Syaikh ‘Ali Jum’ah: Makanan Sehat Menurut Islam

0
100

BincangSyariah.Com – Adakah penjelasan tentang makanan sehat menurut Islam? Syaikh ‘Ali Jum’ah, ulama besar asal Mesir yang pernah menjadi Mufti Mesir (Mufti ad-Diyar al-Mishriyyah) dalam serial video Ramadhan Yuhmiinaa menjelaskan persoalan tersebut dalam video berjudul Madlul al-Akl al-Shihhi fi al-Qur’an al-Karim (Makna Makanan Sehat di Dalam Al-Qur’an).

Syaikh ‘Ali Jum’ah memulai penjelasannya, bahwa istilah yang digunakan baik di dalam Al-Qur’an dan Hadis tentang makanan yang sehat (dalam arti halal dan tidak berbahaya) dalam thoyyib. Misalnya, dalam sabda Nabi Saw.

أطب مطعمك تكن مستجاب الدعوة

baguskanlah makananmu, maka doamu akan mudah terkabul. (H.R. At-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath).

Istilah thoyyib tersebut, menurut Syaikh ‘Ali Jum’ah, dalam istilah sekarang sangat tepat jika yang dimaksud adalah makanan sehat. Makanan yang sehat seperti diketahui, membuat badan kita menjadi sehat, jauh dari sakit, dan membuat kita mampu menunaikan kewajiban. Dengan memakan makanan yang sehat, badan menjadi lebih sehat, rezeki juga menjadi lebih banyak dengan dikaruniai kesehatan tersebut oleh Allah Swt.

Lalu, darimana kita mengetahui bagaimana makanan sehat menurut Islam itu? Jawabannya, mari kita lihat bagaimana Al-Qur’an menjelaskan, baik yang disampaikan dengan tegas maupun isyarat, tentang bagaimana makanan sehat. Mari kita lihat misalnya kisah Ashabul al-Kahfi. Seperti diceritakan dalam surah al-Kahfi ayat 19, ketika telah berlalu mereka di dalam gua selama 309 tahun, mereka sangat bangun masih bertanya-tanya bahkan ada yang mengira mereka hanya tertidur seharian atau setengah hari,

وَكَذَٰلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ ۚ قَالَ قَائِلٌ مِّنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ ۖ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۚ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُم بِوَرِقِكُمْ هَٰذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا فَلْيَأْتِكُم بِرِزْقٍ مِّنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدً

Baca Juga :  Kitab Mawa'idh al-Ushfuriyyah; Keutamaan Orang yang Sabar Saat Sakit

Dan kami bangkitkan mereka, agar saling bertanya di antara mereka sendiri. Salah satu dari mereka berkata, “berapa lama kalian disini?” Mereka (Ashabul Kahfi) menjwab: “kami paling berdiam sehari atau sebagiannya.” Yang (lain) berkata: Tuhan lebih mengetahui berapa lama kalian disini. Utuslah salah seorang dari kalian dengan membawa uang perakmu ini ke kota, dan coba cari makanan yang paling baik (halal) lalu hendaklah dia membawa rezeki untuk kalian. Dan bersikap lemah lembutlah dan jangan sekali-kali menceritakan kalian kepada seorangpun.

Artikel ini tidak akan membahas ayat atau kisah Ashabul Kahfi. Penekanannya justru pada redaksi azkaa tho’aamin, makanan yang paling suci. Maksud dari redaksi tersebut, sederhana, adalah makanan yang sehat dan tidak berbahaya. Dan darimana menentukan sebuah makanan disebut sehat atau tidak? Jawabannya adalah tanyakan kepada ahlinya, yaitu para dokter, ahli gizi. Apalagi setelah ilmu-ilmu terus berkembang, kita jadi tahu komposisi makanan sehat sesuai dengan apa yang ini kita capai, selama tidak bertentangan dengan syariat. Misalnya makanan untuk kesehatan, untuk penyembuhan, kesemuanya itu masuk ke dalam keumuman ayat, tanyalah ahl ad-dzikr (orang yang senantiasa mengingat) jika kamu tidak mengetahui.

Sehingga, inti dari makanan sehat dalam Islam, sebenarnya kembali kita tanyakan kepada para ahli mana makanan yang sehat dan tidak. Sehingga kita bisa terhindar dari makanan yang merusak, dan mengetahui makanan yang baik dikonsumsi. Memakan makanan yang baik dan halal dikonsumsi tujuannya adalah menikmati karunia yang diberikan Allah Swt. sehingga kita hidup dengan karunia-Nya.

Terakhir, Syaikh ‘Ali Jum’ah menutup, ikutilah pesan Rasulullah Saw. untuk mencari makanan yang baik, Allah kabulkan doa manusia yang makanannya baik. Baik dari segi zat, cara mendapatkannya, dan dari mana rezeki itu diperoleh. Konsumsi makanan yang sehat dalam konteks keluarga berarti menjauhkan keluarga dari makanan-makanan yang haram, dan berusaha memberikan makanan-makanan yang sehat lagi halal. Karena tubuh yang berkembang dari makanan haram, maka neraka lebih berhak untuk menerimanya. Padahal yang kita harapkan adalah karunia-Nya. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here