Sumber Daya Harus Bermanfaat untuk Semua Manusia, Ini Dalil-Dalilnya

0
41

BincangSyariah.Com – Allah karuniai manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi dengan anugerah sumber daya yang Allah ciptakan untuk kemaslahatan bersama. Tujuan dari adanya sumber daya (resources) baik yang bisa diperbarui atau tidak, adalah untuk kesinambungan kehidupan manusia. Syaikh Ali Jum’ah, dalam karyanya al-Bi’ah wa al-Hifazh ‘Alayhaa (h. 83-90) bahwa perspektif Islam dalam mengelola sumber daya adalah kerjasama dan kesetaraan atanra sesama manusia. Beliau menjelaskan sekian dalilnya,

Pertama, Surah al-Baqarah [2]: 29

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا …

huwa-lladzii kholaqo lakum maa fi al-ardhi jamii’an …

Dia yang telah menciptakan seluruh yang ada di bumi ini untuk kalian

Semangatnya, menurut Syaikh Ali Jum’ah, ayat ini mendorong manusia untuk saling tolong menolong dalam memanfaatkan sumber daya, termasuk menjaga dan merawatnya. Bahkan, orang muslim punya tanggung jawab lebih besar untuk mendakwahkan prinsip ini dan menjadi contoh bagi yang lain, karena memanfaatkan sumber daya dengan adil adalah bagian dari ajaran agama dan perintah Allah Swt. untuk membangun kemakmuran yang berkesinambungan di muka bumi.

Kedua, surah al-A’raf [7]: 24,

وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ

wa lakum fi al-ardhi mustaqarrun wa matā’un ilā hīn

“…dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.” 

Meskipun ayat ini menggunakan redaksi informatif (khabariyyah), namun ayat ini memiliki pesan bahwa manusia itu ditakdirkan untuk menetap di muka bumi, dan karenanya berhak untuk memanfaatkan sumber dayanya. Dan, setiap orang, dari memanfaatkan sumber daya tersebut, berkewajiban untuk mewujudkan kehidupan yang aman, stabil, dan semua oran harus mendapatkan jatah yang proporsional dalam memanfaatkan sumber daya. Karena itu, manusia tidak diperbolehkan untuk menimbun sumber daya. Yang diperintahkan hanyalah memanfaatkan sumber daya tersebut secukupnya sampai kadar yang cukup untuk makan, sandang, papan, dan kebutuhan-kebutuhan mendasar lain serta hal-hal sekunder yang paling mendasar.

Baca Juga :  Tiga Sikap Mulia Nabi di Hadapan Hidangan

Ketiga, surah Fusshilat [41]: 10,

وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِن فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاءً لِّلسَّائِلِينَ

 Wa ja’ala fīhā rawāsiya min fauqihā wa bāraka fīhā wa qaddara fīhā aqwātahā fī arba’ati ayyām, sawā`al lis-sā`ilīn

Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.

Dalam ayat ini, Allah kembali menegaskan bahwa seluruh sumber daya termasuk bahan pokok seluruhnya ditakdirkan untuk manusia, tanpa terkecuali. Semua yang meminta, semua yang berusaha untuk mencari bahan pokok tersebut, baik mereka beriman atau atau tidak, Allah akan tetap berikan kepada mereka terlepas apapun keyakinannya, meskipun Allah Maha Berkuasa untuk menakdirkan misalnya, memberikan rizkinya pada yang beriman, dan menutup secara total pada mereka yang kafir. Alasannya, kata Syaikh Ali Jum’ah, agar manusia mendatangi-Nya dengan rasa sukarela, atas kehendaknya sendiri, dan penuh cinta, dan bukan karena kebutuhan sesaat sehingga terpaksa menyatakan beriman. Allah tidak menyebabkan ketidakimanan seseorang menjadi penghalang sunnatullah bahwa Allah tidak memilih-milih dalam memberikan sesuatu pada makhluk-Nya.

Keempat, surah al-Qamar [54]: 28,

وَنَبِّئْهُمْ أَنَّ الْمَاءَ قِسْمَةٌ بَيْنَهُمْ ۖ كُلُّ شِرْبٍ مُّحْتَضَرٌ

Wa nabbi`hum annal-mā`a qismatum bainahum, kullu syirbim mutaar

Dan beritakanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu terbagi antara mereka (dengan unta betina itu); tiap-tiap giliran minum dihadiri (oleh yang punya giliran)

Ditinjau dari segi Asbab an-Nuzul, ayat ini bercerita tentang kisah keharusan kaum Tsamud berbagi jatah penggunaan sumber air antara untuk kaum mereka dan untuk unta Nabi Shalih. Namun, Syaikh Ali Jum’ah juga menegaskan bahwa air adalah sumber kehidupan di muka bumi. Maka, wajib semua orang dapat memanfaatkan dan tidak boleh ada yang sampai terhalang bahkan untuk mendapatkan air.

Baca Juga :  Ar-Rumi: Ulama yang Mengunjungi Penguasa Bisa Seperti Sinar Matahari, Jika

Ini juga ditegaskan dalam dalil Kelima, yaitu hadis yang diriwayatkan diantaranya oleh Abu Dawud, Ibn Majah, dan Ahmad dari Abdullah bin ‘Abbas Ra.,

الناس شركاء في ثلاث: الماء، والكلأ، والنار

manusia berkongsi untuk tiga hal: air; tanah kosong; dan air.

Atau riwayat yang bersumber riwayat at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dan Abu Ya’la dalam Musnad-nya,

الخلق عيال الله، وأحبّ عباد الله إلى الله أنفعهم لعياله

makhluk itu keluarga Allah, dan hamba yang paling Allah sukai adalah yang paling bermanfaat untuk (sesama) keluarganya.

Inti dari riwayat bahwa manusia itu berkongsi atau memiliki bersama tiga hal, air, ladang, dan, api bukan berarti semua orang harus mendapatkannya secara sama, tapi semua harus mendapatkan sesuai dengan kebutuhannya.

Hadis diatas juga menjadi landasan bahwa sabda Rasulullah Saw. tersebut menunjukkan posisi beliau sebagai pemimpin bagi masyarakat. Tugas utamanya adalah jangan sampai ada yang menimbun atau memonopoli kebutuhan primer orang banyak untuk kepentingan pribadi. Karenanya, menurut Syaikh ‘Ali Jum’ah, otoritas di suatu wilayah boleh mengeluarkan hukum atau perundangan yang melarang monopoli kebutuhan mendasar kehidupan masyarakat atau melarang hal-hal yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here