Spekulatif dalam Bingkai Tafsir Al-Qur’an

0
37

BincangSyariah.Com – Kita sering menggunakan kata “spekulatif” untuk menterjemahkan makna maisir. Sebenarnya maisir itu apa sih? Kali ini kita akan coba meninjaunya menurut perspektif tafsir.

Di dalam Al-Qur’an, terminologi maisir itu digunakan sebanyak 3 kali, yaitu pada Q.S. Al-Baqarah [2]: 219, Q.S. Al-Maidah [5]: 90 dan 91. Di dalam Qur’an Surat Al-Baqarah [2] ayat 219, Allah SWT berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا ۗ وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan maisir. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 219)

Di dalam ayat di atas, dikabarkan bahwa pada perilaku al-maisir terdapat dosa yang besar dan sebagian di antaranya ada manfaatnya. Akan tetapi, mudharat berupa dosa yang besar ini disematkan sebagai yang digarisbawahi. Maisir disetarakan kedudukannya dengan khamr yang menunjukkan karakteristik mudlarat dan manfaat yang sama.

Di dalam Qur’an Surat Al-Maidah [5] ayat 90-91, Allah SWT mengkhabarkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنْصَابُ وَالأَزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ ۖ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu dari mengerjakan pekerjaan itu! (Q.S. Al-Maidah [5]: 90-91).

Baca Juga :  Pelaku Dosa Besar dalam Mazhab Teologi Islam

Uniknya dari ketiga ayat di atas, kosakata al-maisir selalu disandingkan dengan khamr. Padahal telah disepakati, bahwa ketiga ayat itu merupakan tahapan diharamkannya khamr. Hal itu berarti pula, ketika Allah mengharamkan judi, maka tahapan-tahapan itu juga berlaku atasnya. Alhasil, keharaman khamr dan judi adalah bersifat qath’i karena adanya dalil nash. Oleh karenanya, di dalam fiqih, maisir merupakan illat hukum (variabel hukum). Sementara khamr, illatnya terletak pada sifat muskir (memabukkan) sebab adanya nash berupa sabda Nabi saw. yang menegaskannya.

Karena maisir merupakan illat hukum, maka perlu ditunjukkan perihal indikator-indikator (madhinnah) bahwa suatu perbuatan bisa disebut maisir. Beberapa ahli tafsir menjelaskan mengenai karakteristik maisir tersebut, antara lain sebagai berikut:

Tafsir al-Qurthuby

Al-Qurthuby menjelaskan bahwa al-maisir yang dimaksud oleh ayat-ayat di atas adalah qimaru al-‘arab bi al-azlam, yaitu perjudian orang Arab dengan anak panah. Pendapat ini didasarkan pada penjelasan Ibnu Abbas mengenai sebab turunnya ayat, yaitu:

كان الرجل في الجاهلية يخاطر الرجل على أهله وماله فأيهما قمر صاحبه ذهب بماله وأهله فنزلت الآية

“Ada seorang laki-laki di masa Jahiliyah beradu spekulasi dengan laki-laki lain dengan taruhan berupa keluarga dan hartanya. Siapa-siapa yang keluar undiannya, maka ia berhak membawa pergi harta laki-laki lainnya dan keluarganya. Lalu diturunkanlah Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 219.” (Tafsir al-Qurthuby, halaman 34).

Jika menyimak dari apa yang dinukil oleh Al-Qurthuby di atas, kesimpulan yang bisa diambil adalah Pertama, di dalam maisir memang tersimpan makna spekulatif. Pengertian spekulatif ini berasal dari diksi mukhatharah yang memiliki makna leksikal pengambilan resiko, spekulasi, perbuatan yang mengundang bahaya, petualangan.

Di dalam kitab Ihya’ ulumuddin, Al-Ghazali pernah menyebutkan bahwa “khawathir” diartikan sebagai lintasan-lintasan rasa hati yang memuat unsur kegamangan. Gamang, namun harus memilih dua hal yang sama-sama memiliki resiko, yaitu jika tidak kalah, maka menang. Alhasil, tidak ada peran akal di dalamnya karena ada dalam posisi syak (ragu-ragu) dan tebakan.

