Status Harta Mata Uang Virtual Emas (XAU) Gold Trading Forex dalam Pandangan Hukum Islam

0
42

BincangSyariah.Com – Pada tulisan terdahulu, kita sudah meneliti dan membuktikan, bahwa mata uang virtual emas dengan simbol XAU pada Gold Trading merupakan mata uang yang secara matematis, benar-benar memiliki underlying asset (aset yang mendasari). Oleh karenanya, keberadaannya merupakan yang sah dipandang sebagai harta. Dan ini sudah fix.

Bagaimana statusnya menurut hukum positif negara? Untuk menjawab hal ini, peneliti sendiri hanya bisa menangkapnya berdasarkan indikasi (madhinnah) saja, yaitu Gold Trading tersebut dipasarkan dalam pasar berjangka komoditi yang selanjutnya dikenal dengan istilah trading forex saja. Dan setiap perdagangan berjangka resmi (legal) yang dilakukan di Indonesia, senantiasa mendapatkan pengawasan dan rekomendasi dari Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi).

Alhasil, kita tidak perlu lagi mempertanyakan / mengkhawatirkan masalah ada atau tidaknya aset fisik. Sebab, jika Bappebti sudah merekomendasikan, itu tandanya telah lolos dari verifikasi.

Selanjutnya, yang penting untuk kita ketahui sebagai pegiat kajian muamalah, adalah bahwa transaksi dalam Gold Trading ini meniscayakan berlangsungnya transaksi adalah tidak sebagaimana kita membeli emas di pasar tradisional.

Pembelian emas di pasar tradisional, meniscayakan kita secara langsung: 1) berhadapan dengan fisik barang, 2) berada dalam satu majelis akad dengan penjual, 3) bisa terjadi secara langsung serah terima antara harga dan barang, sehingga 4) khiyar yang berlaku adalah khiyar majelis.

Khiyar adalah opsi untuk melanjutkan atau membatalkan akad yang sudah terjadi. Penyebab adanya khiyar adalah ditemuinya barang tidak sebagaimana yang dikehendaki pembeli, atau sebab adanya cacat (aib) pada barang yang dibeli.

Nah konsep barang pada transaksi Gold Trading ini, pihak trader (pembeli) hanya mendapati besaran harga atas suatu komoditas mata uang emas yang diberi label XAU. Untuk ukuran dan kadarnya, sudah kita kalkulasi sebelumnya yaitu ditetapkan berdasarkan takaran Troy. Adapun kursnya, bersifat fleksibel, yaitu bisa dengan USD, IDR, EUR, atau bahkan AUD. Alhasil, koin XAU ini, benar-benar merupakan koin digital berbasis emas.

Pertanyaannya, termasuk harta apakah XAU ini?

Jika menilik dari keberadaan XAU ini yang berjamin emas, maka tak ubahnya bahwa XAU ini adalah ibarat sebuah surat resmi pernyataan kepemilikan harta atau bahkan menyerupai uang kertas berjamin emas.

Pertanyaannya adalah, jika XAU adalah ibarat sebuah surat pernyataan harta berupa kepemilikan atas aset emas, lalu siapa pihak yang berwenang membuat pernyataan itu? Sebab, bagaimanapun juga, mengetahui Siapa pembuat pernyataan itu, adalah bagian dari usaha menjamin keabsahan atas keuntungan yang diperoleh. Tanpa adanya jaminan sahnya keuntungan dan aset yang diperdagangkan, maka suatu praktek muamalah jual beli bisa ditengarai sebagai fasidah (rusak).

Untuk di Indonesia, berdasarkan aturan perundangan pasar modal, dapat diketahui bahwa pihak yang berperan selaku penjamin emisi suatu efek, adalah dimainkan oleh jajaran PPE yang seluruhnya ada dalam mekanisme pengawasan Bappebti. Alhasil, XAU sah berkedudukan sebagai harta.

Termasuk Jenis apakah harta XAU ini?

Dalam konteks ini, kita harus ingat kembali bahwa XAU diterbitkan dalam bentuk satuan mata uang yang “diperjualbelikan” di pasar berjangka. Alhasil, XAU merupakan mabi’ (komoditas).

