Sudah Ihram, Tapi Gagal Melanjutkan Rangkaian Umrah Akibat Wabah Corona, Apakah Wajib Mengulang Umrah?

1
1467

BincangSyariah.Com – Ditolaknya para jamaah umrah dari 22 negara masuk ke kota suci Mekah untuk melaksanakan aktivitas ibadah umrah baru-baru ini, menyisakan sedikit dilema bagi para peserta jamaah. Dilema itu antara lain: bagaimana dengan mereka yang sudah terlanjur memakai pakaian ihram dan sudah berniat umrah, namun gagal melanjutkan rangkaian umrah?

Setidaknya, kondisi jamaah yang sudah berpakaian ihram ini bisa dipetakan menjadi 2, yaitu: a) mereka yang sudah melewati miqat, berpakaian ihram dan sudah berniat umrah (talabbus), dan b) mereka yang belum melewati miqat, namun sudah berpakaian ihram akan tetapi belum berniat melakukan rangkaian ibadah umrah.

Perlu diketahui bahwa miqat itu dibedakan menjadi dua, yaitu miqat zamani dan miqat makani. Untuk miqat zamani, bagi peserta jamaah umrah adalah semua waktu dalam satu tahun, selagi memungkinkan untuk melakukan umrah, maka waktu di mana ia hendak berangkat itu adalah sudah masuk kategori miqat zamani.

فالميقات الزماني بِالنِّسْبَةِ إِلَى الْحَج شَوَّال وَذُو الْقعدَة وَعشر لَيَال من ذِي الْحجَّة آخرهَا لَيْلَة النَّحْر على الصَّحِيح وَأما الْعمرَة فَجَمِيع السّنة وَقت لَهَا وَلَا تكره فِي وَقت مِنْهَا وَلَو أحرم بِالْحَجِّ فِي غير أشهره لم ينْعَقد حجا وانعقد عمره على الْمَذْهَب

“Miqat zamani dikaitkan dengan rangkaian haji adalah bulan Syawwal, Dzul Qa’dah, 10 malam dari Bulan Dzulhijjah, dan waktu terakhir dari miqat zamani adalah malam hari nahar (malam tanggal 10 Dzulhijjah). Adapun miqat umrah, maka semua waktu dalam satu tahun adalah termasuk miqat zamani. Tidak ada kemakruhan mengambil waktu kapan saja untuk umrah dari tahun itu. namun untuk haji, jika ada seseorang sudah berpakaian ihram di bulan-bulan selain bulan ditetapkan, maka niat ihramnya tidak sah, selain daripada niat umrahnya semata menurut pendapat Imam Syafii.” (Kifayatul Akhyar, Juz 1, halaman 216)

Meski seseorang sudah boleh mengenakan pakaian ihram, dalam miqat zamany, akan tetapi awal dari rangkaian ibadah umrah adalah dihitung semenjak orang tersebut memasuki miqat makani, yaitu miqat berbasis tempat. Untuk jamaah asal Indonesia, umumnya adalah lewat miqat Bir Ali (Dzul Hulaifah). Dari miqat makani ini, para jamaah mulai “berniat” melakukan rangkaian ibadah umrah dan haji.

Ketika sudah “talabbus” (terlanjur) berniat melakukan ibadah umrah dan haji, maka hukum asal yang bersifat mengikat (luzum) bagi peserta jamaah, adalah tidak boleh membatalkan rangkaian ibadah haji dan umrah yang akan dilaksanakannya. Sebagaimana hal ini juga berlaku untuk sholat, membatalkan sholat yang sudah dilaksanakan (talabbus fi al-sholah) hukumnya adalah haram.

Di dalam Al-Qur’an, perintah larangan membatalkan ini disampaikan secara tersirat dari perintah menyempurnakan. Allah SWT secara tegas telah berfirman:

Baca Juga :  Kemenag Terbitkan Regulasi Umrah di Masa Pandemi

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ

“Sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), (sehingga tidak bisa melanjutkan haji atau umrah) maka (sembelihlah) korban”. (QS. al-Baqarah [2]: 196).

Tidak bolehnya membatalkan sholat, khususnya sholat fardlu, namun tidak pada sholat sunnah ketika khawatir tertinggal jama’ah, juga berlaku dalam kondisi sedang darurat. Misalnya, ketika terjadi gempa, maka bagi musholli boleh untuk keluar dari masjid karena khawatir tertimpa reruntuhan, meski keluarnya itu tidak harus dengan membatalkan sholatnya. Saat sudah berada di luar bangunan, dan aman dari bahaya reruntuhan, ia wajib melanjutkan rakaat sholat yang belum dilaksanakan.

