Surah al-Hasyr Ayat 8-10 Menurut Al-Qurthubi

0
385

aBincangSyariah.Com – Surah al-Hasyr diturunkan di Madinah, bertepatan dengan peristiwa pengusiran Bani Nadhir dari kota nan mulia itu. Sebab itu pula surah ini kemudian dinamai al-hasyr yang memiliki arti pengusiran. Penjelasan asbabun-nuzul surah al-Hasyr ini bersumber dari keterangan Ibnu ‘Abbas yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, serta dari kesaksian sayyidah ‘Aisyah melalui periwayatan Imam al-Hakim.

Bani Nadhir sendiri merupakan satu dari tiga kabilah Yahudi yang mendiami kota Madinah, selain Bani Qainuqa’ dan Bani Quraizhah. Mereka terusir dari Madinah akibat ulah mereka yang mengkhianati perjanjian dengan Rasulullah saw. Bahkan, mereka berencana membunuh beliau, kendati rencana jahat itu gagal terwujud. Lantaran Allah swt lebih dahulu mengabarkan Rasulullah perihal itu melalui malaikat Jibril.

Adapun tulisan ini akan coba memaparkan surah al-Hasyr ayat 10 menurut Al-Qurthubi diulas dari kitab tafsirnya, al-Jami’ li-Ahkam al-Qur’an,

 (8) لِلْفُقَرَاء الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون – 9

وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ – 10

al-Qurthubi mengungkapkan bahwa ketiga ayat ini mengandung empat bahasan.

Pertama, ayat ini memetakan kaum muslimin secara umum ke dalam tiga klaster. Kedua, ayat ini menjadi dasar kewajiban mencintai para sahabat Nabi saw. Ketiga, ayat ini berisikan ketentuan pembagian harta fai. Lalu, yang keempat, ayat ini mengandung perintah untuk mendoakan orang-orang mukmin terdahulu.

Tiga Klaster Kaum Muslimin

Baca Juga :  Tafsir Al-Isra’ 26-27: Larangan Bersikap Boros dan Perintah Menolong yang Kesulitan

Menurut al-Qurthubi, orang-orang yang dimaksud pada penggalan-awal ayat ini adalah para tabi’in dan seluruh umat muslim hingga akhir zaman. Al-Qurthubi menambahkan penjelasannya dengan menukil pernyataan Ibnu Abi Laila (w. 148 H), seorang ulama besar kota Kufah yang sezaman dengan Imam Abu Hanifah. Bahwa umat Nabi Muhammad ini pada dasarnya terbagi ke dalam tiga klaster.

Rinciannya, klaster pertama terdiri atas sahabat Muhajirin (al-muhaajiruna), yakni orang-orang yang berhijrah dari kota Makkah. Klaster kedua terdiri atas sahabat Ansar, yakni orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (wallazdiina tabawwa`ud-daaro wal-iimaana). Sementara itu, klaster ketiga terdiri atas orang-orang yang datang belakangan sesudah kaum Muhajirin dan kaum Ansar. Itulah mafhum dari penggalan-awal ayat ini, yaitu: wallazdiina jaa`uu mim ba’dihim.

Al-Qurthubi kemudian membentangkan tamsilan sebagian ulama dalam kalam mereka berikut ini. “Jadilah engkau mentari; Kalau engkau tak mampu, maka berusahalah jadi purnama; Jikapun engkau tidak bisa menjadi purnama, jadilah bintang yang bersinar terang; Andaikan masih tak kuasa, hendaklah engkau berupaya menjadi bintang kecil; Karena dengan begitu, sekurang-kurangnya engkau masih dapat memancarkan cahaya.”

Maksudnya, menjadi mentari berarti menjadi bagian dari kelompok Muhajirin, dan ini jelaslah mustahil; Menjadi purnama maksudnya menjadi bagian dari golongan Ansar, dan hal ini juga tidak mungkin; Kalau begitu, silakan beramal taat seperti amaliah para sahabat Muhajirin dan Ansar itu; Jika tidak mampu meniru amaliah mereka, maka hendaklah mencintai dan mendoakan mereka sebagaimana perintah Allah dalam ayat ini.

Mush’ab bin Sa’d (w. 103 H), sosok tabi’in berintegritas (tsiqoh) serta perawi banyak hadis. Beliau ikut menegaskan, bahwa kaum muslimin memang terbagi menjadi tiga klaster, tetapi dua di antaranya telah berlalu masanya. Beliau pun berpesan, “seyogianya kalian mengukuhkan diri menjadi bagian dari satu klaster yang masih tersisa dari ketiga klaster tadi.”

