Syarat-syarat Diperbolehkan Membuat Rajah dan Jimat

6
10488

BincangSyariah.Com – Di antara amalan yang dilakukan oleh kaum muslimin Indonesia pada hari Rabu Wekasan adalah membuat rajah atau jimat. Mereka melakukan hal tersebut dengan tujuan agar mereka selamat dari musibah dan balak yang diturunkan oleh Allah pada hari tersebut. Disebutkan bahwa Allah menurunkan balak atau penyakit sebanyak 320.000 pada hari Rabu Wekasan. Agar kita selamat dari musibah tersebut, maka kita dianjurkan untuk minum air rajah dari tulisan yang berisi ayat Al-Quran, shalawat dan doa.

Menurut Syaikh Jauhari, terdapat beberapa syarat yang harus dilakukan ketika seseorang membuat rajah atau jimat. Setidaknya, terdapat sepuluh syarat dalam membuat rajah atau jimat.

Pertama, menulis rajah dan jimat dalam keadaan suci dari hadas kecil dan besar.

Kedua, menulis rajah dan jimat di tempat yang suci.

Ketiga, menulis dengan keadaan hati yakin dan mantap akan manfaat dan khasiat rajah dan jimat yang ditulis.

Keempat, menulis rajah dan jimat bukan maksud mencoba-coba.

Kelima, tidak melafadzkan kalimat rajah dan jimat yang ditulis.

Keenam, setelah rajah dan jimat sudah selesai ditulis, jangan sampai dilihat oleh siapa pun, bahkan oleh penulis sendiri.

Ketujuh, jangan sampai terkena sinar matahari.

Kedelapan, ketika menulis rajah dan jimat diniati hanya untuk mencari ridha Allah.

Kesembilan, tulisan rajah dan jimat tidak boleh diberi harakat.

Kesepuluh, huruf-huruf kalimat rajah dan jimat tidak boleh ada yang terhapus.

Kesebelas, huruf-huruf kalimat rajah dan jimat tidak boleh ada yang terputus.

Kedua belas, tulisan rajah dan jimat tidak boleh terkena debu.

Ketiga belas, tulisan rajah dan jimat tidak boleh tersentuh benda-benda yang terbuat dari besi.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Hasyiyah Sharwani alat Tuhfah berikut;

قال شيخنا الجوهري نقلا عن مشايخه يشترط في كاتب التميمة أن يكون على طهارة وأن يكون في مكان طاهر وأن لا يكون عنده تردد في صحتها وأن لا يقصد بكتابتها تجربتها وأن لا يتلفظ بما يكتب وأن يحفظها عن الأبصار بل وعن بصره بعد الكتابة وبصر ما لا يعقل وأن يحفظها عن الشمس وأن يكون قاصدا وجه الله في كتابتها وأن لا يشكلها وأن لا يطمس حروفها وأن لا ينقطها وأن لا يتربها وأن لا يمسها بحديد

Guru kami Syaikh Jauhari dengan mengambil dari guru-gurunya berkata; ‘Disyaratkan bagi orang menulis jimat sebagai berikut; Harus dalam keadaan suci, menulis di tempat yang suci, tidak ragu atas keabsahannya, menulisnya tidak bermaksud mencoba, tidak melafadzkan apa yang ditulis, dijaga dari pandangan mata, dari pandangan matanya sendiri setelah ditulis dan mata anak yang belum berakal, dijaga dari sinar matahari, menulisnya bertujuan mencari ridha Allah, tidak memberinya harakat, tidak menghapus huruf-hurufnya, tidak memutusnya, tidak memberi debu, dan tidak boleh tersentuh besi.

100%

6 KOMENTAR

  1. Lebih baik samasekali tidak menggunakan jimat, karena akan terjadi oemahaman yg berbeda beda untuk tiap orang. . Jadikanlah iman dan batin kita sebagai jimat dg mendekatkan diri kepada Allah SWT

  2. jimat itu haram.. tp kalau berdzikir,atauembaca alquran terus ditiupkan di air lalu diminum itu baru boleh dan mantab krn beliau baginda nabi mencontohkan kepada kita..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here