Sulaiman Al-Qanuni: Negarawan Muslim Penguasa Tiga Benua

0
121

BincangSyariah.com – Di masa kepemimpinan Sulaiman Al -Qanuni, Dinasti Turki Usmani mencapai puncak kejayaan. Sebagai seorang pimpinan tertinggi, Sulaiman telah mengabdi selama lebih dari empat puluh tahun. Artinya, ia adalah yang paling lama menjabat sebagai pemimpin dalam sejarah Dinasti Turki Usmani. Pada era pendudukannya sederet pencapaian besar telah ia raih, termasuk perluasan wilayah yang telah mencakup tiga benua yaitu Asia, Afrika dan Eropa.

Sebenarnya gesekan antar umat Islam dengan penguasa Eropa sudah terjadi sejak era Khulafaur Rasyidin. Ini terus berlanjut dari masa ke masa, hingga akhirnya benteng terkuat sekaligus ibu kota paling fenomenal Konstantinopel dapat dikuasai umat Islam di era Turki Usmani. Tak ayal, ini membuat para negara adidaya Eropa naik pitam. Bentrok antar kedua kubu pun tak terhindarkan. Di masa Sulaiman, tercatat ada tiga belas perang besar. Dan sepuluh diantaranya berlangsung di Eropa.

Menurut Muhammad Suhail Taqush dalam buku Tarikh Utsmaniyyin, sebelum Sulaiman naik tahta, Kekaisaran Romawi Suci tengah dilanda berbagai permasalahan politik dan masih diupayakan untuk direkonsiliasi kembali. Dalam misi ini, ada dua keluarga yang saling bertempur untuk kembali menggaungkan nama Kekaisaran Romawi Suci. Mereka adalah Francois I raja Prancis dari wangsa Valois dan Karl V raja Spanyol dari wangsa Habsburg.

Kendati bangsa – bangsa Eropa tengah mengalami ujian berat, tapi Karl V mampu kembali mempersatukan Kekaisaran Romawi Suci. Ia mampu mengendalikan Spanyol, Sisilia, Naples, Austria, Jerman, sebagian besar Italia dan beberapa negara di dataran rendah. Untuk mengalahkan dominasi Usmaniah dan menghalau mereka untuk masuk ke Eropa Tengah tentu satu kekuatan saja tidak akan cukup, sehingga pembentukan koalisi ini diharapkan mampu mengabulkan ekspektasi rakyat Kekaisaran Romawi.

Baca Juga :  Etika Menyisir Rambut Kepala dalam Islam

Tahun 1521 M, prajurit Usmani bergerak menuju utara pasca tragedi eksekusi utusan Usamani oleh Louis II raja Hongaria. Tujuannya adalah untuk menguasai Belgrade yang merupakan kunci utama menuju Eropa Tengah.  Dengan kata lain, jika kota ini berhasil ditundukan, jalan menuju Budapest dan Wina akan semakin terbuka lebar. Selain itu, Belgrade juga merupakan benteng terkuat Hongaria di perbatasan Usmani. Melalui tiga komandan perangnya, Sulaiman mampu menaklukan Belgrade setelah pengepungan lebih dari dua bulan. Tiga tahun kemudian Budapest juga sukses diduduki. Selain Budapest kota lainnya di Hongaria yaitu Szigetvar juga berhasil ditundukkan pada tahun 1566 M.

Kemudian tujuan berikutnya adalah pulau Rodos. Rodos adalah pulau dengan perlindungan terkuat di Laut Mediterania, letaknya ada di bagian timur. Kala itu wilayah ini dikuasai oleh Kesatria Santo Yohanes. Mereka berbuat onar dengan membantu perompak dan menghadang rombongan haji umat Islam saat hendak menuju Hijaz. Selain keamanan, pulau ini juga cukup strategis karena menjadi penghubung antara Istanbul dengan negeri – negeri tetangga misalnya Mesir.

Tahun 1522 M, ekspedisi Rodos dimulai. Pasukan Usmani beberapa kali mundur karena kesulitan menembus pertahanan Rodos yang juga dilindungi oleh warga sekitar. Sampai pada akhirnya, Rodos menyerah dan mengajukan sejumlah syarat. Sulaiman menyepakati syarat tersebut. Setelah seluruh syarat disetujui, tahun 1523 M Santo Yohanes  pergi meninggalkan Rodos menuju pulau Kreta, kemudian 8 tahun berikutnya ia sampai di Malta. Dengan begitu, wilayah Rodos dapat diamankan.