Baca Juga :  Tiga Era Perkembangan Tafsir Perspektif History of Idea

Soal Kedengkian Pada Sahabat Nabi

Diriwayatkan dari Imam Malik dan selainnya, bahwa setelah periode sahabat, syarat orang Islam baru berhak mendapat bagian harta fai adalah senyampang dia teguh mencintai para sahabat beserta muwalah (sanak kerabat)-nya, dan lagi mendoakan mereka. Sehingga, setiap orang yang mencaci maki para sahabat atau mencaci salah satu dari mereka, ataupun yang beriktikad bahwa terdapat kejelekan pada diri sahabat. Mereka yang seperti itu sama sekali tidak berhak memperoleh bagian dari harta fai.

Imam Malik menambahkan, “Siapa saja yang pernah membenci salah satu dari sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw, atau pernah terlintas di hatinya perasaan ghillun (kedengkian/kebencian) terhadap sahabat Nabi, niscaya yang bersangkutan tidak punya hak sedikit pun terhadap kaum muslimin.” Lalu, beliau melanjutkan dengan membacakan surah al-Hasyr ayat kesepuluh ini.

Tentang Harta Rampasan Perang

Harta fai merupakan harta rampasan yang diperoleh dari pihak kafir tanpa melalui peperangan. Harta ini kebalikan dari harta ganimah yang diperoleh melalui pertempuran. Adapun ayat ini menginformasikan bahwa Allah swt menghendaki harta fai itu disalurkan bagi tiga golongan, yaitu kaum Muhajirin, kaum Ansar, dan segenap kaum muslimin sesudahnya, mulai dari masa tabi’in sampai hari kiamat.

Tafsir tentang Orang-Orang Terdahulu

Ungkapan doa yang terkandung di dalam ayat ini mengisyaratkan adanya perintah mendoakan ampun bagi orang-orang terdahulu. Ada dua pendapat berbeda mengenai siapa yang dimaksud dengan orang-orang terdahulu di sini. Satu pendapat mengklaim bahwa mereka adalah orang-orang terdahulu dari para pemeluk agama Allah ini, yakni sekalian ahli kitab (orang Yahudi dan Nasrani) yang beriman kepada Allah swt. Sedangkan pendapat yang lain mengatakan mereka itu ialah orang-orang terdahulu dari kalangan as-sabiqunal-awwalun, yaitu segenap sahabat Nabi saw, baik dari kalangan Muhajirin maupun kalangan Ansar.

Baca Juga :  Tidak Selamanya Ibadah Sunnah itu Baik, Ini Penjelasannya

Terkait perintah berdoa tersebut, Ibnu ‘Abbas menandaskan,

أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى بِالِاسْتِغْفَارِ لِأَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُمْ سَيُفْتَنُونَ

Allah swt memerintahkan beristigfar untuk sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw, sementara Allah mengetahui bahwa mereka akan segera diuji atau diberi cobaan.

Sayyidah ‘Aisyah juga menyampaikan penuturan yang tidak jauh berbeda,

أُمِرْتُمْ بِالِاسْتِغْفَارِ لِأَصْحَابِ مُحَمَّدٍ فَسَبَبْتُمُوهُمْ

Kalian telah diperintah beristighfar teruntuk para sahabat Nabi Muhammad, namun kemudian kalian malah mencaci maki mereka;

سَمِعْتُ نَبِيَّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: لَا تَذْهَبُ هَذِهِ الْأُمَّةُ حَتَّى يَلْعَنَ آخِرُهَا أَوَّلَهَا

Saya pernah mendengar Nabi kalian bersabda: “Tidak akan lenyap umat ini hingga saat di mana generasi akhir umat ini mengutuk para pendahulunya.”

Al-Qurthubi menyitir pula riwayat Ibnu ‘Umar,

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِذَارَأَيْتُمُ الَّذِينَ يَسُبُّونَ أَصْحَابِي فَقُولُوا لَعَنَ اللَّهُ أَشَرَّكُمْ

Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Manakala kalian melihat orang-orang yang memaki sahabat-sahabatku, maka berucaplah kalian (terhadap mereka): ‘semoga Allah melaknat orang yang terjelek di antara kamu semua’.”

Selebihnya, al-Qurthubi mengakhiri penafsirannya terhadap ayat ini dengan berlindung kepada Allah dari segala desakan hati yang menyesatkan. Pun beliau memohon kepada-Nya seperti halnya ungkapan doa dalam ayat ini;

وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنا غِلاًّ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنا إِنَّكَ رَؤُفٌ رَحِيمٌ

Dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.

Aamiin yaa Rabb al-‘aalamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here