampai dilihat oleh siapa pun, bahkan oleh penulis sendiri.

Ketujuh, jangan sampai terkena sinar matahari.

Kedelapan, ketika menulis rajah dan jimat diniati hanya untuk mencari ridha Allah.

Kesembilan, tulisan rajah dan jimat tidak boleh diberi harakat.

Kesepuluh, huruf-huruf kalimat rajah dan jimat tidak boleh ada yang terhapus.

Kesebelas, huruf-huruf kalimat rajah dan jimat tidak boleh ada yang terputus.

Kedua belas, tulisan rajah dan jimat tidak boleh terkena debu.

Ketiga belas, tulisan rajah dan jimat tidak boleh tersentuh benda-benda yang terbuat dari besi.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Hasyiyah Sharwani alat Tuhfah berikut;

Baca Juga :  Hukum Merayakan Peristiwa Isra Mi’raj dalam Islam

قال شيخنا الجوهري نقلا عن مشايخه يشترط في كاتب التميمة أن يكون على طهارة وأن يكون في مكان طاهر وأن لا يكون عنده تردد في صحتها وأن لا يقصد بكتابتها تجربتها وأن لا يتلفظ بما يكتب وأن يحفظها عن الأبصار بل وعن بصره بعد الكتابة وبصر ما لا يعقل وأن يحفظها عن الشمس وأن يكون قاصدا وجه الله في كتابتها وأن لا يشكلها وأن لا يطمس حروفها وأن لا ينقطها وأن لا يتربها وأن لا يمسها بحديد

Guru kami Syaikh Jauhari dengan mengambil dari guru-gurunya berkata; ‘Disyaratkan bagi orang menulis jimat sebagai berikut; Harus dalam keadaan suci, menulis di tempat yang suci, tidak ragu atas keabsahannya, menulisnya tidak bermaksud mencoba, tidak melafadzkan apa yang ditulis, dijaga dari pandangan mata, dari pandangan matanya sendiri setelah ditulis dan mata anak yang belum berakal, dijaga dari sinar matahari, menulisnya bertujuan mencari ridha Allah, tidak memberinya harakat, tidak menghapus huruf-hurufnya, tidak memutusnya, tidak memberi debu, dan tidak boleh tersentuh besi.

1 KOMENTAR

  1. Lebih baik samasekali tidak menggunakan jimat, karena akan terjadi oemahaman yg berbeda beda untuk tiap orang. . Jadikanlah iman dan batin kita sebagai jimat dg mendekatkan diri kepada Allah SWT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here