Sandal Hilang di Masjid, Bolehkah Pakai Sandal Orang Lain?

0
413

BincangSyariah.Com – Mungkin di antara kita ada yang pernah mengalami kehilangan sandal ketika selesai dari majelis atau perkumpulan lainnya. Kemudian saat melihat sekitar, ternyata ada sandal yang hampir sama dengan sandal kita, atau sandal orang lain yang tak serupa namun setelah ditunggu lama pemiliknya belum jua datang dan tidak ada satupun yang mengakui bahwa itu sandalnya. Bolehkah kita menggunakan sandal tersebut? (Baca: Ini Empat Adab Memakai Sandal dalam Islam)

Untuk menjawab permasalahan sandal ini, kami persilahkan pembaca Bincang Syariah untuk terlebih dahulu menyimak pendapat ulama dalam kitab fikih mereka. Syekh Sulaiman al-Bujairimi mengatakan dalam kitab Hasyiyah al-Bujairimi ‘ala al-Khatib (3/507):

فَرْعٌ مَنْ ضَلَّ نَعْلُهُ فِيْ مَسْجِدٍ وَوَجَدَ غَيْرَهُ لَمْ يَجُزْ لَهُ لُبْسُهُ وَإِنْ كَانَ لِمَنْ أَخَذَ نَعْلَهُ. وَلَهُ فِيْ هَذِهِ الْحَالَةِ بَيْعُهُ وَأَخْذُ قَدْرِ قِيْمَةِ نَعْلِهِ مِنْ ثَمَنِهِ إِنْ عَلِمَ أَنَّهُ لَمِنْ أَخَذَ وَإِلَّا فَهُوَ لُقَطَةٌ

Cabang hukum: orang yang kehilangan sandal di masjid dan menemukan sandal milik orang lain, maka ia tidak boleh memakainya sekalipun sandal tadi milik orang yang mengambil sandalnya. Dalam keadaan ini, ia memiliki hak untuk menjualnya dan mengambil bagian seharga sandalnya (yang hilang) dari hasil penjualannya. Hal ini apabila ia tahu bahwa sandal tersebut milik orang yang mengambil sandalnya. Jika ia tidak  tidak tahu, maka sandal tadi dihukumi sebagai barang luqathah (temuan)

Kemudian Imam Ibnu Hajar berpendapat dalam kitab Tuhfatul Muhtaj (3/3) :

وَمِنَ اللُّقَطَةِ أَنْ تَبَدَّلَ نَعْلُهُ بِغَيْرِهَا فَيَأْخُذُهَا، فَلَا يَحِلُّ لَهُ اسْتِعْمَالُهَا إِلَّا بَعْدَ تَعْرِيْضِهَا بِشَرْطِهِ أَوْ تَحَقُّقِ إِعْرَاضِ المـَالِكِ عَنْهَا. فَإِنْ عَلِمَ أَنَّ صَاحِبَهَا تَعَمَّدَ أَخْذَ نَعْلِهِ جَازَ لَهُ بَيْعُهَا ظَفْرًا بِشَرْطِهِ. وَأَجْمَعُوْا عَلَى جَوَازِ أَخْذِ اللُّقَطَةِ فِيْ الجُمْلَةِ لِأَحَادِيْثَ فِيْهَا.

“Yang termasuk barang temuan adalah sandal seseorang yang tertukar dengan sandal lainnya, kemudian ia memakainya. Maka bagi orang tersebut tidak halal untuk memakainya kecuali setelah mengumumkannya (sesuai) dengan syaratnya, atau setelah nyata bahwa pemiliknya tidak lagi memperdulikannya. Bila dia tahu bahwa pemiliknya sengaja mengambil sandalnya, maka dia boleh menjualnya sebagai perolehan (sesuai) dengan syaratnya. Para ulama telah sepakat atas kebolehan mengambil barang temuan karena terdapat hadits-hadits tentangnya.

Dari dua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa orang yang kehilangan sandalnya dan menemukan sandal lainnya setidaknya berada dalam dua keadaan:

Pertama, ia  mengetahui bahwa sandal yang tertinggal tadi milik orang yang mengambil sandalnya. Dalam hal ini ia boleh mengambil sandal tadi, namun tidak boleh memakainya. Ia juga boleh menjual sandal tersebut dan berhak mengambil bagian dari hasil penjualannya sesuai harga sandalnya yang hilang. Jika hasil penjualannya kurang dari harga sandal yang hilang, maka sisanya menjadi tanggungan yang sia-sia. Namun bila ada kelebihan hasil penjualan, maka ia harus menyimpannya atau menyedekahkannya.

Kedua, ia tidak mengetahui atau ragu bahwa sandal yang tertinggal tadi milik orang yang mengambil sandalnya. Jika ia menduga kuat bahwa sandal tersebut sudah tidak lagi dihiraukan oleh pemiliknya (mu’radh ‘anhu), maka ia boleh mengambil dan memakainya. Sebab sandal tersebut tergolong barang yang terlepas dari kepemilikan pemilik.

Namun bila tidak ada dugaan kuat bahwa sandal tersebut sudah tidak dihiraukan oleh pemiliknya, maka berlaku hukum luqathah (barang temuan). Bila ia ingin mengamankannya, ia wajib mengumumkannya selama satu tahun. Cara pengumumannya bisa dilakukan lewat pamflet, medsos, atau di ruang publik. Bila sudah satu tahun tidak kunjung ditemukan pemiliknya, maka penemu tersebut boleh memilikinya. Ia juga boleh memakainya secara pribadi atau menyedekahkannya.

‘ala kulli hal, pendapat ulama fikih di atas merupakan implementasi dari sikap kehati-hatian agar kita memelihara diri dari mengambil harta benda milik sesame dengan batil, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Q.S. Al-Baqarah (1/188):

وَلَا تَأْكُلُوْا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ  وَتُدْلُوْا بِهَا إِلَى الحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil  dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui”

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here