Sudah Mandi Junub di Hari Jumat, Apakah Masih Sunnah Mandi Jumat?

3
1573

BincangSyariah.Com – Pada hari Jumat, sejak terbit fajar hingga sebelum berangkat shalat Jumat, kita disunnahkan mandi Jumat terlebih dahulu. Dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa waktu terbaik mandi Jumat ini adalah ketika kita hendak mandi Jumat. Namun bagaimana jika kita di waktu pagi sudah mandi junub, apakah kita tetap disunnahkan mandi Jumat sebelum berangkat melaksanakan shalat Jumat di masjid? (Baca: Hadis-hadis Keutamaan Hari Jumat)

Dalam kitab Hasyiatul Bajuri, Syaikh Ibrahim Al-Bajuri menyebutkan bahwa waktu paling utama melakukan mandi Jumat adalah sebelum berangkat melaksanakan shalat Jumat di masjid. Hal ini agar setelah sampai di masjid tidak ada bau tak sedap yang menempel di tubuh. Beliau berkata sebagai berikut;

وتقريبه من ذهابه أفضل لأنه أبلغ في المقصود من انتفاء الرائحة الكريهة حال الاجتماع

Beredekatannya mandi Jumat menuju ke masjid itu lebih utama, karena hal tersebut lebih mengena pada tujuan mandi tersebut, yaitu menghilangkan bau tak sedap ketika berkumpul dengan jemaah di masjid.

Adapun mengenai kesunnahan mandi Jumat setelah mandi junub di waktu pagi, maka terdapat tiga pendapat ulama dalam masalah ini. Ketiga pendapat tersebut sebagai berikut;

Pertama, jika kita sudah mandi junub di waktu pagi, maka kita sudah mendapatkan kesunnahan mandi Jumat. Hal ini karena mandi junub dan mandi Jumat boleh digabung dalam satu mandi saja asalkan dilakukan setelah terbit fajar sampai sebelum berangkat melaksanakan shalat Jumat. Ini adalah pendapat kebanyakan ulama, di antaranya Ibnu Umar, Imam Malik, Imam Syafii dan lainnya.

Kedua, meski sudah mandi junub di pagi hari, tetap dianjurkan untuk melakukan mandi Jumat yang lain. Ini adalah pendapat sahabat Abu Qatadah.

Baca Juga :  Mimpi Basah Tanpa Keluar Mani, Apakah Wajib Mandi?

Ketiga, disunnahkan mandi Jumat meskipun sudah mandi junub. Hal ini karena mandi junub tidak bisa mencukupi dan mewakili kesunnahan mandi Jumat. Ini adalah pendapat sebagian ulama Dhahiriyah.

Penjelasan ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu berikut;

قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ أَكْثَرُ الْعُلَمَاءِ يَقُولُونَ يُجْزِئُ غُسْلٌ وَاحِدٌ عَنْ الْجَنَابَةِ وَالْجُمُعَةِ وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ عُمَرَ وَمُجَاهِدٍ ومكحول ومالك والثوري والاوزاعي والشافعي وأبو ثور وقال احمد ارجوا أَنْ يُجْزِئَهُ وَقَالَ أَبُو قَتَادَةَ الصَّحَابِيُّ لِمَنْ اغْتَسَلَ لِلْجَنَابَةِ أَعِدْ غُسْلًا لِلْجُمُعَةِ وَقَالَ بَعْضُ الظَّاهِرِيَّةِ لَا يُجْزِئُهُ

Ibnu Al-Mundzir berkata; Kebanyakan ulama berpendapat bahwa cukup mandi sekali saja untuk mandi junub dan mandi Jumat. Ini pendapat Ibnu Umar, Mujahid, Makhul, Imam Malik, Imam Al-Tsauri, Al-Auzai, Imam Syafii dan Abu Tsaur. Imam Ahmad berkata; Aku berharap hal itu mencukupi. Sahabat Abu Qatadah berkata; Bagi orang yang mandi junub, maka hendaknya dia mengulang mandi untuk Jumat. Sebagian ulama Dhahiriyah berkata; Hal itu tidak mencukupi.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here