Baca Juga :  Bahaya Semangat Kerjakan Amalan Sunah Tapi Tinggalkan Wajib

Kedua, di dalam maisir, terdapat pihak yang menang (ghalaba) dan pihak yang kalah (yughram). Pihak yang menang membawa barang yang dipertaruhkan, sementara pihak yang kalah mengalami kerugian.

Di dalam Tafsir al-Qurthuby dijelaskan bahwa hikmah dari diharamkannya al-maisir adalah karena akibat yang bisa ditimbulkannya berupa mengundang permusuhan dan saling membenci satu sama lain.

إنما يريد أن يوقع العداوة والبغضاء بيننا بسبب الخمر وغيره ، فحذرنا منها ، ونهانا عنها

“Sesungguhnya setan menghendaki terbitnya rasa permusuhan dan saling membenci di antara kita dengan sebab khamr dan selainnya (maisir). Untuk itulah kita diperingatkan dan dilarang melakukannya.” (Al-Qurthuby, Tafsir al-Qurthuby, halaman 123)

Al-Qurthuby dengan menukil pernyataan Ubaidillah ibn Umar, menyampaikan bahwa contoh-contoh perbuatan maisir, adalah sebagai berikut:

سئل القاسم بن محمد عن الشطرنج أهي ميسر ؟ وعن النرد أهو ميسر ؟ فقال : كل ما صد عن ذكر الله وعن الصلاة فهو ميسر . قال أبو عبيد : تأول قوله تعالى : ويصدكم عن ذكر الله وعن الصلاة

“Al-Qasim ibn Muhammad ditanya mengenai permainan catur. Apakah permainan itu termasuk maisir? Demikian juga dengan dadu. Apakah itu termasuk maisir? Al-Qasim menjawab: “Segala sesuatu yang melalaikan dari berdzikir dan sholat adalah maisir. Abu Ubaid mengatakan: Allah SWT telah menjelaskannya dalam firman-Nya: “Dan setan melalaikan kalian dari berdzikir dan sholat.” (Al-Qurthuby, Tafsir al-Qurthuby, halaman 123)

Saat menafsiri Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 219, al-Qurthuby juga menyampaikan penjelasan dari Ibnu Abbas yang kurang lebih maknanya sama dengan di atas, namun sedikit lebih rinci, yaitu:

كل شيء فيه قمار من نرد وشطرنج فهو الميسر ، حتى لعب الصبيان بالجوز والكعاب ، إلا ما أبيح من الرهان في الخيل والقرعة في إفراز الحقوق

Baca Juga :  Hukuman Menuduh Orang Lain Berzina

“Segala sesuatu yang menyimpan makna qimar (judi), seperti dadu dan catur, maka ia adalah maisir, sehingga permainan anak-anak yang menggunakan kacang pohon dan telur, kecuali hadiah yang dipergunakan pada pacuan kuda, serta undian untuk menetapkan suatu haq (misal: mengundi istri mana yang akan diajak pergi).”

Berdasarkan penjelasan ini, hikmah yang didapat adalah bahwa maisir itu menyimpan makna segala perbuatan yang dapat melalaikan hamba dari berdzikir dan sholat. Permainan catur mendapatkan takhshish penjelasan dari para ulama, bahwa catur adalah boleh asalkan tidak menyebabkan lalai dari kewajiban dzikir dan sholat. Keharaman catur jika hal tersebut membuat lali dari sholat. Hal yang sama berlaku untuk hadiah perlombaan pacuan kuda. Meski bermakna undian, ternyata maisir juga diperbolehkan untuk ifrazi al-huquq, yaitu menetapkan 2 hak yang tidak bisa diputuskan secara langsung sehingga membutuhkan qar’ah (mengundi).

Alhasil, menurut perspektif kajian tafsir, suatu perbuatan disebut sebagai maisir dan haram adalah manakala: 1) menyimpan unsur spekulatif semata (terbit dari khawathir) dan bukan dari akal atau hasil usaha dalam perlombaan (sibaq), 2) ada hal yang dipertaruhkan, 3) pihak yang kalah bertaruh, menderita kerugian, 4) dapat menerbitkan permusuhan dan saling benci antar sesama, dan 5) melalaikan dari kewajiban berdzikir dan sholat (contoh: catur dan dadu). Wallahu a’lam bi al-shawab.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here