Sudah Shalat Tapi Tetap Bermaksiat? Ini Penjelasan Ulama

0
626

BincangSyariah.Com – Sebagaimana yang sering kita dengar, bahwa sholat itu dapat mencegah pada perbuatan keji dan mungkar. Hal ini di dasarkan pada firman Allah SWT pada surat al-Ankabut [29]: 45,

اِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Sesungguhnya Sholat dapat mencegah pada perbuatan keji dan mungkar. (QS. Al-Angkabut : 45).

Akan tetapi, masih banyak ditemui orang-orang yang sudah melaksanakan shalat tapi tetap bermaksiat hingga berlaku keji dan mungkar. Padahal, secara kasat mata mereka adalah orang-orang yang melakukan shalat. Mengapa itu bisa terjadinya, apakah shalatnya yang tidak berdampak atau memang pelakunya tidak tepat dalam pelaksanaan shalatnya?

Secara akidah, kita meyakini bahwa al-Quran adalah kalamullah yang tidak diragukan lagi kebenarannya. Jadi, jawaban sholat adalah faktor yang tidak memiliki efek dalam mencegah perbuatan manusia melakukan keji dan mungkar tidak bisa dibenarkan. Yang jelas, pelaku sholat (musholli) lah yang patut dipertanyakan kualitas sholatnya.

Dalam hal ini, Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali tak luput membahas permasalahan ini dalam masterpiece-nya, Ihya’ Ulumiddin (h. 159-160, cet. Imarotullah, Surabaya). Imam Al-Ghazali mengawalinya dengan mengutip sabda Nabi Muhammad SAW.:

مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلَاتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ اِلاَّ بُعْدًا

Barangsiapa yang sholatnya tidak mencegah kepada perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak akan bertambah dekat pada Allah kecuali semakin jauh.

Lalu, Imam Al-Ghazali melajutkannya dengan lafaz berikut,

وَصَلاَةُ الْغَافِلِ لاَ تَمْنَعُ مِنَ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Sholatnya orang yang lalai itu tidak dapat mencegah pada perbuatan keji dan mungkar.

Sampai disini jelas, duduk perkaranya adalah pada orang yang sholat dalam keadaan lalai. Imam Al-Ghazali sangat mengkhawatirkan orang yang seperti ini. Semisal pada hadits nabi Muhammad lainnya yang ia kutip di dalam Ihya’,

Baca Juga :  Telaah Hadis: Apa Maksud Hadis Istri Sujud Kepada Suami ?

كَمْ مِنْ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صَلاَتِهِ التَّعَبُ وَالنَّصَبُ

Betapa banyak orang yang qiyam (mengerjakan sholat) yang ia mendapat bagian dari sholatnya (hanya) capek dan lelah (saja).

Imam Al-Ghazali lalu menjelaskan siapa yang dimaksud orang yang sholat akan tetapi hanya mendapatkan capek dan lelahnya saja,

وَمَااَرَادَ بِهِ اِلاَّ الْغَافِلُ

tidaklah orang yang dimaksud dalam hadits tersebut melainkan orang yang lalai.

Dalam hal ini, Imam Al-Ghazali sangat memperhatikan aspek kehadiran hati atau kekhusyukan dalam melaksanakan shalat. Bahkan, beliau mensyaratkan kekhusyukan sholat sebagai syarat batin diterimanya sholat seorang hamba. Karena, seseorang mendapat pahala sholat sesuai dengan kadar hamba tersebut khusyuk dalam sholat. Lagi-lagi, beliau menyitir dari hadits nabi Muhammad sebagai berikut :

 لَيْسَ لِلْعَبْدِ مِنْ صَلاَتِهِ إِلَّا مَاعُقِل مِنْهَا

Seorang hamba tidak mendapat (pahala) kecuali sesuatu yang apa-apa yang dirasionalkan (yang ia hadir) di dalam sholat.

Demikianlah, pentingnya kehusyukan hati saat melaksanakan sholat. Dengan hati yang khusyuk, berarti kita betul-betul isi dari sholat tersebut. Dengannya, insyaallah sholat yang kita kerjakan akan memberikan dampak atau efek pada pelakunya sehingga dapat mencegah untuk berbuat keji dan mungkar.

Sekian Terima kasih. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here