Suka Cita Lebaran dan Ujian di Tengah Pandemi Corona

1
1523

BincangSyariah.Com- Hari Raya Idul Fitri Tahun 1441 Hijriah sudah tinggal menghitung hari. Bulan suci Ramadhan yang telah dilalui umat muslim, kita harapkan bersama menjadi sebuah momen yang prestisius bagi peningkatan iman dan takwa pada diri pribadi masing-masing.

Hari Raya esok akan kita sambut dengan sedikit berbeda dari momen tahun-tahun sebelumnya. Fenomena wabah Covid-19 yang merebak di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia, seakan-akan menjadi momok yang merubah aktivitas kenormalan seluruh masyarakat. Bagaimana tidak? Seorang pekerja yang sebelumnya bekerja di kantor, sekarang harus bekerja dari rumah. Hingga orang-orang yang masih menggantungkan hidupnya dari kerja harian, harus gulung tikar sementara ini.

Dalam data statistik yang penulis kutip dari laman covid19.go.id, tercatat pada tanggal 14 Mei 2020, angka mengenai warga yang positif tertular Covid-19 mencapai 15.438 yang tersebar di seluruh wilayah tanah air. Provinsi DKI Jakarta menjadi provinsi dengan kasus terbanyak, yakni dengan angka 5.554, disusul Jawa Timur dan Jawa Barat. Dari angka kumulatif tersebut, korban meniggal sudah mencapai 1.028 orang, dengan kurva yang masih cenderung naik.

Momen Peningkatan Takwa dan Ampunan Allah

Hari Raya Idul Fitri sebagaimana yang diungkap oleh Syaikh Abdul Hamid al Quds (w.1334 H) dalam kitabnya Kanzun Najah wa as Surur, adalah sebuah fenomena dimana terleburnya dosa-dosa orang yang telah berpuasa (di bulan Ramadhan). Idul Fitri bukan hanya sekedar busana dan penampilan yang baru, namun layaknya harus dibarengi dengan tambahnya ketaatan kepada Allah SWT. Hal ini senada dengan maqalah yang berbunyi,

ليس العيد لمن لبس الجديد، إنما العيد لمن طاعته تزيد

Artinya:

Hari Raya (Idul Fitri) bukan sekedar (tentang) baju yang baru, karena sesungguhnya Hari Raya (Idul Fitri) adalah tentang siapa yang ketaatannya bertambah

Baca Juga :  Mengapa di Dunia Ini Ada Keburukan?

Rasulullah SAW. menyatakan bahwa beramal baik pada hari raya merupakan suatu gudang pahala bagi orang yang melakukannya. Kebaikan seseorang akan dibalas oleh Allah dengan sepuluh pahala setimpal. Hal ini tertuang dalam hadis riwayat Ibn Majah no. 1705 yang berbunyi,

عن ثوبان مولى رسول الله صلى الله عليه وسلم. عن رسول الله صلى الله عليه وسلم. … من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها

Artinya:

Dari Tsauban, pelayan Rasulullah SAW., dari Rasulullah SAW. … “Barangsiapa berbuat satu kebaikan (pada hari raya Idul Fitri), maka ia akan mendapat sepuluh pahala yang semisal

Dalam hadis riwayat Ibn Abbas yang terabadikan dalam Fadho’ilul Auqaat nomor 109, karya al Baihaqi (w. 458 H), diterangkan bahwa saat Allah SWT. mengumpulkan orang mukmin untuk melakukan sholat ‘id, Allah SWT. bertanya kepada para malaikat-Nya mengenai pemberian apa yang sekiranya cukup bagi amal yang dikerjakan hamba-Nya. Para Malaikat pun memberikan jawaban untuk memberikan ganjaran yang setimpal. Allah SWT. menyanggupi kemudian untuk memberikan pengampunan kepada orang-orang mukmin.

Memadu Silaturrahim dan Doa di Langit

Sudah selayaknya seorang mukmin menyambut dengan penuh suka cita dengan adanya momen hari raya Idul Fitri. Kebahagiaan ini berjalan seiring dengan antusiasnya warga muslim dalam menyambut Ramadhan, hingga akhirnya mencapai hari kemenangan pada tanggal 1 Syawal.

Sebagaimana yang lumrah dilakukan masyarakat Indonesia saat lebaran tiba, bagaikan kuah tanpa garam rasanya bila tidak bermaaf-maafan dengan sanak keluarga, tetangga, rekan kerja hingga teman yang jauh. Silaturrahim semacam ini harus terus dilestarikan dengan tetap menimbang berbagai keadaan.

Tak ayal pandemi yang sedang melanda di tahun ini seperti menjadi tabir hitam bagi umat muslim ketika hendak berlebaran. Semula silaturrahim yang amat kental dengan nuansa seperti berjabat dan cium tangan, hingga saling berpelukan seperti menjadi sebuah keharusan. Akan tetapi kebiasaan dan ciri khas tersebut sementara ini harus dihentikan terlebih dahulu. Kita sebagai umat muslim harus menjadi garda terdepan untuk menekan penyebaran wabah covid-19 ini dengan cara mematuhi segala protokol kesehatan dan sosial yang telah diatur oleh pemerintah.

Baca Juga :  Belajar Cara Menghadapi Wabah dari Umar bin Khattab

Hal semacam ini sungguh tidaklah bertentangan dengan syariat agama islam. Nabi SAW. memerintahkan untuk menjaga diri dari wabah yang sedang melanda. Demikian yang juga pernah dirancang oleh para ulama menjadi sebuah kaidah yang berguna untuk mencegah kemudharatan yang lebih besar.

Silaturrahim, setidaknya dalam satu dekade terakhir, sudah memasuki moda yang sangat maju dan mudah. Fenomena ini tidak lain karena kemajuan teknologi yang makin canggih. Sehingga silaturrahim di masa wabah seperti ini, sementara bisa dilakukan via daring (online) melalui berbagai platform yang ada. Sekarang yang dirasa paling penting yakni hubungan sosial yang tetap terjalin dalam rangka hari raya, tanpa menimbulkan dampak negatif yang dapat membahayakan keamanan jiwa orang yang kita sayangi. Dengan demikian, doa-doa kita senantiasa akan saling bertemu dan memadu di atas langit.

Wallahu A’lam bi as Showaab

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here