Surat al-Falaq dan Surat An-Nas Bisa Jadi Penangkal Sihir? Ini Penjelasannya (2-Habis)

0
1494

BincangSyariah.Com – Al-Qur’an mengajari kita untuk senantiasa meminta perlindungan kepada Allah SWT. Terutama dari godaan setan yang tidak pernah lelah untuk menjerumuskan kita agar semakin jauh dari rahmat Allah swt. Setan akan menggoda manusia dari segala penjuru. Dari depan, belakang, sisi kanan, sisi kiri, bahkan dari bawah. Meskipun demikian, tidak ada yang bisa menghalangi turunnya rahmat Allah bahkan setan sekalipun. Sebagaimana yang tertera dalan Qs. al-A’raf [7] ayat 17.

Selain setan-setan yang berasal dari luar patut diwaspadai lagi adalah setan-setan pembisik yang berasal dari hati manusia sendiri. Sebagaimana secara eksplisit disinggung oleh Qs. al-Nas [114] ayat 4.

Jika dalam surat al-Falaq mengajarkan tentang bagaimana seorang hamba meminta perlindungan dari kejahatan yang datangnya dari luar, lalu bagaimana kira-kira al-Qur’an mengajarkan manusia untuk meminta perlindungan dari kejahatan yang bersumber dalam diri manusia sendiri? Mari kita simak bagaimana Quraish Shihab menafsirkan surat al-Nas dalam Tafsir Al-Misbah.

Surat al-Nas merupakan surat ke-114 yang artinya adalah berada di posisi terakhir dalam urutan surat Al-Qur’an. Sedangkan secara nuzuli merupakan surat ke-21 yang turun setelah surat al-Falaq. Adapun sebab turunnya surat ini sama dengan surat al-Falaq. Yakni terkait dengan sihir yang pernah dialami oleh Rasulullah saw. Sebagaimana dalam tulisan yang lalu.

Memang terjadi perbedaan pendapat mengenai status surat ini. Apakah Makkiyah atau Madaniyah. Namun mayoritas ulama mengatakan bahwa surat ini Makkiyah. Tapi tidak sedikit pula yang menyatakan bahwa surat ini Madaniyah yang turun bersamaan dengan surat al-Falaq ketika merespon sihir yang dilakukan oleh Labid bin A’sham. Intinya adalah bahwa surat al-Nas dan al-Falaq merupakan surat yang diajarkan langsung oleh Allah kepada manusia agar terhindar dari kejahatan yang bisa merugikan diri sendiri.

Baca Juga :  Kata Ulama Untuk Orang yang Berat Melaksanakan Shalat Malam

Banyak sekali riwayat yang menjelaskan tentang keistimewaan surat al-Nas ini. Dan rata-rata memang digabung dengan surat al-Falaq. Salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Uqbah bin ‘Amir. Rasulullah bersaba: “Allah telah menurunkan kepadaku ayat-ayat yang tidak ada bandingannya; Qul A’udzu bi Rabb al-Nas dan Qul A’udzu bi Rabb al-Falaq” (Al-hadis)

Dalam riwayat lain dari Abdullah bin ‘Abbas al-Juhani bahwasannya Rasulullah saw bersabda: “Ibnu ‘Abbas, maukah aku beritahu tentang doa yang paling utama dipanjatkan dari sekian macam doa?” lalu Ibnu ‘Abbas menjawab, “Tentu mau ya Rasullullah”. Raslullah pun melanjutkan, “bacalah Qul A’udzu bi Rabb al-Nas dan Qul A’udzu bi Rabb al-Falaq. Dua surat ini adalah sebaik-baik panjatan doa”

Allah berfirman,

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ – ١ – مَلِكِ النَّاسِ – ٢ – إِلَـٰهِ النَّاسِ – ٣

“Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Maharaja manusia. Tuhan yang disembah manusia.”

Makna dari kata ‘audzu di sini sama dengan kata ‘audzu dalam surat al-Falaq yang sudah disinggung di atas. Bedanya hanya pada kalimat terakhir, yakni al-Nas yang artinya pemelihara manusia. Kata ini diulang sebanyak tiga kali dalam tiga ayat berturut-turut. Mengutip dari Ibnu Aysur, Quraish Shihab menyatakan bahwa ini merupakan sebuah keserasian yan ditunjukkan oleh al-Qur’an.

Maksudnya adalah kata rabb al-Nas merupakan perlindungan pertama menyangkut bencana yang dapat menimpa manusia, maka sangat wajar jika yang pertama diingatkan adalah tuhan pemelihara karena Dia-lah sang pencipta yang dapat melindungi dan membimbing. Lalu disebutlah malik al-nas untuk mengingatkan tentang kuasanya atas manusia dan seluruh makhluk. Lalu ilah al-Nas, yakni mengisyaratkan bahwa ketika ia merupakan pemelihara, pembimbing, pelindung, sekaligus penguasa, maka sangat wajar jika Ia disembah

Baca Juga :  Pengajian Ihya Gus Ulil: Empat Hal Penghalang Antara Hamba dengan Tuhan

مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ – ٤ – الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ – ٥ – مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ – ٦

Dari kejahatan pembisik yang bersembunyi, yang membisik di dada manusia, dari jin dan manusia.

Pada ayat ini terdapat satu kesimpulan tentang sebuah permohonan, yaitu perlindungan dari pembisik yang tersembunyi dalam hati manusia yang bisa berupa jin dan manusia.

Dari sini kiranya menjadi jelas bahwa surat ini memang menajdi pelengkap dari ayat kelima surat al-falaq yang menyinggung tentang rasa dengki. Karena rasa dengki sendiri munculnya dari dalam hati yang boleh jadi dipantik oleh manusia dan juga jin. Maka dari itu tidak heran jika sebelum menyebutkan permohonan, disebutkan terlebih dahulu sifat Allah sebanyak tiga kali. Hal ini mengisaratkan akan bahayanya bisikan-bisikan yang merasuk dalam hati manusia.

Uniknya ketika surat dalam al-Falaq hanya menyebutkan satu sifat Allah diiringin dengan tiga permohonan, dalam surat al-Nas disebutkan tiga sifat Allah lalu diiringi dengan satu permohonan. Yakni perlindungan dari bisikan dan rayuan setan yang bersumber dari diri sendiri.

Hal ini dikuatkan dengan adanya keserasian yang terdapat dalam surat al-Falaq dan al-Nas. Khususnya pada ayat terakhir surat al-Falaq yang berbicara tentang sifat iri dengki yang merupakan sumber upaya iblis menjerumuskan manusia. Lalu direspon oleh surat al-Nas yang berisi tentang permohonan perlindungan dari kejahatan khusus yaitu dari godaan jin atau iblis.

Ini mengisyaratkan bahwasannya memang tidak salah jika surat ini penamaannya digabung dengan sebutan al-Mu’awwidzatain. Selain karena ayat pertama dari kedua surat ini sama, juga karena memang sangat klop dan saling melengkapi satu sama lain. Hal senada juga dikemukakan oleh Wahba Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir.

Baca Juga :  Hukum Jual-Beli Saham Menurut Kyai Ali Mustafa Yaqub

Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here