Sucikah Benda Najis yang Sudah Kering?

2
893

BincangSyariah.com – Ada anggapan di kalangan masyarakat bahwa benda najis semisal kotoran cicak, atau kotoran kucing yang sudah dalam kondisi kering dihukumi suci, sehingga kita boleh menyentuhnya tanpa perlu menyucikannya terlebih dahulu. Mereka berdalih bahwa bila materi benda najis sudah kering dan sudah hilang baunya, maka sudah tidak menajiskan lagi. Benarkah benda najis yang sudah kering dihukumi suci? (Baca: Membiarkan Najis di Masjid, Apakah Berdosa?)

Dalam fikih mazhab Syafi’i-mazhab yang dianut oleh mayoritas umat Islam Indonesia- disebutkan bahwa zat najis tidak bisa serta merta berubah menjadi benda  suci (istihalah) kecuali dalam tiga kasus saja, sebagaimana yang disebutkan oleh Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam kitab al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (1/212):

وَقَالَ الشَّافِعِيَّةُ: لَا يَطْهُرُ شَيْءٌ مِنَ النَّجَاسَاتِ بِالاِسْتِحَالَةِ إِلَّا ثَلَاثَةَ أَشْيَاءَ: الخَمْرُ مَعَ إِنَائِهَا إِذَا صَارَتْ خَلّاً بِنَفْسِهَا، وَالْجِلْدُ (غَيْرُ جِلْدِ الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيْرِ) الـمُتَنَجِّسُ بِالـْمَوْتِ يَطْهُرُ ظَاهِرُهُ وَبَاطِنُهُ بِالدَّبْغِ، وَمَا صَارَ حَيَوَاناً كَالـمَيْتَةِ إِذَا صَارَتْ دُوْداً لِحُدُوْثِ الحَيَاةِ.

Golongan Syafiiyah berpendapat bahwa benda-benda najis tidak bisa menjadi suci sebab perubahan zat kecuali tiga hal: 1)Khamr dan wadahnya bila berubah menjadi cuka dengan sendirinya,2)Kulit dari bangkai (kecuali anjing & babi) bisa berubah menjadi cara disamak,3)Najis yang berubah menjadi hewan seperti ulat yang berasal dari bangkai”

Jadi benda najis yang sudah kering semisal kotoran cicak tetap berstatus sebagai zat najis yang harus dihilangkan karena tidak termasuk dari tiga hal di atas. Dengan demikian, najis tidak bisa hilang semata-mata karena sudah kering. Lantas, apakah benda yang menyentuh najis kering tersebut otomatis juga menjadi najis (mutanajjis)? Dalam hal ini kaidah fikih yang disebutkan dalam kitab al-Asybah wa al-Nazhair (1/674):

Baca Juga :  Sampai Usia Berapakah Seorang Anak yang Ditinggal Ayahnya Masih Disebut Yatim?

النَّجِسُ إِذَا لَاقَى شَيْئًا طَاهِرًا وَهُمَا جَافَّانِ لَا يُنَجِّسُهُ

Apabila najis bersentuhan dengan barang suci sedangkan keduanya sama-sama kering maka tidak menajiskan barang suci tersebut”

Dari kaidah di atas, dapat disimpulkan bahwa apabila najis  kering mengenai barang suci yang juga dalam keadaan kering, maka benda tersebut tetap berstatus suci sehingga tidak perlu dibasuh. Namun, apabila salah satunya ataupun kedua-duanya  dalam kondisi basah, maka barang suci tersebut berubah status menjadi mutanajjis (terkena najis) sehingga harus dibersihkan dengan air yang suci. Senada dengan ini, dalam kitab Fiqh al-Ibadat ‘ala al-Mazhab asy-Syafi’i (1/181) juga dijelaskan:

إِذَا اتَّصَلَ النَّجِسُ أَوْ الـمُتَنَجِّسُ بِالطَّاهِرِ نُظِرَ:فَإِنْ كَانَا جَافَّيْنِ فَلَا تُؤَثِّرُ النَّجَاسَةُ بِالطَّاهِرِ بِنَاءً عَلَى القَاعِدَةِ الْفِقْهِيَّةِ : الجَافُّ طَاهِرٌ بِلَا خِلَافٍ وَإِنْ كَانَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا رُطَبًا تَنَجَّسَ الطَّاهِرُ بِالآخَرِ

Apabila najis atau mutanajjis (barang yang terkena najis) bertemu dengan barang suci, maka perlu ditinjau: jika keduanya sama-sama kering, maka sifat kenajisan berpengaruh terhadap barang yang suci tersebut (tidak dianggap najis) berdasarkan kaidah fikih:“Benda kering adalah suci tanpa ada perbedaan ulama. Namun apabila salah satunya atau kedua-duanya (barang najis dan barang suci) dalam kondisi basah maka barang sucinya menjadi najis”

Wallahu a’lam.

2 KOMENTAR

  1. permisi, mau bertanya. di depan kamar mandi rumah sy kan ada keset, jadi kalo habis dari kamar mandi lgsg ngeringin kaki pakai itu dng cara di injak-injak. biasanya kalo udh basah, bakal dijemur sampai kering dan di pakai kembali utk jdi keset ( tidak dicuci dahulu dng air, lgsg di jemur begitu saja). yg sy takutkan, di keset itu ada sedikit najis dari air pipis yg menempel dan tdk dicuci terlebih dahulu. apakah keset itu menjadi najis? mohon dijawab ya

  2. […] BincangSyariah.Com – Sudah maklum bahwa air liur anjing, ludahnya, atau cairan lainnya dihukumi najis. Bahkan dihukumi najis mughalladzah atau najis berat yang wajib dibasuh sebanyak tujuh kali basuhan di mana salah satunya dengan debu. Namun bagaimana jika air liur anjing atau cairan lainnya itu sudah kering, apakah tetap najis? (Baca: Sucikah Benda Najis yang Sudah Kering?) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here