Hal yang sama juga berlaku ketika seorang mushalli menemui adanya hewan berbisa di hadapannya, maka boleh baginya membunuh hewan tersebut, tanpa harus keluar dari sholat. Meskipun gerakannya harus berulang-ulang atau banyak. Gerakan yang berulang-ulang dan banyak itu tidak membatalkan sholatnya.

Nah, rukhshah (dispensasi ibadah) di dalam shalat ini juga berlaku dalam rangkaian ibadah yang lain, khususnya jamaah haji atau umrah yang karena kondisi tertentu, terpaksa harus mengurungkan niatnya untuk haji dan umrah ketika ditemui adanya wabah tertentu yang berbahaya.

عن عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رضي الله عنه خَرَجَ إِلَى الشَّأْمِ حَتَّى إِذَا كَانَ بِسَرْغَ لَقِيَهُ أُمَرَاءُ الأَجْنَادِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ وَأَصْحَابُهُ ، فَأَخْبَرُوهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِأَرْضِ الشَّأْمِ ، قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : فَقَالَ عُمَرُ : ادْعُ لِي الْمُهَاجِرِينَ الأَوَّلِينَ فجاء عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ رضي الله عنه، وَكَانَ مُتَغَيِّبًا فِي بَعْضِ حَاجَتِهِ فَقَالَ : إِنَّ عِنْدِي فِي هَذَا عِلْماً ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : (إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَاراً مِنْهُ رواه البخاري ومسلم

“Dari Abdulllah bin Abbas radhiallahu’anhuma sesungguhnya Umar bin Khatab radhiallahu’anhu  pergi menuju negeri Syam. Sampai ketika di tanah Sargha, beliau menjumpai panglima pasukan, yaitu Abu Ubaidah bin Jarrah dan para shahabat. Mereka memberitahukan kepada sahabat Umar ibn Khathab bahwa telah terjadi wabah penyakit di negara Syam.

Ibnu Abbas berkata; Umar berkata: “Panggil para Muhajirin senior menghadapkku! Kemudian datanglah Abdurrahman bin Auf radhiallahu’anhu. Beliau waktu itu tidak hadir karena  suatu keperluan, kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya ada hal yang pernah aku ketahui berkaitan dengan masalah ini. Aku  pernah mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Jika kalian mendengarnya (wabah penyakit) di suatu tempat, maka kalian jangan mendekat kepadanya. Kalau telah terjadi (wabah penyakit) di suatu daerah dan kalian berada di dalamnya, maka jangan kalian keluar lari darinya.” (HR. Bukhari – Muslim) (Baca: Terkait WNI di Wuhan China, Ini Perselisihan Ulama Fikih tentang Evakuasi Korban Wabah Penyakit)

Baca Juga :  Terkait Kasus Rasisme, Ini Teguran Rasulullah Terhadap Sikap Rasis

Hadits di atas menjelaskan mengenai suatu wabah yang tengah melanda di Negeri Syam. Imam Nawawi radliyallahu ‘anhu menjelaskan lebih lanjut bahwa wabah itu adalah tha’un:

وأما الطاعون : فهو قروح تخرج في الجسد، فتكون في المرافق، أو الآباط، أو الأيدي، أو الأصابع، وسائر البدن, ويكون معه ورم، وألَم شديد, وتخرج تلك القروح مع لهيب، ويسودّ ما حواليه، أو يخضر، أو يحمر حمرة بنفسجية، كدرة، ويحصل معه خفقان القلب، والقيء, وأما الوباء : فقال الخليل وغيره : هو الطاعون، وقال : هو كل مرض عام, والصحيح الذي قاله المحققون: أنه مرض الكثيرين من الناس في جهة من الأرض، دون سائر الجهات, ويكون مخالفاً للمعتاد من أمراض في الكثرة، وغيرها, ويكون مرضهم نوعاً واحداً، بخلاف سائر الأوقات؛ فإن أمراضهم فيها مختلفة، قالوا : وكل طاعون وباء، وليس كل وباء طاعوناً, والوباء الذي وقع في الشام في زمن عمر كان طاعوناً, وهو طاعون “عمواس”, وهى قرية معروفة بالشام .

