Sukses Dunia Akhirat ala Rasulullah

0
283

BincangSyariah.Com – Rasulullah dilahirkan dalam keadaan yatim dan dari keluarga miskin. Beliau dibesarkan di lingkungan yang saat itu jauh dari dunia intelektual. Membaca, menulis, menghitung, bukan bagian dari budaya masyarakat Mekkah ketika itu. Namun nyatanya, lingkungan serta latar belakang tersebut tak membuat Rasulullah terperosot dari segi akhlak dan juga karir. Mari kita kupas sukses dunia akhirat ala Rasulullah dalam tulisan ini.

Kondisi sosial masyarakat Mekkah ketika itu sangat terbelakang. Tak ada intelektual, tak ada kultur pendidikan yang baik, tak ada tokoh panutan yang bijak. Yang ada adalah tokoh yang berkuasa, umumnya otoriter, dan mereka menerapkan hukum rimba: yang kuat, dia yang menang.

Maka, kondisi sosial seperti itu tak akan pernah menjadi ladang subur bagi ilmu pengetahuan. Pernah, seorang penyair asal Mekkah bernama Zurrumah yang ketika itu kedapatan sedang menulis, meminta sahabatnya untuk tidak memberitahukan hal itu kepada siapapun. Ia berkata: “Ini adalah aib,”.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah juga pernah menggambarkan kondisi sosial masyarakat Kota Mekkah ketika itu. Rasul bersabda:

انه امة امية لانكتب ولانحسب

Artinya: “Kami (masyarakat Mekkah) adalah umat yang tidak pandai menulis dan tidak pandai berhitung,”

Namun begitu, hadis tersebut bukan berarti menjelaskan tak ada sama sekali masyarakat Mekkah yang dapat membaca dan menulis. Sebagian kecil ada, namun masih sangat jarang. Baginda Rasul merupakan salah satu dari sekian banyak masyarakat Mekkah yang hidup dalam kondisi terbelakang. Pertanyaannya, bagaimana seorang yang ummiy (tidak bisa baca tulis) bisa menjadi pemimpin umat yang mendunia?

  1. Kegigihan

Sejak kecil, Rasulullah dikenal sebagai pribadi yang ulet. Beliau sering menggembalakan domba-domba milik pamannya ataupun menjajakan dagangan orang lain. Kegigihan Rasulullah juga tersirat dari dalil-dalil yang menceritakan perihal penerimaan wahyu pertama. Meski dilanda ketakutan yang luar biasa saat bertemu malaikat Jibril, namun Rasulullah terus gigih menerima wahyu lainnya sambil menjalankan apa-apa yang diperintahkan Allah.

  1. Kejujuran
Baca Juga :  Hukum Mengundang Mantan ke Acara Pernikahan

Kita sudah sering dengar bahwa kejujuran itu tidak ada sekolahnya. Maka jangan kaget mengapa umumnya koruptor bergelar minimal sarjana. Kembali ke poin, Rasulullah dikenal sebagai orang yang amanah. Sejak remaja, sifat amanah tersebut disegani oleh berbagai kaum lintas-agama. Maka tak heran, banyak saudagar yang mempercayakan barang dagangannya kepada Rasulullah.

  1. Kelembutan

Rasulullah bersikap lemah lembut kepada siapapun: musuh, kawan, anak kecil, istri, dan semua relasinya. Padahal ketika itu kultur masyarakat Mekkah sangat keras, sangat primordial, dan tidak kenal kompromi.

  1. Ketegasan

Tegas bukan berarti harus kasar. Itulah yang dilakukan Rasulullah. Rasulullah tegas dalam memutus perkara. Mendahulukan musyawarah dan memohon petunjuk dari Allah. Ketegasan Rasulullah tidak menakutkan, namun menimbulkan perlindungan bagi umatnya.

  1. Rasulullah Terhindar dari Maksiat

Rasulullah bukan pribadi yang gemar merugikan diri sendiri ataupun orang lain. Beliau sejak kecil tidak pernah mau ikut serta dalam lingkungan masyarakat Mekkah yang jahil. Rekam jejak sejak dini inilah yang membentuk kepribadian agung Rasulullah.

Kira-kira, dari ringkasan singkat mengenai sikap Rasulullah inilah kiranya kita dapat mengambil intisari mengapa Rasulullah bisa menuai kesuksesan di dunia dan di akhirat. Mudah-mudahan tulisan singkat ini dapat memacu kita semua untuk terus meniru jejak Rasul bagaimanapun latar belakang yang kita miliki.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here