Soal Ucapan Kyai Ma’ruf Amin “Lakum Capresikum wa Lana Capresuna”

1
2018

BincangSyariah.Com – Aktivitas-aktivitas politik sering dipantau oleh masyarakat dan segera dikomentari baik jika disetujui atau tidak. Pelihat pemandangan seperti itu, saya yang sebenarnya tidak terlalu rajin berkomentar, melihatnya sebagai sesuatu yang menarik, lucu, dan terkadang mengkhawatirkan karena sudah menggunakan urat emosi. Kali ini yang muncul adalah emosi.

Emosi itu muncul terhadap ungkapan Calon Wakil Presiden No. 1, K.H. Ma’ruf Amin. Beliau ditanya komentarnya soal kedatangan Prabowo Subianto ke Makam Habib Hasan di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sebagai informasi, Jakarta Utara adalah wilayah tempat Kyai Ma’ruf tinggal. Menanggapi hal ini, Kyai Ma’ruf – seperti dikutip cnnindonesia.com – mengatakan, “Lakum capresikum’ [bagimu capresmu], walana capresuna [bagi kami capres kami] Jadi kita masing-masing saja. Lakum dinukum waliadin bagimu agamamu, bagi kami agama kami.”

Di media sosial, ungkapan lakum capresikum wa lana capresuna ini dianggap sebagai penghinaan karena mengubah ayat terakhir dari surah al-Kafirun dengan ungkapan lain.

Mungkin bagi yang belum mengetahui, ungkapan Kyai Ma’ruf tadi sebenarnya sama sekali bukan Alquran. Beliau menangkap pesan dari ayat terakhir surah al-Kafirun tadi sebagai pentingnya saling menghormati pilihan masing-masing. Jika dalam ayat 6 itu berkaitan dengan masing-masing bertanggungjawab atas agamanya. Tapi, kedua kelompok harus tetap saling menghormati. Maka seyogyanya demikian juga dengan soal pilihan politik. Kira-kira kalau mau positive thinking begitu melihatnya.

Sebagai pelajaran bagi kita, menurut para ahli tafsir, sebab turunnya ayat ini adalah waktu Nabi Saw. berdakwah di Mekkah kaum musyrikin disana memberikan penawaran. Mereka mau menyembah “Tuhan” Muhammad jika Muhammad juga mau menyembah Tuhan mereka. Menurut riwayat Ibn ‘Abbas, mereka menawarkan agar bergantian. Tahun ini menyembah tuhan kaum musyrikin. Tahun depan menyembah “tuhan Muhammad”. Nabi Muhammad Saw. menolak tawaran ini, lalu turunlah enam ayat dari surah al-Kafirun tersebut.

Baca Juga :  Hukum Membaca Rodhiyallaahu ‘Anhu Ketika Mendengar Nama Sahabat Saat Khutbah

Lebih lanjut, apakah ungkapan beliau ini bermakna sedang merubah teks Alquran. Jawabannya tidak sama sekali. Kita perlu mengetahui bahwa dalam tradisi kebahasaan Islam apa yang diucapkan oleh Kyai Ma’ruf ini digolongkan sebagai al-Iqtibas. Iqtibas adalah bagian dari ulasan dalam ilmu gaya bahasa Arab (Balaghah). Para ulama mayoritas mendefinisikan iqtibas sebagai

تضمين المتكلم كلامه – شعراً كان أو نثراً – شيئاً من القرآن ، أو الحديث ، على وجه لا يكون فيه إشعار بأنه من القرآن أو الحديث

seorang pengucap kalimat baik berupa syair atau narasi/prosa menyertakan bagian dari Alquran atau hadis, dengan sudut pandang bahwa apa yang diucapkan tidak ia tegaskan bagian dari Alquran atau hadis. (al-Mawsu’ah al-Fiqhyyah, 6:16-17; Lihat juga: al-Hasyimi, Jawahir al-Balaghah, 338)

Jadi, pada praktiknya iqtibas justru mengambil sebagian redaksi dalam Alquran atau hadis – baik dengan memberikan perubahan sedikit atau tidak merubah sama sekali – untuk menyampaikan ujaran. Para ulama umumnya membolehkan praktik iqtibas ini selama tujuannya tidak dalam rangka menjadikan gurauan sehingga menjadikan Alquran itu menjadi terhina. Bahkan, para ulama membolehkan menggunakan sebagian redaksi Alquran untuk berujar ketika merespon sebuah peristiwa, selama tidak dalam konteks menghina, maka itu diperbolehkan. Model seperti ini juga memiliki nama lain yaitu al-istisyhaad.

Sehingga, ucapan Kyai Ma’ruf lakum capresikum wa lana capresuna tidak dalam konteks merubah ayat Alquran. Karena, beliau menggunakan pola redaksi dalam ayat lakum dinukum wa lii yadin untuk meletakannya dengan kata Capres, yang juga bukan bahasa Arab. Jika bicara tujuan, maka berdasarkan berita-berita yang ada beliau dalam konteks untuk mendinginkan suasana agar perbedaan pilihan politik tidak menyebabkan masyarakat saling memboikot, menghalang-halangi, dan melakukan hal negatif lainnya. Akhiran, semoga kita semua diberikan ketenangan dan kelapangan sebelum berucap dan bertindak, amin. Wallahu A’lam

1 KOMENTAR

  1. Menurutku yang lebih tepat itu mirip dalam ayat 15 surat ke 42. Asy Syura : Lana a’maluna wa lakum a’malukum … pesan yg juga penting itu pada lanjutannya : Laa hujjata bainana wa bainakum

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here