Tha’un adalah nanah yang keluar dari tubuh, terdapat di persendian, ketiak, tangan, jemari  dan diseluruh tubuh, disertai bengkak dan sakit. Keluarnya nanah disertai dengan radang, disekitarnya menjadi gosong (menghitam) atau hijau, merah ungu, keruh, disertai jantung berdebar-debar dan muntah. Pernyataan al-Nawawi ini mendasarkan diri pada keterangan dari Kholil dan lainnya yang mengatakan bahwa wabah itu adalah tha’un. Namun, ada juga ulama yang mengatakan bahwa wabah yang dimaksud dalam hadits itu adalah penyakit yang menggejala secara umum. Yang benar adalah apa yang dikatakan para peneliti, bahwa ia adalah penyakit yang banyak menimpa orang-orang di suatu tempat (epidemi)  dan tidak di tempat lainnya. Kondisinya berbeda dengan penyakit  yang diderita oleh sakit pada umumnya. Karakteristik penyakitnya ditengarai sebagai satu, meski mewabahnya ada beda waktu. Para ulama mengatakan: Semua tha’un adalah wabah, namun tidak semua wabah adalah tha’un. Wabah yang terjadi di Syam pada zaman Umar adalah tha’un, yang dikenal sebagai tha’un Amwas. Disebut demikian karena terjadi pada desa tertentu di Negeri Syam.” (Syarah Muslim li al-Nawawi: 14/204).

Baca Juga :  Jumlah Pasien Corona Meningkat, Mufti Singapura Rilis Fatwa Penghentian Shalat Jumat Selama Dua Minggu

Alhasil, kemudian sahabat Umar mengurungkan pasukan untuk menuju ke wilayah negeri Syam sebagai tindakan antisipasi agar pasukan tidak ikut terjangkiti penyakit tersebut. Tindakan sahabat Umar ibn Khathab ini merupakan bagian dari saddu al-dzari’ah (antisipatif), dan hal itu diperkenankan dalam syariat, seiring adanya perintah ayat:

ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة

“Dan janganlah kamu semua mencampakkan diri kamu semua kepada kebinasaan” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 195)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

إذا كان الوباء – أو الطاعون – في بلد فلا تخرجوا منه ولا تدخلوا إليه

“Jiaka wabah tha’un melanda suatu daerah, maka kalian jangan keluar dan jangan memasuki wilayah epidemi-nya” (HR. Muttafaq ‘alaih)

Berangkat dari sini, maka dibenarkan bagi peserta jamaah umrah untuk mengurungkan niatnya melaksanakan ibadah haji/umrah seiring adanya larangan pemerintah setempat dalam melakukan antisipasi menularnya wabah ke dalam negeri mereka.

Permasalahannya kemudian, bagaimana dengan peserta jama’ah yang sudah terlanjur masuk dan berniat ihram?

Maka dalam hal ini, sebagaimana memetik hikmah dari rukhshah shalat, maka ia menjadi wajib melakukan kembali rangkaian ibadah haji dan umrahnya seiring keharaman pembatalan rangkaian ibadahnya. Sementara untuk yang belum talabbus dalam miqat makany, ada pilihan baginya untuk kembali berangkat atau mengurungkannya. Pendapat yang terkuat adalah pendapat wajibnya ia mengulang kembali rangkaian ibadah umrahnya, seiring hak harta/bekal yang sudah dikumpulkannya untuk keberangkatan.

Namun, apakah hal ini memungkinkan? Jika tidak memungkinkan berangkat sendiri lagi, umumnya keluarga, ahli warisnya, yang berhak menunaikan badalnya. Tapi, hal ini kan ada kaitannya dengan biaya keberangkatan yang berarti harus mengumpulkan dan menabung ulang.

Nah, terkait dengan masalah ini, kita tunggu bagaimana solusi yang diberikan oleh pihak maskapai penerbangan dan pihak jasa/travel umrah. Mungkin atau tidak mengembalikan? Biasanya sih sulit, sebab bagaimanapun juga, pihak jasa dan travel ini sudah keluar biaya untuk pemberangkatan jamaah. Dan semua itu bukan akibat kelalaian pihak jasa, sehingga mereka tidak wajib menanggungnya, melainkan sebatas kemampuan mereka dalam menunaikan tugasnya. Wallahu a’lam bi al-shawab

1 KOMENTAR

  1. […] Simpulan keutamaan shalat sunnah secara urut adalah shalat Idul Adha, shalat Idul Fitri, shalat gerhana matahari, shalat gerhana bulan, shalat sunnah fajar, shalat istisqa, shalat witir, shalat rawatib muakkad, shalat rawatib ghairu muakkad, shalat tarawih, shalat dhuha, shalat dua rakaat tawaf, shalat tahiyyatul masjid, shalat sunnah ihram. (Baca: Sudah Ihram, Tapi Gagal Melanjutkan Rangkaian Umrah Akibat Wabah Corona, Apakah Wajib Mengulang Umra…) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here