Sulit Ditagih, Bolehkah Mempermalukan Orang yang Berhutang di Medsos?

3
1369

BincangSyariah.Com – Dalam beberapa kasus, orang yang berhutang (debitur) tidak menepati janji pelunasan yang telah disepakati. Tidak menepati tersebut mungkin dilakukan oleh debitur yang mampu melunasi, dan mungkin juga dilakukan oleh debitur yang jatuh miskin.

Prosedur penanganan atas debitur yang mampu namun enggan melunasi hutang menurut fikih adalah, kreditor mengajukan pengaduan ke pengadilan. Setelah itu hakim akan memaksa debitur agar melunasi hutangnya. Jika dia tetap tidak bersedia membayar, maka hakim memenjarakannya karena dia telah melakukan perbuatan zalim, yaitu menunda memberikan hak orang lain dengan tanpa darurat. Jika setelah dipenjara dia tetap tidak bersedia membayar dan dia memiliki aset, maka hakim boleh menjual aset tersebut untuk melunasi hutang.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah pernah menjual harta Muadz untuk melunasi hutang-hutannya. Umar juga pernah menjual harta Usaifi’ kemudian dibagi untuk orang-orang yang menghutanginya.

Terkadang kreditor tidak menggunakan prosedur di atas, dia lebih memilih meluapkan kekesalannya dengan menulis status di media sosial agar dibaca orang banyak. Semisal dia menulis, “Fulan telah berhutang kepada saya, sekarang telah jatuh tempo, tetapi dia tidak segera melunasi, padahal dia mampu dan saya telah berkali-kali menagihnya.” Tujuannya adalah untuk memberi pelajaran agar fulan malu, lekas melunasi dan tidak mengulangi kesalahannya.

Dalam pandangan fikih, menulis keburukan orang lain di media sosial tergolong sebagai perbuatan ghibah (menggunjing). Rasulullah mendefinisikan ghibah dengan, “dzikruka akhaaka bi maa yakrahu” (Engkau menceritakan perihal temanmu, terhadap sesuatu yang tidak dia sukai).

Pada dasarnya hukum ghibah adalah haram, namun dalam kondisi-kondisi tertentu ghibah boleh dilakukan. Imam an-Nawawi dalam Riyadh ash-Shalihin menyebutkan enam macam ghibah yang diperbolehkan, yaitu ghibah untuk mencapai tujuan yang benar dan tidak bertentangan dengan syariat, dan tujuan tersebut tidak bisa sukses kecuali dengan cara ghibah.

Keenam rukhsah ghibah tersebut dinazamkan oleh sebagian ulama,

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Kisah Khaulah binti Tsa'labah (1)

لَقَبٌ وَمُسْتَفْتٍ وَفِسْقٌ ظَاهِرٌ * وَالظُّلْمُ تَحْذِيرٌ مُزِيلُ الْمُنْكَرِ

Julukan, meminta fatwa, perbuatan fasik yang dilakukan terang-terangan, kezaliman, mengingatkan orang lain atas kejelekan seseorang, dan melenyapkan kemungkaran”.

Dari nazam di atas dapat dipahami, diperbolehkan menggunjing orang yang zalim, dan diantara perbuatan zalim adalah menunda pembayaran hutang, sebagaimana sabda Rasulullah Saw. dalam Shahih Bukhari,

مَطْلُ الْغَنِىِّ ظُلْمٌ

Menunda membayar hutang bagi orang kaya adalah kezaliman.” (HR. Bukhari)

Karena kezaliman tersebut, kreditor diperbolehkan membuka aib debitur di hadapan orang lain atau memberi pelajaran kepada dirinya. Rasulullah bersabda:

لَىُّ الْوَاجِدِ يُحِلُّ عُقُوبَتَهُ وَعِرْضَهُ

Penundaan pembayaran hutang yang dilakukan oleh orang yang mampu menghalalkan kehormatan (untuk dighibah) dan hukumannya.” (HR. Bukhari)

Hadis di atas dijelaskan oleh Ibnu Hajar al-Haitami dalam az-Zawajir ‘an Iqtirafil Kabair sebagai berikut:

أَيْ يُبِيحُ أَنْ يُذْكَرَ بَيْنَ النَّاسِ بِالْمَطْلِ وَسُوءِ الْمُعَامَلَةِ لَا غَيْرِهِمَا، إذْ الْمَظْلُومُ لَا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَذْكُرَ ظَالِمَهُ إلَّا بِالنَّوْعِ الَّذِي ظَلَمَهُ بِهِ دُونَ غَيْرِهِ ، وَيُبِيحُ أَيْmeضًا عُقُوبَتَهُ بِالْحَبْسِ وَالضَّرْبِ وَغَيْرِهِمَا .

Diperbolehkan menyebutkan di hadapan orang banyak, bahwa debitur telah enggan melakukan pembayaran hutang dan tidak konsisten dalam bertransaksi. Kreditor tidak boleh menyebutkan aib lain yang ada pada diri debitur, karena orang yang terzalimi tidak boleh menyebutkan kezaliman seseorang, keculi kezaliman yang telah dilakukan atas dirinya. Diperbolehkan pula menghukum orang yang zalim dengan cara memenjarakan, memukul atau yang lain.”

