Sumber Setiap Kelalaian, Maksiat, dan Syahwat

1
1201

BincangSyariah.Com – Seringkali manusia melakukan kelalaian, maksiat, dan berbagai syahwat dengan tanpa menyesali perbuatannya. Mereka beranggapan bahwa manusia adalah tempat salah dan lupa. Padahal semua kelalaian, maksiat, dan syahwat tersebut bersumber dari dirinya sendiri yang kerap menuruti hawa nafsu, bukan sebuah takdir Tuhan begitu saja.

Ibn Atha’illah menuliskan pesan penuh hikmah dalam kitabnya Al-Hikam:

 أَصْلُ كلُّ مَعصِيَّةٍ وَغَفلةٍ وَشَهْوَةٍ الرِّضاَ عَنِ النفْسِ، واصْلُ كُلِّ طَاعةٍ وَيَقَظَةٍ وَعفَةٍ عَدَمُ الرِّضاَ مِنْكَ عَنْهاَ ٭

“Sumber dari semua maksiat, kelalaian, dan syahwat itu adalah rida terhadap nafsu, sedangkan sumber segala ketaatan, kesadaran dan moral ialah karena adanya pengendalian terhadap hawa nafsu.”

Menurut orang-orang arif, sebab dari segala maksiat adalah sikap puas terhadap keadaan diri sendiri. Sikap tersebut akan selalu mendorong seseorang berusaha menutup-nutupi aib dan kesalahannya sehingga yang buruk akan dijadikannya baik. Siapa yang puas dengan keadaan dirinya akan menganggap baik semua kondisi pribadinya dan merasa nyaman dengan semua kondisi itu. Siapa yang menganggap baik semua kondisi pribadinya akan lalai mengendalikan bisikan-bisikan syahwatnya. Akibatnya, ia dikuasai oleh syahwat. Siapa yang dikuasai oleh syahwat, tentu akan mudah terjerumus pada maksiat.

Tersirat jelas bahwa untuk meraih rida Allah, manusia haruslah menahan nasfunya terlebih dahulu dan mengedepankan pintu-pintu ketaatan kepada Allah. Adapun yang dimaksud dengan nafsu tersebut adalah watak hewani yang ada dalam jiwa manusia, yang bisa menjadi pendorong untuk terus menunaikan keinginan-keinginannya. Makna nafsu seperti itu semisal dengan Q.S. Yusuf ayat 53:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Baca Juga :  Kriteria Orang Paling Cerdas Menurut Rasulullah

Allah memang menciptkan nafsu pada diri setiap manusia. Jika manusia mampu melawan nafsunya dengan tidak menurutinya, maka ia akan dimudahkan menuju jalan ketaatan. Sebaliknya, jika manusia justru terlena dengan nafsu yang memang watak dalam dirinya, ia akan mendekat ke gerbang-gerbang kelalaian, maksiat, dan syhawat. Hal tersebut senada dengann kalam Allah dalam Q.S. Ali Imran ayat 14:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here