Sumber, Metode, dan Corak dalam Menafsirkan Al-Quran

0
864

BincangSyariah.Com – Sebagai kitab suci pedoman hidup seluruh muslim di dunia, al-Quran begitu disakralkan. Bahkan dalam memahami serta menafsirkannya pun tidak bisa sembarangan sak enake dewek. Para ulama telah merumuskan bagaimana metode menafsirkan al-Quran yang dapat dipertanggungjawabkan baik di dunia akademis atau nanti di hari kelak di hadapan Tuhan.

Ragam penafsiran al-Quran dapat kita telaah di kitab tafsir Ulama mu’tamad (yang dapat dijadikan sandaran). Setidaknya, ragam metode penafsiran para ulama tersebut tersimpul dalam tiga tema besar:

Pertama, Mashadir yakni sumber penafsiran al-Quran.

Kedua, Manahij atau macam-macam metode penulisan tafsir al-Quran.

Ketiga, adalah alwan al-tafsir, macam corak penafsiran al-Quran.

Sumber dalam Menafsirkan Al-Quran

Mari kita telusuri ketiga tema besar di atas. Tema pertama adalah sumber penafsiran al-Quran. Sumber penafsiran al-Quran ada tiga macam, dua yang disepakati para ulama, satu lagi masih diperdebatkan.

Tiga macam sumber penafsiran tersebut ialah :

  1. Tafsir bi al-ma’tsur (berdasarkan riwayat) kitab Jami’ al-Bayan milik al-Thabari adalah contoh kitab tafsir bi al-ma’tsur yang terkenal.
  2. Tafsir bi al-Ra’yi (berdasarkan kemampuan nalar mufasir) diantaranya kitab ahkam al-Quran karya al-Qurthubi.
  3. Dan jenis terakhir ini masih diperdebatkan yakni sumber tafsir berdasarkan isyari atau tafsir bi al-Isyari. Tafsir jenis terakhir ini seringkali dipraktekkan oleh para sufi dengan metode kasyf. Salah satu contoh kitab yang menggunakan pendekatan kasyf dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran adalah Futuhat al-Makiyyah karya Ibn al-Arabi.

Metode Penafsiran Al-Quran

Tema besar kedua adalah manahij atau metode penulisan tafsir al-Quran. Menurut Abdul Hay al-Farmawi metode penulisan ini ada empat macam. Yaitu :

  1. Metode tahlili (menafsirkan al-Quran dengan panjang lebar) sesuai namanya, tahlili secara bahasa adalah mengurai. Contoh kitab tafsir dengan metode ini adalah kitab tafsir yang tadi disebut, jami’ al-Bayan dan ahkam al-Quran.
  2. Metode Ijmali (menafsirkan al-Quran secara umum/global). Kitab tafsir Jalalain adalah contoh kitab dengan menggunakan metode ini.
  3. Metode Maudlu’I (tematik/menafsirkan al-Quran dengan mengumpulkan ayat yang dianggap berada dalam satu tema). Contoh penafsiran dengan metode ini dapat dilihat di pelbagai jurnal ilmiah. Biasanya, tafsir metode tematik memiliki judul khas misalnya, “Besi dalam al-Quran”, “Perempuan dalam al-Quran”, dan lain sebagainya.
  4. Terakhir Metode Muqaran (tafsir atas ayat al-Quran yang kemudian dibandingkan dengan hadis Nabi karena anggapan adanya kontradiksi antara ayat al-Quran yang hendak ditafsirkan dengan hadis Nabi).
Baca Juga :  Mengenal Tafsir bi al-Ma'tsur

Namun keempat manahij ini bukan berarti mandek tidak ada pengembangan. Misalnya belakangan ini tafsir metode maqashidi tengah populer dalam wacana ilmu tafsir di Indonesia.

Juga, metode penulisan al-Quran memiliki jenis lain berdasarkan urutan ayat al-Quran. Jika penafsiran mufasir sesuai dengan urutan ayat/surat di mushaf Usmani, maka metode penulisannya disebut dengan tartib mushafi. Sementara jika penafsirannya mengikuti urutan turunnya ayat al-Quran, maka penafsirannya disebut dengan tartib nuzuli.

Corak Penafsiran Al-Quran

Tema besar terakhir atau ketiga adalah alwan al-tafsir atau corak penafsiran. Suatu kitab tafsir memiliki kecenderungan tertentu tergantung spesifikasi keahlian mufasir yang mengarangnya.

Jika mufasirnya memiliki keahlian di bidang bahasa, maka kitab tafsirnya akan memiliki kecenderungan atau corak bahasa, jika fiqh, maka kitab tafisrnya bercorak fiqh dan seterusnya.

Kitab tafsir dengan corak bahasa, di dalam istilah tafsir disebut dengan corak lughawi, di bidang fiqh disebut dengan fiqhi, di bidang kesusasteraan disebut balaghi, di bidang keilmuan/science disebut dengan tafsir ‘ilmi dan seterusnya.

Sebagai contoh identifikasi jenis metode penafsiran al-Quran kita terapkan untuk mengidentifikasi kitab Mafatih al-Ghaib karya ar-Razi. Kitab ini sumber penafsirannya/ mashdar bi al-Ra’yi karena mengandalkan kemampuan nalarnya sendiri dan sedikit menggunakan riwayat. Manhaj/metode penulisan tafsirnya tahlili karena dalam penafsirannya mengurai suatu ayat dengan panjang lebar serta tartib mushafi karena sesuai urutan mushaf Usmani.

Dan terakhir alwan/corak kitab tafsir ini adalah ‘ilmi karena di dalamnya kaya akan ilmu atau science. Tulisan ini hanya sekadar pengantar. Silahkan teman-teman sendiri yang mendalaminya. Allahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here