Walaupun diperbolehkan menggunjing orang kaya namun enggan membayar hutang, akan tetapi tidak menggunjing itu lebih baik. Kita bisa menagih dengan cara-cara yang baik dengan mengedepankan akhlakul karimah, sebagaimana disabdakan Rasulullah,

Baca Juga :  Habib Ali al-Jufri: Yang Mengatakan Islam Tersebar dengan Pedang Tidak Memahami Sejarah

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلاً سَمْحًا إِذَا بَاعَ، وَإِذَا اشْتَرَى، وَإِذَا اقْتَضَى

Semoga Allah merahmati seseorang yang bermurah hati ketika menjual, ketika membeli, dan ketika menuntut haknya.” (HR. Bukhari)

Ibnu Hajar dalam Fathul Baari mengatakan, “Ketika menuntut hak hendaknya dilakukan dengan cara-cara yang mudah dan tidak mendesak”.

Kemudian, jika menuliskan keburukan debitur di media sosial tujuannya hanya untuk ta’yir (mempermalukan), menghina atau niat lain yang tidak diizinkan syariat, maka hukumnya adalah haram. Rasulullah bersabda,

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

Barangsiapa mempermalukan temannya sebab dosa (yang telah dia lakukan), maka dia tidak akan mati sebelum melakukan dosa tersebut”. (HR. Turmudzi)

إِذَا زَنَتْ الْأَمَةُ فَتَبَيَّنَ زِنَاهَا فَلْيَجْلِدْهَا وَلَا يُثَرِّبْ

Jika seorang hamba sahaya berzina dan jelas-jelas perzinahannya, maka jilidlah, dan jangan diperolok-olok…” (HR. Bukhari)

Kesimpulannya, masalah di atas sama dengan ketika kita memanggil seseorang dengan nama julukannya, semisal “wahai botak” atau “wahai hitam” atau “wahai pesek”, kalau niatnya adalah untuk memanggil nama julukannya, untuk membedakan dengan orang lain, maka hukumnya adalah boleh. Kalau niatnya adalah untuk ta’yiir (mempermalukan) atau menghina, hukumnya adalah haram.

Jika yang Berhutang dalam Keadaan Miskin

Ketidakmampuan membayar hutang bisa terjadi karena debitur jatuh miskin sehingga tidak memiliki harta untuk melunasi. Dalam kondisi tersebut, kreditor wajib menagguhkan pelunasan dan memperpanjang jatuh tempo atau disunahkan membebaskan sebagian hutang atau keseluruhannya. Allah berfirman dalam surah al-Baqarah [2]: 280,

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai Dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”

Baca Juga :  Bolehkah Memanfaatkan Orang Lain untuk Kepentingan Pribadi?

Dan, dalam hadis Rasulullah Saw. bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ غَرِيمِهِ أَوْ مَحَا عَنْهُ كَانَ فِى ظِلِّ الْعَرْشِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang berhutang atau ia menghapuskan darinya, ia berada dibawah naungan ‘arsy di hari kiamat.” (HR. Ahmad).

Walhasil, sebaiknya kita selalu menggunakan akhlak yang baik dalam menagih hutang baik ketika berhadapan dengan debitur kaya yang enggan membayar hutang atau debitur miskin yang tidak mampu. Dengan akhlakul karimah tersebut, diharapkan Allah akan memaafkan dan memberi kemudahan bagi kita kelak di hari kiamat. Rasulullah Saw. bersabda,

يُؤْتَى بِرَجُلٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ اللَّهُ انْظُرُوا فِى عَمَلِهِ. فَيَقُولُ رَبِّ مَا كُنْتُ أَعْمَلُ خَيْراً غَيْرَ أَنَّهُ كَانَ لِى مَالٌ وَكُنْتُ أُخَالِطُ النَّاسَ فَمَنْ كَانَ مُوسِراً يَسَّرْتُ عَلَيْهِ وَمَنْ كَانَ مُعْسِراً أَنْظَرْتُهُ إِلَى مَيْسَرَةٍ. قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا أَحَقُّ مَنْ يَسَّرَ فَغَفَرَ لَهُ

Seseorang didatangkan pada hari kiamat lalu Allah berfirman: Lihatlah amalnya. Orang itu menjawab: Aku tidak melakukan kebaikan sedikit pun, hanya saja dulu aku punya harta dan aku bergaul dengan orang lain. Orang yang memiliki kemudahan aku perlakukan dengan mudah sementara yang sedang kesusahan aku beri tangguh hingga ia memiliki keleluasaan. Allah ‘azza wajalla berfirman: Aku lebih berhak memberi kemudahan. Lalu Ia mengampuni orang itu.” (HR. Ahmad)

3 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Islam membolehkan utang-piutang antara satu orang dengan lainnya. Bahkan kita sangat dianjurkan untuk memberikan pinjaman kepada saudara atau teman kita yang sangat membutuhkan. Allah akan memberikan pahala kepada orang memberikan pinjaman kepada saudaranya atau temannya yang membutuhkan. (Baca: Sulit Ditagih, Bolehkah Mempermalukan Orang yang Berhutang di Medsos?) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here