Spirit Literasi Dalam Alquran

0
224

BincangSyariah.Com – Disadari atau tidak, minat dan daya baca umat Islam khususnya di Indonesia sangat memprihatinkan. Mereka lebih mementingkan bertutur, menonton, dan mendengar daripada membaca.

Banjirnya perkembangan teknologi yang ditandai dengan derasnya arus internet dan smartphone  semakin membuat budaya membaca mendapatkan tantangannya.

Mengutip Ali Romdhoni dalam karyanya Alquran dan Literasi, Alquran telah mengetengahkan pentingnya literasi. Argumennya adalah,

Pertama, perintah membaca dan menulis dalam Alquran sendiri

Firman Allah Swt yang tertuang dalam surah al-‘Alaq [96]: 1-5 berikut:

(اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan (1) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2) Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah (3) yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam (4) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (5)”

Ayat di atas menginginkan sebuah perubahan besar untuk suatu masyarakat yang tadinya jauh dari tradisi baca tulis dan dari suatu bangsa yang sangat rendah menjadi bangsa yang paling mulia. Karena jika tidak ada tulisan tentu pengetahuan tidak akan terekam, agama akan sirna dan bangsa belakangan tidak akan pernah mengenal sejarah peradaban umat sebelumnya.

  1. Filosofi iqra’ (perintah membaca)

Perintah membaca sebagai wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad saw. mengindikasikan begitu pentingnya membaca. Sehingga Nabi Muhammad saw. juga diharuskan membaca dalam arti menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui dan lain sebagainya. Membaca menjadi tugas manusia dalam kehidupan dan diharapkan hingga menjadi sebuah kebiasaan dan kebutuhan.

  1. Perintah mencari ilmu pengetahuan dan inspirasi tradisi manajemen
Baca Juga :  Tujuh Wasiat Nabi Saw Kepada Abu Dzar Al-Ghifari

Perintah mencari ilmu pengetahuan selain dari surah al-‘Alaq di atas dapat ditemukan dalam subtansi al-Baqarah [2]: 31, al-A’raf [7]: 179, al-Nisa’ [4}: 9, al-Jumu’ah [62]: 2, al-Mujadalah [58]: 11, al-Nahl [16}: 42, al-Zumar [39]: 9.

Subtansi dari ke semua ayat ini memerintahkan umat manusia untuk menuntut ilmu pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan merupakan syarat utama diraihnya pemahaman untuk mengetahui diri, apa yang mesti dilakukan dan kemana mesti melangkah.

Ilmu pengetahuan dan tulis menulis merupakan suatu hal yang tak dapat dipisahkan sehinga perintah untuk mencari ilmu pengetahuan juga menjadi perintah  untuk mengembangkan budaya tulis menulis. Karena tulisan menjadi sarana bagi ilmu pengetahuan untuk selalu dikembangkan dari generasi ke generasi berikutnya.

Sementara ayat yang berbicara terkait tradisi manajemen dapat ditemukan dalam al-Baqarah [2]: 282 dan al-Nur [24]: 33. Keduanya mengarah pada fungsionalnya tulisan sebagai bukti otentik yang efektif dalam perdagangan demi melindungi hak-hak secara benar.

  1. Penyebutan seperangkat peralatan kegiatan baca-tulis

Alquran juga menyebut seperangkat peralatan kegiatan baca-tulis, seperti, kata midad (tinta), qalam (pena), qirthas (kertas), lauh (batu tulis), raqq (lembaran)  dan shuhuf (helai kertas).

Simpulnya, itu semua menandakan bahwa Alquran hanya ingin menekankan terhadap budaya baca tulis agar betul-betul terbumikan dalam masyarakat. Sehingga, peradaban menjadi maju dan gemilang sebagaimana Allah mengubah peradaban jahiliyah menuju peradaban ilmiah. Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here