Suami Mengajak Bercinta, Bolehkah Istri Melanjutkan Puasa Sunahnya?

2
10390

BincangSyariah.com – Suami adalah pemimpin bagi istri dan anak-anaknya. Allah memberi keutamaan yang besar bagi laki-laki daripada wanita, karena suami berkewajiban memberi nafkah kepada keluarganya.

Suami mempunyai hak atas istrinya yang senantiasa dipelihara. Begitupun sebaliknya. Bagi keduanya, hak dan kewajiban mesti ditaati dan ditunaikan dengan baik. Masing-masing suami dan istri memiliki hak dan kewajiban dalam menjalani bahtera rumah tangga. Meskipun suami memiliki kelebihan terhadap istrinya.

Setelah wali atau orang tua sang istri menyerahkan kepada suaminya, maka kewajiban taat kepada suami menjadi kewajiban tertinggi yang harus dipenuhi istri, setelah kewajiban taatnya kepada Allah dan Rasulullah saw.

Kewajiban istri yang dimaksud itu tak terkecuali dalam hal berhubungan intim, istri harus patuh dan taat kepada suami. Sebagaimana sabda Nabi yang mengatakan bahwa jika istri menolak ajakan suaminya untuk berhubungan dengan tanpa uzur maka ia akan dilaknat oleh malaikat hingga subuh.

Begitu juga saat istri akan melakukan ibadah puasa sunah, seyogyanya si istri meminta izin kepada suaminya. Karena dikhawatirkan jika istri melaksanakan puasa sunah maka kewajibannya sebagai istri akan terbengkalai.

Terlepas dari statusnya sebagai istri, dalam ajaran Islam bagi siapa saja yang telah berniat melakukan puasa sunnah, maka sebaiknya ia menyempurnakan puasanya. Tetapi, ia juga boleh membatalkan puasa sunah. Sebab dalam masalah puasa sunah, ia bisa mengatur dirinya. Berdasarkan dalil di bawah ini:

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ: دَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ هَلْ عِنْدَكُمْ شَىْءٌ. فَقُلْنَا لاَ. قَالَ فَإِنِّى إِذًا صَائِمٌ. ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِىَ لَنَا حَيْسٌ. فَقَالَ أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا. فَأَكَلَ

“Aisyah berkata: Rasulullah bertanya kepadaku: apakah kamu memiliki sesuatu (makanan)? Aku menjawab: tidak ada apa-apa. Beliau bersabda: kalau begitu aku akan melanjutkan puasaku. Lalu beliau keluar. Kemudian kami diberi hadiah, atau seseorang berziarah kepadaku (dengan membawa hadiah). Tatkala Rasulullah pulang, aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, kami diberi hadiah atau ada seseorang yang berziarah kepadaku, dan aku telah menyisakan buatmu. Kemudian beliau bertanya: ‘Apa itu?’ Aku berkata: ‘Haisun’ (sejenis makanan dari kurma, minyak samin dan tepung) beliau berkata: ‘Bawalah kemari, lalu aku menghidangkannya. Kemudian Beliau memakannya dan berkata: ‘Sungguh aku tadi telah berniat untuk puasa.” (HR Muslim, Nasa’i dan lainnya)

Baca Juga :  Cara Mewujudkan Keluarga Sakinah dalam Keluarga Karir

Selanjutnya hadis dari Ummu Hani’, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

الصَّائِمُ الْمُتَطَوِّعُ أَمِيرُ نَفْسِهِ، إِنْ شَاءَ صَامَ، وَإِنْ شَاءَ أَفْطَرَ

“Orang yang melakukan puasa sunah, menjadi penentu dirinya. Jika ingin melanjutkan, dia bisa melanjutkan, dan jika dia ingin membatalkan, diperbolehkan.” (HR Ahmad, Turmudzi, dan disahihkan al-Albani)

Imam Nawawi berkata: “Bagi Imam Syafi’idan para ulama yang sependapat dengannya, dalam riwayat yang kedua terdapat dalil yang jelas, bahwa puasa nafilah (sunah) boleh dibatalkan, dan makan di tengah hari dan batal puasanya karena ia adalah nafilah. Puasa nafilah ada pada pilihan manusia, baik waktu memulai atau diteruskan atau tidak. Ini merupakan pendapat kebanyakan para sahabat, Imam Ahmad, Ishaq dan yang lainnya. Hanya saja, mereka sepakat bahwa menyempurnakan puasa sunah adalah disunahkan.” (Syarah SahiMuslim)

Maka tidak berdosa apabila seorang sedang puasa sunah, membatalkan puasanya karena suami mengajak istrinya untuk melakukan hubungan intim atau sebaliknya, berdasarkan dalil-dalil di atas. Bahkan lebih utama untuk melayani suami daripada melanjutkan puasa sunah, karena keduanya merupakan ibadah di sisi Allah.

Sebagai penutup dari tulisan yang sederhana ini bahwa memang membatalkan puasa sunah tidak mendapat hukuman. Hanya saja, selayaknya setiap orang yang melakukan ibadah, meskipun itu sunah, agar disempurnakan hingga selesai. Tidak diputus di tengah jalan. Sebagaimana firman Allah dalam surah Muhammad ayat 33:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.” (Q.S. Muhammad: 33)

2 KOMENTAR

  1. Ijin bantu jawab gan..harus di bayar kafaroh 2 bulan puasa berturut turut kalo tidak sanggup bersedekah makanan pokok ke para fakir miskin, walohualam bisawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here