Sebagai komoditas, maka dalam Islam ada 2 kategori komoditas yang sah diperdagangkan, yaitu: 1) dalam bentuk anun musyahadah (harta fisik), dan 2) syaiun maushuf fi al-dzimmah (harta yang dijamin/utang).

Jika menilik dari karakteristik XAU, yang mana hanya diketahui nilai takarannya terhadap mata uang resmi fisik, maka tak dapat disangkal lagi bahwa XAU adalah termasuk kategori syaiun maushuf fi al-dzimmah (harta yang dijamin / utang). Alhasil, XAU adalah mal duyun. Bagi pemegangnya (pembelinya), maka baginya hak atas emas sejumlah nilai tukar yang berlaku.

Bagaimana dengan status XAU tidak bisa diminta wujud fisik emasnya?

Sebagaimana telah disampaikan dalam tulisan sebelumnya, XAU adalah menyatakan nilai emas yang disimpan. Unit simpanannya ada di setiap Bank Sentral masing-masing suatu negara, dan dijaga oleh Dewan Emas Dunia (Wordl Gold Council).

Lho.. Siapakah Dewan Emas Dunia itu?

Dewan Emas Dunia (Wordl Gold Council) merupakan sebuah organisasi yang anggotanya terdiri dari sejumlah perusahaan pertambangan emas terkemuka di dunia. Keberadaan organisasi ini bersifat membantu para anggotanya untuk melakukan penambangan emas fisik secara bertanggung jawab dan mengembangkan produk Standart Emas Bebas Konflik dunia. Produk Dinar dan Dirham dari Wakala dan PT Aneka Tambang Indonesia, adalah bagian dari yang masuk standart yang ditentukan oleh Dewan Emas Dunia ini.

Di mana Kantor Pusatnya?

Markas dari Dewan Emas Dunia (WGC) ada di London, Inggris Raya. Mereka juga memiliki kantor cabang di Singapura, Cina, Amerika Serikat dan India. Selebihnya, bisa dirujuk ke link resminya di sini.

Alhasil, jika dirunut alurnya, bahwa setiap Bank Sentral suatu negara senantiasa memiliki nilai cadangan emas yang disimpan dan jumlahnya bergantung pada konsistensi yang dimiliki oleh negara masing-masing.

Karena XAU diperdagangkan di pasar berjangka dan diakui di setiap negara, maka secara tidak langsung, ada keterkaitan antara setiap cadangan emas bank sentral masing-masing negara terhadap WGC. Itu sebabnya, penerbitan XAU oleh Dewan Emas Dunia, adalah ibarat sebuah konsensus bersama yang menyepakati sahnya XAU sebagai media tukar yang diperdagangkan (mabi’).

Alhasil, jika terjadi transaksi XAU terhadap mata uang resmi suatu negara (misalnya terhadap IDR, atau USD), maka seolah telah berlaku kesepakatan bahwa telah terjadi pengalihan utang di suatu negara ke negara lain (bai’ ma fi al-dzimmah bi ma fi al-dzimmah). Dalam konteks Madzhab Syafii, akad ini termasuk akad hiwalah. Hukumnya adalah sah sebab li masisi al-hajah (sangat dibutuhkan). Wallhu a’lam bi al-shawab.

Di mana letak hiwalahnya?

IDR yang bisa ditukar dengan XAU, adalah seolah berbunyi bahwa IDR tersebut berjamin XAU (emas). XAU yang ada di Indonesia, maka wujud fisik emasnya ada di Bank Indonesia. XAU yang berlaku di Amerika Serikat, maka wujud fisiknya ada di Bank Sentral Amerika Serikat.

Alhasil, prosedur fikihnya:

  • Seorang trader Indonesia yang membeli XAU dengan USD, maka USD itu merupakan mata uang yang berjamin XAU-nya Amerika
  • Seorang trader Amerika yang membeli XAU dengan IDR, maka IDR merupakan mata uang yang berjamin XAU-nya Indonesia
  • Jika terjadi pertukaran IDR dengan USD, seolah menjadi berbunyi tukar menukar XAU-nya Indonesia dengan XAU-nya Amerika. Di sinilah terjadi hiwalah itu. Hiwalahnya terletak pada pengalihan fisik mata uang IDR dan USD ke Indonesia dari Amerika, atau sebaliknya dari Amerika ke Indonesia.

Wallahu a’lam bi al-shawab

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here