Sufi Sirru as-Saqthi: Dilarang Berbahagia di Atas Penderitaan Orang Lain

0
4839

BincangSyariah.Com – Di tengah maraknya musibah dan pandemi global seperti saat ini, sudah sepatutnya bagi kita untuk menebar empati kepada orang-orang yang terdampak secara langsung. Tindakan-tindakan yang berpotensi untuk menimbulkan anggapan terhadap ketidakpedulian kita kepada mereka harus dikurangi semaksimal mungkin, apalagi sampai menertawakan mereka yang dilanda musibah. Sebab tertawa atau bahagia di atas penderitaan orang lain merupakan sesuatu yang sangat dikecam dalam Islam.

Asy-Syamaatah adalah kata yang digunakan Nabi Muhammad Saw untuk mengistilahkan sikap berbahagia di atas penderitaan orang lain. Dalam hadits riwayat at-Tirmidzi, Rasulullah Saw mengecam orang yang menampakkan sikap asy-syamaatah:

لَاتظهرِ الشَّماتَةَ لأخيك فيرحمُه اللهُ ويبتليكَ

“Janganlah kau tunjukkan kebahagiaan atas penderitaan yang menimpa saudaramu. (Jika kau lakukan itu) Allah akan mengasihinya dan akan memberikan musibah kepadamu.”

Menampakkan asy-syamaatah terhadap orang-orang yang terkena musibah mampu menambah penderitaan mereka sekaligus menjadi indikator matinya hati kita. Sekiranya kita tidak mampu memberikan dukungan, baik moril maupun materil, kepada saudara kita yang tertimpa musibah, alangkah bijaksana jika kita menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan yang mampu menambah beban penderitaan mereka.

Dalam kitab ar-Risalah al-Qusyairiyah, Syaikh Abdul Karim ibn Huzan an-Naisaburi (986-1074 M) menuliskan kisah mengenai kehati-hatian sikap yang ditunjukkan oleh Sirru as-Saqthi terhadap musibah yang diderita oleh kaum muslim,

وقال : منذ ثلاثين سنة وأنا في الاستغفارمن قولي : الحمد لله مرة، وقيل : وكيف ذلك ؟ قال : وقع حريق ببغداد، فاستقبلني رجل، فقال لي : نجا حانوتك، فقلت : الحمد لله، فمنذ ثلاثين سنة أنا نادم على ما قلت، حيث أردت لنفسي خيرا مما حصل للمسلمين.

Sirru as-Saqthi berkata: “Selama 30 tahun aku memohon ampunan (membaca istighfar) karena mengucapkan alhamdulillah satu kali.” Ada yang bertanya: “kenapa memang?” Sirri as-Saqathi berkata: “Pernah di Baghdad ada kebakaran. Lalu ada seorang menemuiku lalu bertanya, “toko anda tidak terbakat?” Saya menjawab: “Alhamdulillah, enggak.” Sejak saat itu aku menyesali ucapanku karena yang lebih baik dari muslim yang lain.”

Kisah Sirru as-Saqthi di atas menegaskan bahwa asy-syamaatah sangat berbahaya. Sirru as-Saqthi yang tidak menampakkan kebahagiaannya kepada khalayak ramai karena tokonya selamat saja merasa musti memohon ampun selama 30 tahun akibat ucapan alhamdulillah yang terlontar sekali. Lantas bagaimana jika kita terang-terangan mengumbar kebahagiaan apalagi menertawakan musibah yang sedang melanda saudara-saudara kita? Semoga kita senantiasa dijauhkan dari sikap asy-syamaatah dan segala musibah yang sedang melanda segera diangkat oleh Allah Swt. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here