Suami Bekerja Keluar Kota, Ini Batas Waktunya

0
3062

BincangSyariah.com – Suami memang memiliki kewajiban untuk memberikan nafkah kepada keluarganya. Bekerja adalah salah satu jalan yang bisa ia tempuh agar bisa memenuhi kewajibannya itu. Maka, tak heran jika suami lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja daripada berdiam diri di rumah. Apalagi, jika pekerjaan suaminya mengharuskannya pergi ke luar kota. 

Memiliki suami yang sering berada di luar rumah, tentu membuat sang istri juga merasa cemasPasalnya, istri juga membutuhkan suaminya dalam menyambung hidupnya. Terutama dalam mengemban amanah dari Allah yaitu untuk mendidik anak-anak. Istri membutuhkan suami berada di sampingnya.

Maka, sebagai seorang suami harus sadar akan batas waktu bekerja. Jangan sampai, rasa cinta pada pekerjaan membuat lupa akan tanggung jawab terhadap keluarga. Lantas, berapa lama suami boleh meninggalkan istrinya untuk bekerja?

Allah memerintahkan para suami untuk bergaul dengan istrinya sebaik mungkin. Sebagaimana Allah perintahkan para istri untuk menaati suaminya sebaik mungkin. Allah berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Pergaulilah istri kalian dengan cara yang ma’ruf (baik).” (QS an-Nisa’: 19)

Bagian pergaulan yang baik terhadap istri adalah memberi perhatian kepada istri. Karena itu, meninggalkan istri dalam waktu yang cukup lama, termasuk pelanggaran dalam rumah tangga, karena bertentangan dengan perintah untuk mempergauli istri dengan benar.

Meninggalkan Keluarga Karena Uzur

Salah satu uzur (halangan) yang dimaksud adalah mencari nafkah atau karena kebutuhan lainnya. Dalam kondisi suami punya uzur, istri tidak berhak menuntut suami untuk segera pulang atau hak melakukan hubungan badan. Ini merupakan pendapat mazhab Hanbali.

Al-Buhuti menjelaskan:

ولو سافر الزوج عنها لعذر وحاجةٍ سقط حقها من القسم والوطء وإن طال سفره ، للعذر

“Ketika suami melakukan safar (perjalanan) meninggalkan istrinya karena uzur atau ada hajat, maka hak gilir dan hubungan untuk istri menjadi gugur. Meskipun safarnya lama, karena uzur.”

Baca Juga :  Hukum Mendoakan Panjang Umur untuk Teman Non-Muslim yang Berulang Tahun

Namun jika istri keberatan, dia berhak untuk mengajukan cerai. Maka suami berhak untuk melepas istrinya, jika dia merasa tindakannya membahayakan istrinya. Allah berfirman:

وَلا تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَاراً لِتَعْتَدُوا

“Janganlah kamu pertahankan mereka untuk memberi kemudaratan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka.” (Q.S. al-Baqarah: 231)

Jika Tanpa Uzur ?

Suami yang safar meninggalkan keluarga tanpa uzur, istri boleh menuntut untuk segera kembali pulang. Karena ada hak istri yang harus dipenuhi. Para ulama menyimpulkan, batas maksimalnya adalah enam bulan. Jika lebih dari enam bulan, istri punya hak untuk menggugat suaminya ke pengadilan.

Al-Buhuti mengatakan:

وإن لم يكن للمسافر عذر مانع من الرجوع وغاب أكثر من ستة أشهر فطلبت قدومه لزمه ذلك

“Jika suami safar tidak memiliki uzur yang menghalangi dia untuk pulang, sementara dia pergi selama lebih dari enam bulan, lalu istri menuntut agar suaminya segera pulang, maka wajib bagi suami untuk pulang.”

Ibnu Qudamah menyebutkan riwayat dari Imam Ahmad:

وسئل أحمد أي ابن حنبل رحمه الله: كم للرجل أن يغيب عن أهله؟ قال: يروى ستة أشهر

“Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya, “berapa lama seorang suami boleh safar meninggalkan istrinya?” beliau menjawab, “ada riwayat, maksimal enam bulan.”

Ibnu Umar bercerita ketika malam hari Umar berkeliling kota. Tiba-tiba beliau mendengar ada seorang wanita kesepian bersyair. Umar menyadari, wanita ini kesepian karena ditinggal lama suaminya. Dia bersabar dan tetap menjaga kehormatannya. Ketika itu, Umar langsung mendatangi Hafshah, putri beliau, dia berkata:

كَمْ أَكْثَرُ مَا تَصْبِرُ الْمَرْأَةُ عَنْ زَوْجِهَا؟

“Berapa lama seorang wanita sanggup bersabar untuk tidak kumpul dengan suaminya?”

Jawab Hafshah:

“Enam atau empat bulan.”

Baca Juga :  Mencintai Wanita yang Sudah Bersuami, Apa Pandangan Islam?

Lalu Umar memerintahkan suaminya untuk pulang. Dan beliau juga menetapkan, bahwa lama pasukan di lapangan maksimal selama enam bulan. Perjalanan berangkat selama satu bulan, di lokasi perbatasan selama empat bulan dan perjalanan pulang satu bulan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here