Sosiologi Hadis; Sebuah Pengantar

0
244

BincangSyariah.Com – Pernahkah kita bertanya-tanya mengapa hadis yang dinilai palsu lebih banyak diterima oleh masyarakat? Mengapa pula sebagian ulama yang cukup senior banyak menyampaikan Hadis yang kualitasnya palsu?

Untuk menjawab pertanyaan ini apakah kita bisa menjawabnya dengan menggunakan ilmu Hadis normatif? Cukupkah kita hanya menjawab dengan hadis “man kazzaba ‘alayya muta’ammidan, fal yatabawwa’ maq’adahu minan nar”? Apakah hal ini cukup memberi jawaban, penulis melihat jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak cukup dijawab dengan ilmu hadis normatif.

Untuk menjawab berbagai pertanyaan di atas diperlukan disimplin ilmu lain. apakah kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan menggunakan living hadis? Melihat dari teori dan penggunaan metode yang digunakan, living hadis hanya berfokus pada matannya saja.

Pertanyaan bagaimana satu hadis (baca: matan) hidup dalam satu tradisi masyarakat. Sehingga kalau pertanyaan itu dijawab dengan disimplin ilmu ini maka tidak akan menemukan jawaban yang tepat.

Diperlukan di siplin ilmu lain untuk menjawab pertanyaan tersebut. ilmu itu disebut dengan Sosiologi Hadis. Sebuah disiplin keilmuan yang mengkaji bagaimana hadis dan hubungannya dengan masyarakat.

Hadis dalam hal ini tidak hanya berfokus pada aspek matan saja, akan tetapi juga masuk dalam aspek sanadnya. Misalnya untuk menjawab pertanyaan di atas, Hadis yang dinilai dhaif lebih diterima masyarakat karena hadis dhaif tersebut sangat berhubungan erat dengan kebiasaan dan motifasi seorang untuk melakukan ibadah.

Apakah ini yang menjadi alasan imam Ghazali membolehkan mengamalkan hadis dhaif untuk ibadah selama hadis itu tidak maudhu’. Asumsi ini bisa dijadikan sebagai dasar untuk menganalisis kebenaran tersebut. Alasan untuk memotivasi seorang melakukan ibadah dapat dijadikan sebagai alasan mengapa hadis yang dinilai doif berkembang.

Baca Juga :  Berapakah Usia Anak Kecil Dianjurkan Berpuasa Ramadhan?

Pertanyaan lainnya yang dapat dianalisis dengan sosiologi hadis adalah ketika kita mempertanyakan bagaimana penyebaran hadis saat ini? bagaimana masyarakat menyikapi hadis? Dan bagaimana proses penyampaian hadis di masyarakat? Motivasi apa yang menyebabkan seorang ulama menyebarkan satu hadis dan cendrung untuk ‘menyembunyikan’ Hadis lain.

Misalnya saja, setiap organisasi Islam menjadikan Alquran dan Hadis sebagai ideologi atau dasar organisasi. Akan tetapi, sampai saat ini kita belum mengetahui bagaimana peran Hadis di organisasi tersebut.

Sejauh apa Hadis Nabi mempengaruhi gerakan satu organasasi dan implementasi program organisasi tersebut hubungannya dengan hadis sebagai asas organisasi. Kita ambil contoh organisasi yang melakukan kekerasan. Bagaimana mereka menginterpretasikan sebuah hadis Nabi saw sehingga muncul gerakan tersebut.

Contoh lain yang dapat dianalisis dengan Sosiologi Hadis adalah bagaimana penyebaran Hadis di Indonesia, melihat dari sanad dan penyebaran gurunya.

Beberapa contoh di atas dan masih banyak pertanyaan lainnya yang apabila menganalisisinya sebatas menggunakan ilmu hadis normatif tidak akan menemukan jawaban yang ideal atas permasalahan tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here