Selain Eropa, Turki Usmani menaruh perhatian terhadap Afrika Utara. Disisi lain negara – negara Eropa juga berkonsentrasi pada wilayah yang sama. Tidak bisa dipungkiri bahwa Afrika Utara merupakan wilayah yang sangat strategis. Tak aneh jika banyak negara adidaya yang mencoba keberuntungannya untuk meletakan pengaruhnya di sini.

Baca Juga :  Mengurangi Angka Perceraian yang Semakin Tinggi

Ini berawal pasca bangsa Spayol meruntuhkan kerajaan muslim Granada, konsentrasi mereka tertuju pada Afrika Utara. Sebab wilayah ini menjadi jalur menuju Sisilia si penghasil biji – bijian berkualitas tinggi bagi Eropa. Tahun 1505 M, ratu Isabella menaklukan pelabuhan besar di Aljazair. Selang beberapa tahun kemudian, ia sukses menguasi area pesisir pantai dari Bejaia, Tripoli, Oran hingga Badis. Jelas, markas militer Spanyol di area pesisir Afrika Utara ini tampak berdiri begitu kokoh.

Melihat situasi genting ini, Usmani mengambil langkah cepat. Sultan Salim I ayah Sulaiman berjejaring dengan sisa kekuatan umat Islam Spanyol untuk bekerjasama membebaskan Afrika Utara dari cengkraman Spanyol. Tahun 1516 M, Usmani mendulang kemenangan besar tatkala sukses merebut satu kota di Aljazair dari tangan Spanyol.

Tiga tahun kemudian, masyarakat Aljazair meminta perlindungan kepada Sultan Salman sekaligus menyatakan keinginan mereka untuk bergabung sebagai bagian Turki Usmani. Surat pengajuan pun disampaikan, dan Sultan Salim menyetujuinya. Sejak saat itu, Aljazair secara resmi masuk dalam jajaran Usmani. Hubungan baik ini lalu diwariskan dan dipertahankan di masa Sulaiman Al-Qanuni. Mengingat pihak Eropa masih berseteru karena tidak mengakui bergabungnya Aljazair dalam Dinasti Usmani, duel sengit antar kedua belah pihak terus berlanjut dari masa ke masa.

Di Tunisia, Sulaiman Al-Qanuni juga menancapkan pengaruhnya melalui Khairuddin Al -Ghazi. Menurut Hasan Husni dalam Khulasat Tarikh Tunis pendudukan sebagian wilayah Tunisia diawali oleh keretakan pemerintahan Tunisia yang saat itu dipimpin Dinasti Hafsiyun. Situasi ini tidak disia – siakan Khairuddin, ia mambawa paukannya dari markas utama di Aljazair menuju Tunisia. Sesampainya disana, mereka berhasil menduduki Binzert dan terus memasuki area Tunisia di tahun 1528 M. Hasan Al-Hafsi pimpinan Tunisia kala itu, kabur pasca menduga pasukannya akan dikalahkan.

Baca Juga :  Mengapa Perlu Ada Asuransi? Ini Pandangan Hukum Islam

Sementara di Yaman, Sulaiman mengutus politisi senior, Sulaiman Basya Al-Khadim. Al-Kahdim telah mengabdi sejak dua periode sebelumnya. Berkat kepiawaiannya dalam bidang politik, sejumlah wilayah di Yaman bergabung dalam Kesultanan Turki Usmani. Kemudian Musthafa Basya dipercaya menjadi wakil Usmani sebagai Gubernur Yaman.

Selian terlibat cekcok dengan kerajaan Spanyol dan Portugal, Sulaiman juga berseteru dengan kerajaan Safawi yang bermarkas di Iran. Latar belakangnya adalah Safawi diduga pernah membantu Hongaria saat Sulaiman menggempur Wina. Usmani kemudian menggencarkan agresi militer ke wilayah kekuasan Safawi dan berhasil menarik sederet wilayah penting seperti kota Tabriz dan Baghdad ke dalam pemerintahan Turki Usmani.

Julukan Sulaiman sebagai Al-Qanuni, atau Eropa menyebutnya The Magnificent atau The Great bukanlah tanpa sebab. Selama hidupnya, ia adalah seorang negarawan yang berhasil menyusun sebuah buku aturan perundangan – undangan yang ditetapkan sebagi standar hukum Dinasti Turki Usmani. Tidak hanya menyusun, ia pun dengan tegas menerapkan peraturan tersebut. Hal ini lah yang mendasari kemajuan Turki Usmani hingga mampu tumbuh sebagai negara paling kuat di dunia pada masanya. Setelah kepergian Sulaiman, Turki Usmani mengalami kemunduran hingga runtuh di tahun 1924 M.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here