Sumbangan Saat Walimah Disebut Hibah atau Hutang?

0
62

BincangSyariah.Com – Sudah maklum bahwa ketika ada hajatan, misalnya hajatan perkawinan/walimah perkawinan atau khitan misalnya, di Indonesia ada tradisi tamu memberikan sumbangan berupa uang di dalam amplop, dan barang lainnya. Apakah sumbangan saat walimah tersebut disebut sebagai hibah murni sehingga tidak perlu mengembalikan, atau disebut sebagai utang sehingga dalam kesempatan hajatan lain waktu harus dikembalikan?

Mengenai sumbangan dan pemberian saat ada hajatan seperti walimah nikah, statusnya bisa menjadi hibah dan bisa pula menjadi utang, tergantung kebiasaan masyarakat setempat. Jika kebiasaan masyarakat setempat tidak ada tuntutan untuk mengembalikan dalam kesempatan hajatan lain waktu, maka sumbangan tersebut berstatus sebagai hibah atau pemberian murni.

Namun sebaliknya, jika kebiasaan masyarakat setempat ada tuntutan untuk dikembalikan dalam kesempatan hajatan lain waktu, maka sumbangan tersebut berstatus sebagai utang. Pihak tuan rumah wajib mengembalikan pada pihak pemberi jika pihak pemberi nantinya mengadakan hajatan atau walimah nikah.

Ini sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Abu Bakar Syatha dalam kitab I’anatut Thalibin berikut;

وَمَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ فِيْ زَمَانِنَا مِنْ دَفْعِ النُّقُوْطِ فِي الْأَفْرَاحِ لِصَاحِبِ الْفَرْحِ فِيْ يَدِهِ أَوْ يَدِ مَأْذُوْنِهِ هَلْ يَكُوْنُ هِبَّةً أَوْ قَرْضًا؟ أَطْلَقَ الثَّانِيَ جمْعٌ وَجَرَى عَلَى الْأَوَّلِ بَعْضُهُمْ..وَجَمَّعَ بَعْضُهُمْ بَيْنَهُمَا بِحَمْلِ الْأَوَّلِ عَلَى مَا إِذَا لَمْ يُعْتَدِ الرُّجُوُعُ وَيَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْأَشْخَاصِ وَالْمِقْدَارِ وَالْبِلَادِ وَالثَّانِيْ عَلَى مَا إِذَا اِعْتِيْدَ وَحَيْثُ عُلِمَ اخْتِلَافٌ تَعَيَّنَ مَا ذُكِرَ

Kebiasaan yang berlaku di zaman kita, yaitu memberikan semacam uang dalam sebuah perayaan, baik secara langsung kepada tuan rumahnya atau kepada wakilnya, apakah semacam itu termasuk ketegori pemberian cuma-cuma atau dikategorikan sebagai utang? Mayoritas ulama memilih mengategorikannya sebagai utang. Namun ulama lain lebih memilih untuk mengkategorikannya sebagai hibah atau pemberian cuma-cum. Dari perbedaan pendapat ini para ulama mencari titik temu dan menggabungkan dua pendapat tersebut dengan kesimpulan bahwa status pemberian itu dihukumi pemberian cuma-cuma apabila kebiasaan di daerah itu tidak menuntut untuk dikembalikan. Ini akan bermacam-macam sesuai dengan keadaan pemberi, jumlah pemberian, dan daerah. Adapun pemberian yang distatuskan sebagai utang apabila memang di daerah tersebut ada kebiasaan untuk mengembalikan. Apabila terjadi praktek pemberian yang berbeda dengan kebiasaan, maka dikembalikan pada motif pihak yang memberikan.

Baca Juga :  Suami Istri yang Baru Masuk Islam, Perlukah Menikah Ulang?

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here